Catatan

Ibukota


~Kota yang ramah, Kota yang tak ramah~

Selepas mudik lebaran, para pendatang baru berbondong-bondong tiba di ibukota. Orang-orang yang mudik membawa serta saudara dan kerabatnya untuk ikut mengadu nasib di Jakarta.

Jakarta memang menawarkan mimpi bagi orang kampung, orang-orang di daerah. Orang tetap saja datang meski sudah melihat banyak kerabat yang hanya jadi pemulung atau buruh kasar sesampai di ibukota. Ada banyak karta sastra, khususnya cerpen, yang memotret fenomena kaum pendatang ini. Tapi malangnya, tidak satu judul pun sedang nyantol di benak saya.

Sejumlah tokoh publik dan pejabat sudah angkat bicara mengenai fenomena ini. Sebut saja, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ‘Ahok’. Banyaknya pendatang baru yang tidak berkeahlian di kota-kota besar dianggap menimbulkan masalah. Mereka hanya akan menambah beban sosial ekonomi kota tersebut. Tapi para pembuat kebijakan itu pun dibuat tak berdaya, tiap tahun tetap saja jumlah pendatang baru tak terbendung.

Merantau saya kira mempunyai asal muasal yang beragam di tiap kelompok masyarakat. Merantau di kalangan masyarakat matrilineal seperti Minangkabau mempunyai korelasi dengan sistem sosial. Budaya ini lahir sebagai efek sosial dimana kaum lelaki ‘tidak mempunyai tempat’ dalam sistem sosio-kultural Minangkabau.

Dalam sistem matrilineal a la Minangkabau, rumah dan harta pusaka diwariskan kepada perempuan. Kampung adalah milik perempuan. Lelaki, ibarat kata, tidak mempunyai kamar di rumah ibunya. Setelah akil baligh, mereka didorong untuk merantau. Itulah sebabnya budaya merantau mendarah daging bagi orang Minangkabau.

Tapi bagi masyarakat Jawa yang patrilineal dan bersemboyan ‘mangan ora mangan sing penting kumpul’, merantau jelas mempunyai makna lain. Merantau adalah upaya mencari penghidupan yang lebih baik, untuk kemudian mengangkat derajat kehidupan sanak saudara dan kerabatnya di desa. Mereka merasa wajib menolong saudaranya yang hidup kekurangan, kalau perlu dengan cara membawa mereka merantau juga ke ibukota.

Sesampai di ibukota, wajah-wajah lugu mulai tersentak realita. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang sedikit banyak membikin takjub dan menciutkan nyali. Mereka harus segera berhadapan dengan kerasnya hidup di ibukota. Kota dimana harga tanah melangit hingga ratusan juta rupiah, bahan makanan mahal, dan orang tidak saling kenal meski tinggal berdampingan.

Dengan banyaknya pendatang baru tiap tahun, kota-kota besar dituntut untuk ‘menerima’ mereka. Dan hanya ada dua bentuk ‘penerimaan’; mengakomodasi atau menyingkirkan mereka. Nyatanya, banyak kebijakan yang lebih memilih menyingkirkan, menepikan, menggusur, dan mengabaikan orang-orang miskin. Entah alasannya ketertiban, dan keindahan, atau kenyamanan. Orang-orang miskin dianggap sampah, padahal mereka jualah potret kegagalan kerja pemerintah.

Membanjirnya pendatang baru di ibukota saya pikir kadang kala juga sebuah ironi. Orang di daerah sudah teracuni oleh konsep ‘kaya’ ala sinetron malam di tivi-tivi. Kaya adalah seperti orang-orang Jakarta. Kaya adalah punya rumah mewah, mobil berderet, kolam renang, gadget terbaru, deposito, perhiasan, jalan-jalan ke mall tiap pekan, dan aneka produk manusia modern lain. Mereka mengangankan gaya hidup seperti itu dan berjuang untuk mendapatkannya.

Padahal, kalau saja mereka mau sedikit lebih arif menyadari bahwa ukuran kekayaan orang kota dan orang desa berbeda, semua akan lebih mudah. Kalau saja orang desa bisa berbangga dengan status ‘ndeso’ mereka, mereka tak perlu berjuang mati-matian. Orang desa punya banyak hal yang tak mesti dipunyai orang kota.

Sawah, tanah, rumah, ketahanan pangan, dan suasana persaudaraan. Sayangnya, sekarang itu tak lagi dianggap jika belum punya mobil dan gadget terbaru a la orang kota. Ukuran kekayaan memang terus bergeser mengikuti arah mata angin ibukota.

Purworejo, Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s