Cahaya

Kita Beda Strata


# Pagi itu saya mau ke Monas. Yah, begitulah cara main anak daerah kalo ke Jakarta. Nongkrongin tugu tinggi yang puncaknya berlapis emas, sambil memikirkan cara gimana nggondol emasnya. Hahaha. Biar tak perlu banting tulang di ibukota. (Hei, bukankah kerja adalah nadi kehidupan!)

Peristiwa ini terjadi hanya sehari selepas KAA. Delegasi negara-negara sahabat masih ada yang nyari cireng di Bandung. Kalian tahukan, polisi bikin aturan buka tutup lalu lintas? Selama KAA, busway arah Monas baru beroperasi sekitar jam sepuluh. Jadi, pagi itu, karena baru pukul 7, bertanyalah saya.

“Pak, trans Jogja yang ke Monas jalan gak?”

“Gak ada, mbak.”

“Eh? Gak ada?”

“Iya, masa Trans Jogja ke Monas? Ini Jakarta, mbak!”

Ampun deh. Saya tidak sadar salah kata, Jakarta menjadi Jogja. Si bapak penjaga halte senyum-senyum. Terima kasih sudah mengingatkan ketidakmampuan saya untuk move on dari Jogja. Oke, ini Jakarta, mbak!

# Suatu hari, saya disuruh ke Polda Metro Jaya. Ketemulah saya dengan seorang bapak-bapak polisi dengan pangkat yang sudah lumayan tinggi.

Sela-sela wawancara, dia bertanya asal saya. Mendengar kata Kulon Progo, si bapak tampak girang. “Saya Wates, mbak!” Huwoo, ternyata si bapak cuma tetangga sendiri.

Kami pun bernostalgia mengenang masa-masa damai di Kulon Progo. Kabupaten miskin yang ayem tentrem, tidak bisalah dibandingkan dengan Jakarta. Lebih girang lagi si bapak ketika saya bilang, rumah saya di Sentolo (nama kecamatan). “Saya dulu kalau pacaran jalan-jalannya ke Sentolo, mbak!”

Begitulah, si bapak ternyata pernah menjalin rasa dengan seorang mbak-mbak tetangga. “Oh, ibu orang Sentolo, pak? Masih sering pulang kampung?” Tanya saya tanpa pikir panjang.

Seketika, muka si bapak polisi agak muram. Momen kaku. “Bukan, gak jadi yang itu.” “Sekarang nikahnya sama orang lain, mbak.” Ibu polwan di meja sampingnya menimpali, sambil menyebut sebuah nama kota di Jawa Barat.

Aiiih, si pak polisi. Adakah rasa yang masih tertinggal di tepi sungai Progo, yang melintang tepat di bibir garis administratif Sentolo? Hahaha.

Baiklah, ini bukan cerita cinta si bapak. Kami melanjutkan obrolan (baca: wawancara). Mungkin karena sama-sama putra daerah yang mengadu nasib di ibukota, ikatan kimia kami lebih terjalin. Cielah.

Sampai akhirnya saya tanya, “Bapak masih sering pulang ke Kulon Progo?” “Sering, lebaran pasti saya pulang.” “Kalau pulang biasanya naik apa, pak?” “Ya bawa mobil sendiri lah.”

“Ooh.”

Serius, saya tidak tahu ekspresi saya saat itu. Kata mobil sama sekali tidak ada dalam benak saya. Yang ada di otak saya cuma dua; bus atau kereta. Dasar wong ndeso.

Jadi, kata mobil itu seperti membangunkan saya. Oh iya ya. Kita beda strata. Yah, segenggam berlian yang kau cari, pak, adalah sesuap nasi untukku. Selamat bekerja bapak polisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s