Sketsa

Kita, Lilin-Lilin
Saya tengah begitu gemar menggambarkan diri saya sebagai sebuah lilin. Ya, lilin. Lantas, suatu malam saya mencoba untuk memikirkan tentang lilin, mencari filosofi lilin…
-Ibu, alangkah gelapnya dunia.-
-Tenanglah, Sayang, akan kucarikan pelita.-
-Apakah itu, Ibu? Indah sekali pelita yang kau bawa.-
-Ini lilin, Sayang.-
-Ia berkelap-kelip bercahaya mempesona. Damai, tenang menentramkan. Temaram tak begitu terang nyalanya, tapi tak terkira indahnya. Apakah aku juga indah seperti nyala lilin itu, Ibu?-
-Iya, Sayang. Ia memang temaram, tak kan bisa memecah gulita, tapi ia selalu berharga. Menawan dengan caranya. Tapi, bukankah memang tak ada yang sanggup menghempas segala gulita kecuali cahaya Sang Maha Cahaya? Kau pun indah sepertinya, Sayang. Bahkan lebih indah…-
-Benarkah, Ibu?-
-Tentu saja, Sayang. Kau pun pasti akan menjadi pelita di tengah gulita dunia.-
-Lihat Ibu, angin masuk lewat jendela. Meniup nyalanya hingga condong kian kemari.-
-Iya, Sayang. Kadangkala angin mempermainkannya, hingga ia meliuk condong kesana-kemari. Kadangkala dunia mempermainkan kita, hingga kita goyah dari pendirian kita. Ada yang mati nyalanya, tapi adapula yang bertahan hingga habis minyaknya. Pun dengan manusia, ada yang mati, patah, hancur dalam cobaan hidupnya, tapi ada pula yang tetap bertahan untuk memberikan cahayanya.-
-Tapi, bukankah lilin itu akan habis terbakar sumbunya dan teruap minyaknya, Ibu? Bukankah ia akan meleleh, mencair, dan teruap tak tersisa?-
-Iya, Sayang. Lilin itu memang akan meleleh tak tersisa. Tapi, itu pun seperti kita, seperti manusia, bukan? Seperti lilin yang akan mati ketika telah habis minyaknya, kita pun memiliki batas-batas. Usia yang fana. Kekayaan yang tak seberapa. Apakah usia kita lebih panjang daripada panjang sebatang lilin? Dan apakah kekayaan ita lebih besar daripada minyak yang terbakar dari sebatang lilin? Kita tak pernah tahu. Tapi, ia tak kehilangan apapun ketika berbagi cahaya, bukan? Pun ketika lilin itu akhirnya meleleh, mencair, dan teruap tak tersisa, ia telah memberikan cahaya.-
-Cahaya yang menawan.-
-Jangan pernah meleleh habis sebelum memberi cahaya, Sayang.-
-Takkan, Ibu.-

One thought on “Sketsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s