Cahaya

Pantura


Pantai Utara (Pantura) pulau Jawa menjadi lokasi pertama kedatangan Islam di pulau Jawa pada abad ke-14. Islam masuk berbarengan dengan terbentuknya jaringan perdagangan para saudagar di Nusantara.

Kota pelabuhan dan pesisir merupakan pusat interaksi dengan dunia luar dan para saudagar asing. Watak sosio-kultural di kawasan Pantura yang cenderung lebih cair dibanding bagian selatan pulau Jawa membuat Islam gampang diterima.

Pada masa kerajaan, pesisir menempati posisi penting. Gresik, Cirebon, Kudus, Demak. Kota-kota itu berada di pesisir utara. Pusat-pusat pemerintahan dibangun di muara sungai dan lokasi yang dekat dengan laut. Intensitas interaksi yang tinggi dengan dunia luar membuat tatanan sosial masyarakat di Pantura lebih dinamis dan egaliter.

Tapi, Pantura sekarang identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Pantura mengingatkan kita pada dangdut pantura, infrastruktur jalan yang rusak di sana sini, dan kemiskinan masyarakat nelayan pesisir.

Ingat kasus Irma Bule di Karawang yang meninggal akibat digigit ular kobra. Kasus itu dalam perspektif lain memperlihatkan kemiskinan yang pekat di wilayah Pantura. Seorang perempuan yang harus berjuang menghidupi keluarga dan mempertaruhkan nyawa untuk itu. Ia manggung bersama ular kobra untuk meraup saweran yang lebih besar.

Ahad (3/7). Saya berjalan kaki di jalur mudik Pantura. Menyaksikan padatnya arus mudik dan tenda-tenda darurat yang mendadak muncul menyediakan sebotol air mineral. Sekitar satu kilometer dari GT Pejagan, kami berhenti. Sewaktu mampir shalat maghrib itu, saya merasakan air yang saya gunakan wudhu terasa payau.

Slash. Pada saat itulah saya berpikir tentang pantura. Tulisan ini tentu saja bukan tulisan ilmiah. Ini hanya selentingan pikiran yang muncul sembari berjalan kaki.

Entah bagaimana, yang jelas pergeseran sosial itu telah terjadi. Pantura bukan lagi pusat sosial dan pemerintahan. Sejak pusat kerajaan  berpindah masuk ke pedalaman, watak pemerintahan pun berubah. Tidak lagi berorientasi maritim, tapi lebih ke arah agraris. Jabatan syahbandar yang dulu sangat penting tidak lagi berkuasa.

Watak itu terus dibawa pada masa-masa pemerintahan setelah kemerdekaan Indonesia. Ada yang bilang bahkan, Orde lama, Orde baru, dan presiden-presiden seterusnya meneruskan tahta Mataram.

Pantura bukan lagi wilayah favorit karena memang pemerintahan juga tidak menekankan aspek kelautan. Apalagi, interaksi dengan dunia luar sekarang sudah tak berbatas lokasi. Yang lucu lagi, sekarang laut digerogoti jadi daratan lewat proyek reklamasi.

Cirebon-Brebes-Tegal-Pemalang-Batang, 5 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s