Akademika / Catatan

Celoteh Eyang Ben


Saya jarang membaca biografi lantaran buat saya genre ini seringkali terlalu menjemukan. Benedict Richard O’ Gorman Anderson agak berbeda. Saya pernah menyaksikan langsung penulis Imagine Communities ini tiga hari sebelum kematiannya pada akhir 2015 silam. Sosoknya yang nyentrik membuat saya suka tertawa (minimal senyum-senyum) mengingatnya. Ia membikin biografi berjudul Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016).

Anderson pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia pada akhir Desember 1961. Ia datang untuk melakukan studi lapangan tentang korelasi zaman penjajahan Jepang dan masa revolusi. Ia mengaku kata ‘bule’ untuk menyebut orang kulit putih adalah kata yang dia populerkan pada 1963 lantaran jengah sering dipanggil ‘Tuan’.

Lahir pada masa jelang Perang Dunia II, Anderson punya pengalaman masa kecil yang sering berpindah-pindah. Ia bersekolah di Eton, Cambrigde, kemudian pindah ke Cornell. Membaca bukunya seperti mendengarkan dongengan kakek tua di atas kursi goyang, yang asyik berkisah tentang masa muda, merenungkan masa lampau, serta menguarkan kegelisahan terhadap masa kini.

Anderson dikenal sebagai pakar kajian wilayah. Dalam catatan Anderson, kajian wilayah (area studies) mulai bangkit pasca Perang Dunia II. Orang mulai melihat kebutuhan untuk mengkaji negara-negara lain, khususnya negara dunia ketiga yang bermunculkan bak cendawan di musim hujan. Satu per satu negara bekas koloni Eropa dan Amerika memproklamasikan kemerdekaan. Negara-negara di dunia, khususnya dalam hal ini Amerika Serikat, mengucurkan dana besar-besaran kepada lembaga pendidikan. Yayasan seperti Rockefeller dan Ford Foundation, mengimbangi kajian-kajian wilayah ini dengan memberi arah pijakan lebih historis.

Perubahan politik pasca Perang Dunia II juga memberikan dampak fundamental terhadap tren keilmuan. Kajian sastra klasik, seni, dan bahasa makin berkurang peminatnya. Sebaliknya, ilmu politik, ekonomi, dan antropologi mulai naik daun. Jika pada era kolonial kajian wilayah dilakukan oleh para administratur kolonial yang bertahun-tahun berdiam di wilayah jajahan, sekarang dilakukan oleh para peneliti universitas yang kadang belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di wilayah yang dia teliti. Hal ini tentu menimbulkan perbedaan, baik dari aspek kedalaman maupun pendekatan penelitian.

Tingginya permintaan terhadap para peneliti dan akademisi kajian wilayah juga menimbulkan semacam percepatan kaderisasi di universitas-universitas. Kurikulum diformalkan dan ‘disederhanakan’. Jika dulu mahasiswa S1 harus menguasai lima bahasa, kemudian cukup dua bahasa. Jika dulu harus tuntas mata kuliah umum dengan profesor A, B, C, kemudian tidak perlu lagi. Tuntutan akan ‘profesionalisme’ menggantikan tradisi keilmuan lawas yang sudah turun temurun. Ben mencatat, fenomena itu menimbulkan “patahan semi-generasi yang kentara”. Saya melihat ini semacam yang dialami oleh mahasiswa Indonesia tahun 1980-an dengan tahun 2000-an.

Sebagai kakek tua yang besar dalam tradisi keilmuan Eton dan Cambridge, Ben masih menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing. “Mempelajari suatu bahasa bukanlah semata-mata mempelajari sarana komunikasi linguistik, melainkan juga mempelajari cara berpikir dan cara merasa dari suatu kelompok manusia yang bicara dan menulis dengan bahasa yang berbeda dengan kita.” Ketika seorang peneliti tinggal di negara asing tanpa memahami bahasa lokal di negara tersebut, dia tidak berada dalam posisi cukup memadai untuk berpikir secara komparatif. Komparasi yang dihasilkan, kalaupun tetap dipaksakan, akan bersifat superfisial.

