Catatan

Mahasiswa Tanpa KTM


 Pementasan-Drama-Ayahku-Pulang-Kelas-5E-PBSI-FKIP-UMS-Solo

Kemarin saya bertemu dengan Mpret lagi. Dia sedang makan nasi kucing di angkringan depan lapangan bola. Orangnya masih biasa-biasa saja, sama seperti tiga atau empat bulan lalu ketika kami bertemu. Tapi yang mengejutkan, ia sekarang sudah lulus S2, padahal saya tidak pernah tahu kalau dia ambil S2.

“Seriusan, Mpret?”

“Hehehe. Nyatanya begitu,” ucapnya ringan. Tapi ia buru-buru melanjutkan, “Ah, ilmu saya masih belang bentong. Satu-satunya yang bisa saya banggakan hanyalah kenyataan bahwa saya tidak punya KTM sampai lulus! Hahaha.”

“Kamu jadi mahasiswa, tapi tidak punya KTM? Bagaimana bisa?” tanya saya heran.

“Hehehe. Begitulah. Nyatanya bisa.” Ia terkekeh sambil mengunyah tempe goreng.

“Jangan begitu-begitu terus. Yang jelas, ceritakan.” Saya mulai tak sabar. Akhirnya, dia pun bercerita.

“Dulu sebenarnya saya juga mau bikin KTM. Wajar seperti mahasiswa-mahasiswa lainnya. Tapi, ternyata demi ‘sesobek kartu’ itu saya musti bikin rekening di Bank J dengan saldo minimal Rp 100.000. 100rb, bro? Wah, lha saya pikir buat apa. Saya gak butuh rekening bank itu, wong rekening saya saja tiga-tiganya gak pernah saya urus semua. Gak ada duitnya semua. Hahaha. Itu cuma bakal jadi rekening mati. Akhirnya, saya gak bikin.”

“Bukan karena gak punya duit 100rb?”

“Ya, itu juga salah satunya. Hahaha. Sekarang coba bayangkan. Setiap mahasiswa normal harus bikin kartu mahasiswa. Yang artinya, mereka harus bikin rekening dan masukin duit 100rb. Jumlah mahasiswa se-universitas kali 100rb, sebanyak itulah ‘uang hilang’ kita yang jadi milik bank. Pinter-pinternya si bank tuh. Oya, taruhlah bisa diambil 50rb, berapa butir mahasiswa yang terlalu sigap untuk mengambil 50rb mereka? Belum lagi, kenyataan bahwa kartu mahasiswa + ATM itu tidak langsung jadi. Dia baru jadi beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kemudian. Ketika kartu itu jadi, kadang duit kita udah gak bisa diambil, karena saldonya sudah berkurang, terpotong untuk biaya administrasi. Sekarang kan trend-nya begitu. Kartu mahasiswa sekaligus ATM. Buah hati pasangan kampus-bank.”

“Yang peristiwa kelahirannya disiarin di TV itu ya?”

“Hahaha. Iya. Ngomong-ngomong begini, KTM itu apa sih? Sebuah kartu identitas yang menyatakan bahwa kita adalah mahasiswa di suatu universitas. Fungsi riilnya? Buat berurusan dengan TU, prodi, perpustakaan, lembaga-lembaga di kampus, dan semacamnya. Nah, kalau semua fungsi di atas sudah teratasi tanpa kita perlu punya KTM, buat apa bikin KTM? Simpel saja.”

“Memang tidak menghalangi urusan-urusan administratif itu? Tidak pernah ditanyakan KTM-nya kalau berurusan dengan birokrat kampus?”

“Jelas sering ditanyakan, tapi tidak sampai menghalangi urusan administratif. Syukurnya, saya punya kartu perpus. Jadi kalau mereka tanya KTM, saya kasih kartu perpus.”

“Kok bisa bikin kartu perpus?’

“Begitulah, kadang ada celah kecil dalam sebuah sistem yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang nakal macam saya.” Enteng saja dia menjawab.

“Terus, gak pernah mendapat kesulitan atau ditegur gitu gara-gara gak punya KTM?”

“Hm. Oh, pernah. Sekali. Suatu hari saya ke medical center ditanya; Mpret, KTM-nya mana? Gak punya, pak. Lho kok bisa. Hehe, bisa. Pakai kartu perpus sama aja kan. Lha KTM-nya kok bisa gak punya gimana? Dulu belum bikin, keterusan sampai sekarang. Tapi besok harus pakai KTM lho. Gak boleh pakai kartu perpus lagi. Bikin! Siip. Makasih, pak. Itu pertama dan terakhir kali saya ke medical center.”

“Jadi, kamu gak punya KTM itu sebenarnya wujud protes, kefakiran, idealisme, keberuntungan, atau apa?”

“Semuanya,” jawabnya ringan. Saya mengangguk-angguk.

“Oya ngomong-ngomong, tentang perkawinan antara kampus dan bank tadi gimana? Itu kepentingannya apa sih, buat bank, buat kampus, buat kita?”

“Buat kita? Kamu tanya aja ntar sama yang pada koment.”

“Ashar. Saya pamit dulu ya,” lanjutnya. Corong masjid samping pesma mulai melantunkan adzan yang berat nan syahdu.

Dia menepuk-nepuk bahu saya, “Jangan jadi mahasiswa yang terlalu baik. Sekali-kali nakal dikit. Biar ada yang bisa kamu kenang. Hahaha.” Mpret berlalu begitu saja, entah mau ke mana. Saya harus bengong lima menit untuk mencerna manusia model apakah si Mpret ini.

Hati-hati! Hati-hati provokasi. Hahaha.

-humor terakhir, setelah ini tak ada lagi koneksi, selamat tinggal Bengawan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s