Catatan

Traveling


Jpeg

Sebuah lembaga konsultan bisnis dan pemasaran, Ogilvy Noor, menulis, ada dua segmen potensial wisata halal yang sedang menggeliat. Pertama, keluarga muda. Kedua, perempuan lajang (single women). Segmentasi kedua ini yang menarik. Yang lain menyebutnya million dolar women.

Saya agak tersentak mendengar tuturan laporan penelitian tersebut. Tapi, bagaimana pun, saya kira ada benarnya. Kalau melihat buku beredar di pasaran, banyak buku traveling yang ditulis oleh perempuan-perempuan lajang. Traveling, dengan berbagai cara, telah menjadi sebuah gaya hidup kelas menengah. Sebuah kenyataan yang patut diingat, bahwa di berbagai belahan dunia posisi kelas menengah Muslim mulai menguat.

Muslim sudah dilihat sebagai satu segmen pasar tersendiri yang diperhitungkan dalam industri pariwisata global. Dulu, tidak semenyolok itu. Pada 2014, tingkat konsumsi Muslim dunia mencapai 1,8 triliun dolar US atau setara 11,7 persen dari total keseluruhan market share dunia. Merk-merk fesyen ternama pun mulai melirik umat berpopulasi terbesar kedua di dunia ini. Akhir tahun lalu, Dolce & Gabbana merilis koleksi busana Muslimah mereka.

Pada dekade 70-an sampai 80-an, kelas menengah Muslim mulai lahir. Umat Islam berangsur-angsur mengalami perbaikan kesejahteraan. Mereka mulai mapan secara ekonomi, mendapat posisi dalam politik, mengalami perbaikan tingkat pendidikan, dan menciptakan suatu bentuk gaya hidup. Demografi umat Islam di dunia juga mengalami perubahan besar.

Pew Research Center menyatakan, Islam merupakan agama yang paling cepat berkembang. Lembaga riset yang berbasis di AS ini memprediksi populasi umat Islam pada tahun 2050 mencapai 30 persen dari seluruh populasi dunia. Persentase itu meningkat dibandingkan dengan tahun 2010 yang berkisar 23 persen.

Seiring menguatnya kelas menengah Muslim, di berbagai negara terjadi peningkatan akses pendidikan bagi kaum perempuan (Muslimah). Mereka masuk ke ranah publik dan memperoleh berbagai fasilitas laiknya pria. Gelombang itu memunculkan kelompok perempuan yang mandiri secara finansial. Kemudahan akses teknologi dan moda transportasi makin membuka ruang bagi mereka.

Perempuan-perempuan lajang bersaku jutaan dolar kini tak lagi ragu melakukan traveling. Mereka ingin menjejakkan kaki ke tempat-tempat yang paling sulit dijangkau, menerabas batas sosio-kultural dan sekat geografis. Mereka mandiri dan moderat, tetapi juga tetap mengedepankan fasilitas dan keamanan yang dapat mendukung identitas seorang muslimah.

Juni 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s