Catatan

Tintin, Membeli Masa Lalu


Tintin

Kalau benar ada lorong waktu, itu pasti tercipta dari barang remeh temeh. Bola kasti, boneka panda biru di atas atap, sepeda mini, kuteks pink, atau gaun bunga matahari. Atau, karena saya orang desa, itu tercipta dari aroma tanah basah, kepik emas tepi sawah, pertunjukan wayang, juadah, wedang ronde, belalang rumput, kersen, batang padi berembun, pasir Kali Progo, atau kepiting di kalenan.

Masa lalu mengiris senyap saat membaca “Catatan Pinggir” Majalah Tempo, 28 November 2011. Masa kecil saya terasa bugil. Dalam “Catatan Pinggir” edisi itu, Goenawan Mohamad bicara satu tokoh kartun paling populer era 70-80-an. Tintin.

Apa yang ada di benak saya ketika mendengar kata Tintin? Tidak ada. Masa kecil saya tidak dihadiri Tintin. Dia bahkan baru hadir beberapa hari belakangan. Tepatnya, sejak saya membeli enam eksemplar komik bekas itu dari seorang penjual buku online. Karena itu, saya menyimpan kegetiran terhadap anak-anak yang masa kecilnya dihadiri Tintin.

Di pojokan Yogya yang sepi, literasi adalah barang mewah. Beras, tempe, dan sejumput ikan asin jauh lebih pokok. Padahal, tak sampai ratusan kilometer, ada Malioboro, Gadjah Mada, dan rumah-rumah para cendekia. Tapi, kemewahan itu seolah terputus di kilometer sekian menuju desa kami.

Sekarang, saya membeli Tintin. Untuk kali pertama, Herge, Kapten Haddock (beserta sumpah serapahnya), Snowy, dan Prof Calculus mewujud di ruang cengkerama saya. Mundur nyaris tiga dekade. Hari ini, orang-orang membeli Tintin untuk bernostalgia. Tapi saya, saya membeli Tintin untuk membeli masa lalu. (C 38)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s