Namun, komparasi yang baik kerap berasal dari pengalaman keasingan dan ketidakhadiran. “Bila kau tinggal sudah cukup lama, hal ihwal mulai dianggap apa adanya lagi, seperti di tempat asal, dan kau mulai cenderung jadi tak seberapa ingin tahu dan kurang penasaran dibanding sebelumnya.”

Pada masa belakangan, proposal yang lolos dalam hibah-hibah penelitian atau karya tulis akademik gampang diprediksi. Orang diharapkan untuk linear atau fokus pada satu bidang. Cakupan selalu jadi masalah. Ketika mahasiswa menyelesaikan karya tulis ilmiah, pembimbing biasanya memberi nasihat, fokus ke masalah A saja, cari kurun waktu X sampai Z, dan batasi di daerah Y.

Kalau tidak, dia ditakut-takuti tidak akan kelar dan lulus tepat waktu. Apalagi zaman sekarang, yang tenggat waktu kuliah kian diperpendek. Siap-siap saja diusir dari kampus bila tak lulus 7 tahun. Nasihat ini bukannya tidak masuk akal, kata Anderson, tapi “tidak bakal mendorong adanya karya yang berani dan ambisius.”

Ketika baru saja pindah ke Cornell, ia sering ditegur lantaran gemar menyisipkan gurauan, sarkasme, anekdot, ditambah komentar pribadi dalam makalah ilmiah. Karya tulis yang baik dalam iklim keilmuan sekarang ini kemudian dipenuhi oleh jargon keilmuan yang menjemukan dan diulang-ulang, yang membatasi cara peneliti berpikir dan mengutarakan gagasan. Mahasiswa terlalu tidak berani bereksperimen. Terus terang, saya jadi ingat latar belakang skripsi teman saya yang pernah saya bilang latar belakang skripsi paling menarik. Tulisannya penuh lanturan ke sana kemari dan karena itu jadi hidup.

Intervensi negara dan korporat dalam perubahan praktik pendidikan tinggi makin meningkat, dimana riset para akademisi diarahkan selaras dengan agenda kebijakan pemerintah. Anak-anak usia S1 sudah didorong untuk berpikir bahwa masa kuliah mereka semata-mata adalah persiapan masuk ke pasar tenaga kerja. Cara berpikir mahasiswa jadi pragmatis, dan sedihnya tidak mudah bersikap kritis terhadap situasi yang mengungkung ini.

Sang kakek yang masih merasakan kerepotan menulis dengan mesin ketik manual tampak resah melihat cucu-cucunya asyik memelototi gadget. Mahasiswa tak butuh lagi membongkar buku-buku di rak perpustakaan, mengebut buku-buku lawas untuk mendapatkan bahan penelitian yang mereka perlukan. Perpustakaan juga sudah berusaha mendigitalkan apa aja dengan penuh kekhawatiran bila buku-buku itu lapuk seiring waktu. Mereka dengan mudah sudah bisa meminta bantuan Google. Segalanya bisa ditemukan di dunia maya. Aroma buku yang wangi apak dan membikin candu tinggal kenangan.

Sebuah kegelisahan yang nyata. “Kepercayaan yang dimiliki para mahasiswa terhadap google nyaris religius sifatnya. Evaluasi kritis terhadap Google? Kita belum mengajarkannya. Banyak mahasiswa yang tidak punya bayangan bahwa kendati Google “membuat segalanya tersedia”, ia toh bekerja seturut program. Salah satu dampak “gampangnya akses ke apa saja” adalah percepatan sebuah tren yang sudah saya tengarai jauh sebelum Google ada: tak ada gunanya mengingat apapun, karena kita bisa memunculkan lagi ‘apa saja’ dengan cara lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s