Catatan

Kata Yang Kabur; Takir, Sudi, dan Pincuk


images

Masih ingat kosakata takir, sudi, atau pincuk? Suatu kali saya terhenyak karena menyadari betapa banyak perbendaharaan kata dari masa kecil saya yang hilang. Kali ini khusus kosakata di bidang kuliner.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, ada yang namanya kenduri. Kenduri adalah acara makan-makan disertai doa bersama yang diadakan saat hajatan atau selamatan. Kenduri dilakukan oleh bapak-bapak, ketika pulang ke rumah biasanya mereka membawa satu wadah nasi lengkap lauk-pauk. Nasi itu disebut sego kenduren alias nasi kenduri.

Sebuah adat istiadat masyarakat sering dilingkupi banyak kosakata lokal. Dalam tradisi kenduri juga demikian. Dulu, -dulu merujuk pada masa ketika saya SD-, orang pulang kenduri membawa nasi kenduri yang dibungkus anyaman daun kelapa. Anyaman daun kelapa dibentuk sedemikian rupa sehingga muat untuk membawa nasi dan lauk pauk, serta pegangan untuk menjinjing. Namanya saya lupa. Otak saya mengingatnya dengan nama bronjong, tapi saya ragu. Saya cari di Google juga tak ada gambar tersebut.

Cekungan buat nasinya kira-kira seukuran pantat anak kecil. Saya ingat benar lantaran dulu bila nasi kenduri sudah habis dimakan, wadah anyaman dari daun kelapanya suka saya jadikan mainan. Saya naik ke atasnya lalu ditarik oleh kawan yang lebih besar. Hahaha.

Sekarang, orang mungkin sudah malas membuat wadah anyaman dari daun kelapa itu. Wadah nasi kenduri diganti dengan besek. Besek terbuat dari anyaman bilah bambu yang dibelah tipis-tipis. Ini lebih praktis. Sebab, besek dijual di pasar-pasar tradisional. Pemilik tidak perlu membuat, beda dengan anyaman dari daun kelapa yang masih hijau segar tadi.

picture-076_777_tn_859_tn-collage

Tiga bersaudara; takir, sudi, dan pincuk

Di dalam wadah anyaman daun kelapa nasi kenduri itu ada berbagai macam benda yang difungsikan untuk tempat makanan. Salah satunya, ada yang disebut takir. Takir adalah wadah lauk-pauk. Saudara kembar takir ialah pincuk. Lalu si takir punya adik bernama sudi. Ketiga benda ini terbuat dari daun pisang yang dibentuk cekung sedemikian rupa, kemudian disemati batang lidi sebagai pengikatnya. Batang lidi itu disebut biting.

Dalam tradisi kenduri, fungsi takir dan sudi sudah tergantikan oleh wadah serupa yang terbuat dari kertas. Tak lain, mengedepankan asas kepraktisan. Kalau bisa beli, buat apa susah payah mencari daun dan menghabiskan waktu membuat sendiri? Jika takir merupakan wadah nasi + lauk pauk yang terbuka, sebaliknya pincuk tertutup.

Sudi, yang berukuran paling kecil, biasa digunakan untuk wadah lauk pauk. Bentuknya oval dan paling leter alias kurang cekung dibanding dua kakaknya. Pincuk masih relatif gampang ditemui di tempat pedagang jajanan tradisional. Kadang untuk bungkus pecel, nasi, atau bubur.

Yap. Itulah beberapa istilah (kenang-kenangan) di bidang kuliner dari zaman kanak-kanak yang sekarang sudah mulai jarang saya dengar. Dan tergantikan. Itu baru dari ranah alat saji, apabila dirunut dari ranah alat masak, bahan masakan, sampai jenis makanan, tentu lebih banyak lagi kosakatanya. Semoga tidak lupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s