Catatan / Jurnalistik

Eigeland


Rabu (13/7) kemarin, satu eksemplar majalah Aramco World edisi May June 2016 Vol 67, No. 3 tiba di rumah Yogya. Sangat terlambat, mungkin karena terbawa Tukang Pos nyasar ke Negeri Senja saat mengantar surat untuk Alina.

Lipsus pertama yang diangkat dalam edisi itu bertajuk “50 Years Behind the Lens,” semacam tribute untuk fotografer Aramco, Tor Eigeland. Eigeland adalah fotografer kelahiran Norwegia, berpendidikan Meksiko, kemudian menetap di Beirut. Ia memulai karirnya di Aramco World pada tahun 1966. Sejak itu, sudah lebih dari 50 jepretan kameranya menghiasi tampilan majalah milik perusahaan minyak dunia itu.

//”Half a century of unimaginably rich experiences in the Arab and Islamic-related worlds followed. There was so much to learn, and along the way, I have always tried to pass on my impressions, usually in photos and sometimes in words, to bring alive, positively, some of the people and places I came to love.”//

Kerja-kerja untuk menghasilkan sebuah karya foto, tulisan, atau liputan saya yakini sebagai sebuah kerja seni. Tuhan ikut campur tangan memberi ilham dan menggerakkan tangan kita. Saya bukan fotografer atau orang yang paham fotografi. Tapi, saya selalu mengagumi foto-foto indah yang hidup dan langka. Seandainya saya bisa mengambil foto seperti itu!

Ada kurang lebih 20 foto yang ditampilkan. Yang paling berkesan bagi saya berjudul “When All The Lands Were Sea” (November 1967).

Seorang penduduk suku Marsh Arab mengayuh kano di rawa-rawa luas. Rumput ilalang menyembul di latar sudut kiri. Bayang-bayang jatuh di permukaan air. Langit tampak kelabu dan lembab. Suasana rawa menimbulkan kesan sunyi dan terasing. Meski foto itu diambil pada akhir dekade 1960-an, tapi baru dipublikasikan -dan kemudian menjadi sebuah buku- pada tahun 2013.

Suku Marsh Arab tinggal di tengah rawa-rawa di bagian selatan Irak, antara Sungai Tigris dan Eufrat. Sebuah areal rawa-rawa yang maha luas. Pada dekade 60-an, ada sekitar 350 ribu sampai dengan 500 ribu orang tinggal di rawa-rawa itu. Peradaban mereka telah berlangsung selama ribuan tahun. Tapi, kini hampir punah setelah mantan presiden Irak, Saddam Hussein, mengeringkan rawa tersebut pada masa kekuasaannya.

Bagi Eigeland sendiri, “When All The Lands Were Sea” termasuk foto paling berkesan dalam hidupnya. Ia mengambilnya suatu pagi, sekira pukul 04.00 dini hari. Sebuah kano sedang melaju ke arahnya. “I thought I was totally in another world 2000 years ago. It was unreal. My whole experience there, I didn’t feel alien, but it was like living in a world totally, totally different from what I’d known before. A watery world, indeed.”

Foto berikutnya yang juga menarik perhatian berjudul “Oman: A New Dawn” (May/June 1983). Untuk mendapatkan foto itu, Eigeland melakukan pendekatan personal kepada lelaki tua yang menjadi model fotonya.

Kalau kamu mau mengambil foto seseorang (person) yang intim, pesan Eigeland, kamu harus menempatkan dia dalam kondisi santai. Itu mungkin memang menyita waktu, kamu perlu berbincang, tertawa bersama, menunjukkan ketertarikan, kadangkala juga memberi tahu mereka kenapa kamu harus mengambil fotonya. Hal yang sama berlaku dalam penulisan berita.

Seorang lelaki tua Oman yang mengenakan pakaian tradisional duduk di antara rak-rak penuh botol Pepsi dan Coke. Ia memegang sekaleng soft drink. Lelaki berjanggut putih itu tampak memakai turban merah di kepalanya, satu tangan memegang tongkat tradisional, pedang terselip di pinggang, dan berkostum jubah kain warna biru.

“Oman: A New Down” memadukan antara yang tradisional dengan yang modern. Coke dan Pepsi dalam hal ini dijadikan simbol masyarakat modern. Perbenturan unsur-unsur modernitas dengan struktur sosial di tengah masyarakat tradisional merupakan hal yang jamak ditemui di negara-negara berkembang. Kadangkala sampai menimbulkan krisis identitas bagi anggota masyarakatnya. Standar sosial berubah, nilai-nilai bergeser. Old and new, indeed.

Foto lain yang menarik, “Traveling The Silk Roads” (July/August 1988) memotret perjalanan Eigeland menyusuri jalur perdagangan paling berpengaruh pada masa lampau. Terakhir, “The Academy of The Rainforest” (November/December 1992), diambil di Brunei. Foto itu merekam keseharian seorang ahli botani yang bekerja di rimba tropis Pulau Borneo, Carl Hansen. Jepretan kameranya menjadi potret terakhir sang botanis. Hansen dikabarkan meninggal sesaat sebelum Eigeland bertolak dari Brunei.

Yogya, Juli 2016
~masih di rumah, mencari rumah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s