Sastra

Penerbit


BlAVa4rCEAAnlYM

Petang itu, saya berlari-lari ke Jakarta. Kami janjian dengan seorang penulis, Yosi Avianto Pareanom. Om Yosi adalah penulis novel //Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi// (2016). Anggota Dewan Kesenian Jakarta ini juga menulis //Rumah Kopi Singa Tertawa// (2011). Usianya hampir seumuran dengan ibu saya. Ia menikah ketika saya lahir. Tahun 1992. Hangat. Ia berusaha mengakrabi setiap orang.

Yosi menolak memublikasikan karyanya lewat penerbit mainstream. Ia kemudian mendirikan penerbit alternatif, Banana. Beberapa penulis sekarang memilih cara itu sebagai bentuk kritik terhadap dominasi penerbit mainstream. Juga mencari kemudahan memublikasikan karya. Mereka memilih untuk mengurangi ketergantungan pada raksasa industri buku terbesar di Indonesia itu.

Gramedia (beserta anak-anak grupnya) sudah berpuluh tahun memonopoli dunia penerbitan di Indonesia. Dari hulu ke hilir. Dari industri percetakan kertas sampai gerai-gerai toko bukunya. Saya tulis ini dengan perasaan agak aneh juga sebab saya bagian dari raksasa penerbitan itu. Tapi waktu puluhan tahun tidak sebentar untuk membentuk cara pandang masyarakat. Nama Gramedia telah menjadi jaminan baik buruk suatu novel. Selama itu pula, selera masyarakat terhadap novel yang bagus sedikit banyak dipengaruhi oleh penerbit ini.

Gramedia memang masih menjadi patokan bagi sebagian penulis muda. Tapi dominasi itu sudah mulai luntur dalam tahun-tahun terakhir. Ada banyak penerbit alternatif bermunculan. Seiring perkembangan teknologi, usaha penerbitan semakin mudah. Siapa pun bisa menerbitkan buku sendiri dan menjual sendiri. Orang cukup membayar sekian rupiah, kemudian bukunya terbit. Penulis pun tak perlu khawatir tentang strategi pemasaran. Semua bisa dilakukan lewat jejaring media sosial. Sebuah buku laris atau tidak kadang kala sampai ditentukan oleh sedikit banyaknya kawan dunia maya si penulis.

Kemunculan penerbit alternatif dan segala macam cara baru memublikasikan karya saya kira merupakan pertemuan antara idealisme dengan kemajuan teknologi. Pasca runtuhnya Orde Baru, penerbit alternatif bermunculan bak cendawan di musim hujan. Orang mulai merasa perlu membuat penerbit-penerbit baru yang mewakili ideologi mereka masing-masing. Yang kiri, bikin penerbit kiri. Yang kanan, menunjukkan watak kanan. Orang tak perlu lagi malu-malu. Gramedia tidak cukup mampu menampung aspirasi pemikiran segenap rakyat Indonesia. Maka itulah, orang-orang membuat penerbit alternatif.

Segera seiring itu, perkembangan teknologi di dunia makin canggih. Banyak situs memfasilitasi penulis muda untuk menerbitkan karyanya. Kehadiran ebook tak bisa dilupakan telah mengubah mindset orang tentang sebuah buku. Mereka yang tidak bisa menerbitkan buku cetak bisa membuat ebook dengan amat gampang. Buku-buku elektronik itu kemudian dengan amat gampang pula disebar ke seluruh dunia. Dunia maya penuh persebaran ide dan gagasan. Wacana-wacana berserakan di dunia postmodernis.

 

Bekasi, 26/6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s