Catatan

BEKASI


DSC06787

Saya dari Jogja. Sempat tinggal di Solo. Bekerja di Jakarta. Dan sekarang terlempar ke Bekasi.

Ketika pertama kali mendapat kabar akan di-rolling ke Bekasi, saya langsung insomnia selama beberapa hari. Saya tidak siap. Saya seperti monyet kecil yang sudah biasa hidup di tengah kedamaian rimba, lalu mendadak di lempar ke jalanan kota. Bekasi adalah planet lain yang tak pernah ada di benak saya. Tinggal di Bekasi semula saya kira sebuah kemustahilan.

Tapi, nyatanya sekarang saya sudah hampir setengah tahun menjadi warga kota satelit ini.

“Bekasi kok semrawut banget sih, Tut. Gak teratur. Masih mending Jakarta,” keluh seorang teman alumni S1, suatu hari ketika kami berkunjung ke rumah salah satu kerabatnya di Bekasi. Kota urban ini memang gampang jadi bahan bully. Waktu itu kami sedang naik angkot arah Terminal Induk Bekasi dari Stasiun Bekasi. Teman saya itu pun perantau di Jakarta. Ia jarang mengunjungi Bekasi.

Saya tak terlalu bereaksi. Sudah biasa dengan komentar semacam itu. Ingatan saya hanya melayang kepada suatu hari di pertengahan Januari 2016. Stasiun Bekasi menyambut perjumpaan pertama saya dengan kota ini. Udara kering. Panas. Angkot-angkot //ngetem// menunggu penumpang. Halaman stasiun penuh sepeda motor yang kepanasan. Selangkah keluar, tukang ojek, tukang koran, dan penjual tisu berebut menawarkan.

Proyek galian pipa gas (milik PGN atau Pertagas?) membuat pemandangan kian ruwet. Beberapa pipa terjulur menyembul ke atas. Lubang-lubang galian tanpa penutup siap menjebloskan kaki yang lalai. Kondisi trotoar apalagi, sangat tidak ramah. Kesan pertama saya terhadap kota ini tidak manis diingat. Saya harus berterima kasih pernah tinggal di Yogya dan Solo.

Hari berganti hari. Saya kesepian. Tidak ada teman yang bisa saya ajak jalan-jalan. Tidak ada pusat-pusat keilmuan yang laik disambangi tiap hari. Tidak ada lapak-lapak penjual buku yang memuaskan. Iklim sastra dan budaya di kota ini amat cair.

Gramedia di Bekasi lebih jauh bila dibanding zaman saya kos di Jakarta. Tidak adanya tarif angkot yang pasti membuat sopir gampang mempermainkan. Harga makanan juga relatif lebih mahal dibanding Jakarta. Buah potong yang bisa saya dapat seharga Rp 2000 di Pasar Minggu Jaksel, harus saya beli seharga Rp 3000-Rp 4000. Segala keluh kesah pun tumpah, apalagi memang sudah dari awal saya tak kerasan.

Sempat bahagia ketika redaktur saya berharap saya bisa segera dipindah dari Bekasi. Menurut dia, ‘kamu sayang kalau kelamaan ditaruh di Urbana’. Tapi harapan hanya tinggal harapan. Saya bahkan sudah 6 bulan. Melebihi rata-rata kurun waktu rollingan anak Republika yang hanya 3-4 bulan.

Witing tresno jalaran saka kulino. Tak adil memang kalau membandingkan Bekasi dengan Yogya atau Jakarta. Kota ini baru seusia anak mahasiswa semester 3. Bekasi adalah kota yang tengah gelisah mencari, berusaha mempertunjukkan sekalipun lemah, meramu segala macam perbendaharaan untuk mewujudkan satu identitas. Dan hebatnya, usaha-usaha itu dilakukan oleh kelompok-kelompok anak muda yang tak rela kotanya jadi bahan bully.

Lama-lama memang saya jadi tak mempertanyakan lagi soal keberadaan saya di kota ini. Entah sejak kapan. Entah karena apa. Mungkin karena sudah mulai terbiasa. Lama-lama saya bahkan mulai merasa nyaman dengan kota ini. Menyimpan diam-diam rindu yang menyesak. Tak teraba, tak terindera, nyata. Bekasi, Januari-Juni 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s