Catatan

Andai Ada Pecel di Bekasi


Saya pernah berangan-angan menyantap pecel di Kota Bekasi. Alkisah, pagi itu, saya lagi-lagi hanya menemukan nasi uduk di dekat kosan. Lalu saya membayangkan kalau-kalau warung nasi uduk diganti saja menjadi warung nasi pecel, lengkap dengan segala sayuran;bayam, kangkung, kubis, kacang panjang, wortel, taoge, lalu disiram sambal kacang. Nasi hangat ditambah beberapa gorengan. Ah, nikmatnya..

Keesokan harinya, angan-angan saya menjadi kenyataan. Saya menemukan nasi pecel lengkap. Ada bayam, kacang panjang, taoge, kubis, wortel, gorengan, yang disiram sambal kacang kental. Tapi, saya kapok. Sungguh. Saya harus membayar mahal untuk seporsi nasi pecel. Rp 25 ribu. Padahal, di kampung, semahal-mahalnya porsi nasi pecel cukup Rp 5 ribu.

Well. Saya belum lama membaca Tempo edisi Desember 2014 yang menyajikan liputan khusus tentang “Antropologi Kuliner Nusantara”. Masakan Jawa, disebutkan dalam liputan itu, sarat akan pengaruh kuliner Belanda. Pengaruh tersebut masuk lewat acara-acara jamuan makan dengan para pembesar kolonial yang diadakan sultan. Lewat ritual dan upacara, makanan tersebut diperkenalkan kepada rakyat kecil.

Cita rasa para raja juga mempengaruhi masakan. Raja-raja di Kraton Yogyakarta dan Surakarta biasanya punya menu favorit. Misalnya, Hamengkubuwono VIII suka masakan lidah asap untuk makan siang, Mangkunegara IV suka nasi tim burung dara, dan sebagainya. Beberapa jenis kuliner a la Belanda disesuaikan dengan lidah dan bahan-bahan yang gampang didapat di Nusantara.

Saya pernah tinggal di Solo selama beberapa saat. Di Solo, ada yang namanya sosis Jawa dan selat Solo. Keduanya menampakkan dengan jelas pengaruh kuliner Belanda. Sosis Jawa berupa daging yang dibungkus/digulung dengan telur dadar. Saya gemar makanan satu itu. Di dekat Perpustakaan Islam Kartopuran Solo, ada satu warung mie ayam yang menyediakan pelengkap sosis Jawa enaak sekali. Adapun, selat berupa daging (bistik), ditambah wortel, buncis, kentang, dan telur rebus.

Kuliner Jawa identik dengan rasa manis. Konon, itu bukan lantaran orang Jawa manis-manis. Tapi, itu dipengaruhi oleh banyaknya pabrik gula di Jawa. Pada masa kolonial, ketika kebijakan culturstelsel diterapkan, para petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur diwajibkan menanam tebu. Saya masih sempat melihat hamparan kebun tebu di dekat tempat tinggal semasa kecil. Tapi, sejak tahun 2000-an sudah dialihfungsi.

Untuk mengolah tebu-tebu yang ditanam para petani, pabrik-pabrik gula didirikan. Kita masih bisa menyambangi bekas-bekas pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu, Karanganyar. Dari pabrik gula itulah, konon banyak bangsawan dan priayi Jawa memperoleh kekayaan. Standar hidup meningkat. Mereka makin gemar menjajal beragam kuliner, termasuk yang manis-manis.

Seiring beranjak dewasa, saya menyimak satu perubahan. Orang semakin sulit untuk mempunyai ketahanan pangan dalam skala rumah tangga. Penggunaan beberapa bahan makanan alami sudah digantikan oleh bahan makanan pabrikan dengan alasan kepraktisan. Dalam hal alat, pun demikian. Saya kecil masih biasa melihat //takir// untuk tempat nasi dan lauk-pauk saat hajatan. //Takir// adalah wadah kerucut dari daun pisang yang biasa digunakan untuk tempat nasi. Sebelas dua belas dengan //pincuk//. Kedua kosakata itu sekarang kian jarang terdengar.

Ketika suatu kali saya pergi ke pelosok Kalimantan Tengah, saya melihat Jawa semasa saya kecil dulu. Orang memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya dari kebun belakang rumah. Sayur tinggal petik di kebun, lauk tinggal cari di sungai, beras tinggal tanam di sawah. Terhidang di depan saya, semangkuk sayur daun singkong, semangkuk sayur rotan, sepiring ikan gabus yang diasinkan, sepiring jamur hutan, dan secobek sambal. Semuanya made in kebun belakang. Nikmat sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s