Catatan

Doa


IMG_2658

Saya malu pada teman saya. Dia sakit dan masih sanggup memenuhi janjinya. Sementara, saya tidak bisa. Langsung jatuh tertidur begitu sampai kos. Mata dan otak saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya kurang mendisiplinkan diri.

Selepas subuh tadi, saya sudah bersiap ngetik berita. (Berita lagi? Hahaa). Selain banyak budgeting, banyak juga hasil liputan kemarin yang belum sempat saya ketik. Ramadhan bulan yang padat. Apalagi jelang hari raya. Tapi, ketika saya lihat jadwal… Yeay. Saya libur! Tidak berarti saya tidak akan liputan melihat banyaknya budgeting yang sudah saya rencanakan, tapi minimal saya lebih santai. Alhasil, ditemani suara Om Duta Sheila on 7 yang sudah bikin saya jatuh hati sejak kelas 4 SD, pagi ini saya memutuskan menulis.

***

“Kisah cinta itu selama beberapa waktu terus dirajut oleh ayat-ayat Alquran yang mengalun dari surau kecil di dalam pesantren tersebut.” ~ O (2016), Eka Kurniawan

Ada sebuah kisah sisipan dalam novel terbaru Eka Kurniawan, O (2016). Tapi, mungkin itu justru kisah yang paling melekat di benak saya.

Sobirin telah jatuh hati pada anak seorang juragan batik tak jauh dari pesantrennya. Samar, perasaan itu ia rajut lewat alunan ayat demi ayat dari surah Yusuf. Saban malam. Dari sebuah surau kecil di dalam pesantren.

Kisah yang manis, bukan?

Cintanya sempat menemukan ruang ketika Sobirin diminta menjadi guru ngaji di rumah sang juragan batik. Tapi, perasaannya terlalu kentara untuk disembunyikan. Sang juragan batik segera tahu bahwa Sobirin menyimpan perasaan pada putrinya. Demikian pula, Pak Kiai. Ia curiga mendengar sang santri selalu melantunkan surah yang sama setiap malam.

Tak ingin bermenantukan seorang santri miskin, juragan batik memutuskan untuk menjodohkan putrinya dengan seorang lelaki kaya raya. Gadis itu berontak. Ia mengajak Sobirin bertemu. Nahas, pertemuan keduanya kepergok. Juragan batik langsung menyiramkan wajan berisi malam mendidih ke wajah si santri. Tak hanya meninggalkan jejak luka bakar, tapi juga membuat cahaya matanya padam. Tapi, tak memadamkan cintanya.

“Selama bertahun-tahun, kini puluhan tahun, Kiai Sobirin terus membacakan ayat-ayat Alquran di tengah malam.”

Cinta dan harap itu terus mengalun bersama surah Yusuf yang ia hafal di luar kepala. Ia yakin, Allah akan membukakan jalan untuk mereka. Sampai suatu hari, keduanya bertemu. Yang satu, sebagai lelaki tua buta. Satu lagi, sebagai perempuan gila.

***

Nasihat Syaikh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam

لا يكن تاءخر امد العطاء مع الاحاح في الدعاء موجبا ليأسك فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فيما تختاره لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد

“Pemberian/karunia Allah yang terus tertunda padahal sudah disertai do’a yang sungguh-sungguh dan terus-menerus janganlah menjadikanmu putus asa. Tuhan menjamin terkabulnya do’a melalui cara dan bentuk yang dikehendaki-Nya, bukan cara dan bentuk yang kauingini. Dalam waktu yang Ia kehendaki, bukan yang kamu ingin”.

Semua terjadi bukan karena doa dan ikhtiar kita, tapi karena kehendak dan belas kasih Allah.

Seandainya manusia bisa melihat lembaran takdirnya dalam sebuah film layar lebar, mungkin dia akan jatuh berlutut. Alangkah indah rencana-Nya. Dia tahu semua yang ada di depan dan di belakang kita, tapi kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi satu detik setelah ini.

Yang membuat kita putus asa adalah ketidakmengertian kita akan rencana-Nya. Bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang selalu punya harapan, keinginan, cita-cita, dan rencana sendiri. Manusia selalu menguntai doa. Setiap saat, setiap menit, setiap jam, setiap hari.

Allah juga berjanji, semua doa akan dikabulkan. Dengan cara dan waktu yang terbaik. Karena sesungguhnya, ketika kita berdoa atau meminta sesuatu, Allah sudah mengilhamkan doa itu. Hanya saja… Yang kau pikir baik bagimu, belum tentu yang terbaik bagimu. Yang kau pikir tidak baik bagimu, bisa jadi justru yang terbaik bagimu.

Letakkan bidak caturmu. Biarkan tangan-Nya yang menggerakkan. Dia tahu langkah mana yang terbaik. Jatah rezekimu tak akan tertukar atau berkurang. “Istirahatkan dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu. Sebab apa yang sudah dijamin diselesaikan oleh selain kamu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya.” ~ Ibnu Athaillah

***

Lirih bergumam, “Ya Allah, aku sudah pasrah saja padamu! Jangan buat aku sibuk memikirkan urusan duniaku.”

~ edisi agak melankolis

Jumat, 24/6

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s