Catatan

Emosi Religius


Anak-anak muda di kota metropolitan yang heterogen saya rasa miskin emosi religius secara kultural. Mereka takjub melihat teriakan girang anak-anak saat arak-arakan pawai takbir. Mereka tak kenal rasanya shalawatan sampai tengah malam sambil menabuh rebana. Mereka bahkan tak pernah naik truk bersama orang sekampung untuk hadir di haul pak kyai pondok pesantren.

Sebagian orang modern yang terlalu mementingkan substansi itu bahkan mungkin geleng-geleng kepala. “Ah, laku beragama orang kampung tidak efektif,” gumam mereka. Tapi, nanti dulu. Umat Muslim di pedesaan punya cara untuk melekatkan nilai-nilai keislaman dalam hati mereka. Islam dihadirkan dengan cara sederhana tapi guyup, kultural, dan penuh kegembiraan.

Emosi religio-kultural itu tampaknya sederhana. Tapi, hal-hal remeh temeh itu bisa menyelamatkan akidah seseorang ketika berada di satu titik kritis. Seorang guru pernah bercerita, teman sekolahnya tidak jadi masuk Nasrani gegara ingat masa-masa kecilnya di kampung yang kuat akan tradisi keislaman. Bukan ceramah pak kyai soal aqidah tauhid, hadits, atau fikh yang menyadarkannya.

Ia hanya takut kehilangan dan terasing dari kenangan indah masa kecilnya. Ia ingat pernah ada suatu masa ketika dia setiap sore ke mushala untuk belajar mengaji, shalawatan, menabuh rebana, dan merayakan gema takbir malam lebaran. Betapa pentingnya lingkungan sosial-kultural yang kental nuansa keislaman.

Kuntowijoyo dalam “Muslim Tanpa Masjid” telah meramalkan kelahiran generasi baru Islam. “Generasi muslim baru telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui oleh saudara saudaranya. Kelahirannya bahkan tidak terdengar oleh muslim yang lain. Tangisnya kalah oleh teriakan teriakan reformasi”. 

Menurut Kuntowijoyo, kelahiran generasi baru muslim ini adalah sebuah gejala perkotaan. Saya kutipkan langsung saja perkataan Kunto. Tumbuh suburnya kelas menengah (middle class) di Indonesia semenjak tahun 70-80an mengakibatkan sejumlah implikasi sosial. Generasi yang lahir pada periode ini adalah mereka anak-anak umat yang tidak at home lagi di tenda-tenda besar umat Islam seperti Muhammadiyah, NU, dan lembaga agama tradisional lain.

Akibat industrialiasasi dan urbanisasi mereka tercerabut dari akar sosial budayanya, mereka tidak pernah mengalami sosialisasi keagamaan melalui institusi Islam tradisional macam madrasah, pesantren maupun ulama-ulama, sebaliknya mereka justru lebih banyak mendapat sosialisasi agama melalui sekolah lewat lembaga kerohanian Islam-nya, melalui peer group-nya hingga sumber-sumber anonim lainnya seperti buku, internet, kaset, video dan lain-lain.

Mereka lahir di kota-kota besar dan menengah, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Lantaran karakteristik itu pula, organisasi Islam transnasional semacam Tarbiyah, HTI, dan Salafi lebih mendapat sambutan di kalangan kelas menengah Muslim perkotaan. Corak keagamaan mereka terbentuk melalui afiliasi ke lembaga-lembaga tersebut. Kelangsungannya didukung oleh watak generasi muda Muslim urban yang hi-tech, tersambung dengan umat Islam dari berbagai belahan dunia.

Saya paksakan segera sampai ending. Akhirnya, di mana pun yang terpenting ialah mewujudkan lingkungan kultural religius yang secara riang gembira menginternalisasi nilai-nilai Islam. Setelah rumah, masjid adalah ruang pertama yang perlu diperkenalkan pada anak kecil. Biarkan anak-anak kecil dibawa ke masjid. Tugas orang tua lah untuk mengajari anak-anak mereka ketika di rumah tentang bagaimana adab-adab di masjid. Bukannya melarang mereka ke masjid atau memarahi ketika membuat onar di masjid.

*Masih di jalan, 8 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s