Catatan

Mengikat-Melepaskan


Ketika tulisan lepas ini mewujud, saya sudah tiba di Bekasi lagi. Tepat tanggal 17 Juni. Tepat ketika tantangan kami bermula. Tiga puluh hari lalu, dengan setengah iseng-setengah serius, saya mengajak seorang teman yang baru setengah tahun lalu saya kenal di Bekasi untuk taruhan “30 Hari Nge-blog”. Yang kalah harus membelikan buku seharga maksimal Rp 50 ribu.

Saya sebenarnya mengajak 3 atau 4 teman. Semua mengiyakan, tapi yang berjalan hanya dengannya. Tantangan itu muncul dengan alasan sederhana. Saya sudah lama tidak ‘menulis’. Postingan terakhir di blog saya terekam pada November 2015. Selama 2015 pun, hanya ada tiga postingan. Saya mungkin memang tipikal orang yang harus agak dipaksa. Jadi, pada waktu itu saya merasa butuh partner untuk nulis-nulis cantik lagi.

Sekarang sudah sepuluh tulisan. Sudah tiga puluh hari. Oke, saya kalah. Dua kali bolos. Dia tak pernah sekali pun. Dan, sekarang saya masih berhutang satu denda buku padanya.

Saya menikmati battle ini. Setiap kali ingat, “duh hari ini jadwal nge-blog”, saya akan mikir, “aku mau nulis apa ya”. Setelah tema muncul di otak, oke aman. Tulisan ini sengaja bukan untuk keperluan akademis atau publikasi media massa, tapi hanya ‘ngudar rasa’. Entah peduli amat, struktur tulisan saya tampak kacau atau lurus. Hampir selalu saya menulis ketika jam digital di hape sudah menunjukkan pukul 21.00 ke atas. Saya menikmati detik-detik terakhir.

Menulis buru-buru, mengirimkan link ke WA, lalu ngobrol dengannya beberapa saat. Entah tentang tulisan atau hal-hal sederhana lain. Kadang sampai saya takut mengganggu karena kami hampir selalu chat pada (bukannya sampai) tengah malam. Meski, buat saya pribadi, tengah malam atau sepertiga malam terakhir benar-benar waktu santai saat semua dedlen sudah berakhir dan tak mungkin ada telpon ala-ala dari kantor. Me time.

Lama-lama ‘ritual’ itu terasa seperti refreshing. Setelah seharian bergulat dengan berita, narasumber, dan liputan, menulis lepas dan ngobrol bebas jadi semacam terapi. Merawat akal sehat supaya tetap waras di kampung orang. Entah buat dia.

****

//Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka/
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa/
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota/
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa//

Hartoyo Andangdjaja

Tampak lemah dan rapuh, perempuan menyimpan kegigihan menghadapi hidup. Konon, kemampuan wanita bertahan hidup menghadapi tekanan emosi bahkan lebih baik daripada laki-laki.

Dengan istilah agak kasar, seseorang pernah bilang pada saya. “Coba saja kamu perhatikan. Perempuan yang ditinggal mati oleh lelakinya relatif lebih kuat bertahan dibanding lelaki yang ditinggal mati perempuannya. Karena kekuatan/kejayaan laki-laki ada pada perempuan.” Hahaa. Maaf, subjektif. Kalimat itu keluar ketika kami membicarakan mantan presiden zaman Orba, Soeharto.

Puisi Hartoyo Andangjaya mengingatkan saya pada sosok buruh-buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Dini hari, mereka keluar dari rumah membawa sebuntal kain untuk perbekalan, selendang, dan bakul. Ketika orang-orang masih lelap, perempuan-perempuan itu sudah mengangkat sayur mayur dan aneka barang dagangan. Selama beberapa generasi, di beberapa lingkungan masyarakat Jawa seperti pedagang batik Pasar Laweyan Solo, justru perempuan lah yang paling pokok mencari nafkah untuk keluarga. Perempuan berdagang batik, sementara laki-laki tinggal di rumah.

Posisi yang sama terjadi di sebuah lingkungan kampung santri di Yogyakarta. Dalam buku berjudul “Kampung Santri Tatanan Dari Tepi Sejarah” yang ditulis Gus M. Fuad Riyadi, ia menerangkan peran vital perempuan dalam sektor ekonomi masyarakat di kampung santri tersebut. Kaum perempuan mencari pendapatan lewat bisnis konveksi batik, sedangkan laki-laki sibuk mengurusi masalah keagamaan. Realita sosial ini tidak bisa serta merta dihakimi dengan pernyataan bahwa laki-laki lah yang harusnya bertugas mencari nafkah.

Sampai sekarang, di pasar-pasar tradisional Kota Yogyakarta, menemukan seorang simbah-simbah sepuh berjualan menggelar dagangan bukan hal langka. Ada yang membawa sebakul palawija, buah-buahan hasil panen kebun belakang, atau sekadar makanan tradisional. Subuh-subuh, sudah mulai mereka menanggalkan selimut dan melangkah keluar rumah.

Perempuan-perempuan tua itu berjualan bukan untuk dikasihani. Bukan lantaran mengejar harta duniawi. Bukan pula karena tidak diperhatikan oleh anak cucu. Dalam banyak kasus, saya sering mendapati anak cucu mereka bersikeras melarang, tapi tak dihiraukan. Perempuan-perempuan tua itu tetap menggelar dagangan karena menghayati arti hidup dan bekerja dengan sebenar-benarnya.

Bahwa hidup adalah terus bergerak, terus mengolah jiwa, raga, dan rasa. Tangan harus bergerak selagi masih dapat digerakkan. Lakon hidup harus dijalani sebaik-baiknya, dengan ikhtiar dan kepasrahan pada Yang Kuasa. Sesederhana itulah kehidupan harusnya berjalan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s