Cerpen

DZIKIR


46107434Dzikir

Ada satu kebiasaan bapak setelah shalat lima waktu yang sering kami protes. Beliau selalu berdzikir 100 kali selepas shalat. Tidak boleh kurang, walau hanya satu bilangan. Padahal menurut kami, dzikir 100 kali itu kebanyakan. Kami tidak jenak duduk berdzikir selama itu.

Tapi jangankan kami. Ibu, yang sudah mendampingi bapak selama 25 tahun pun kadang masih suka mengeluh.

“Cepetan to, pak. Keburu mau masak nih.”

“Jangan lama-lama lho pak dzikirnya. Keburu ditunggu ibu-ibu berangkat pengajian.”

Atau apalah alasan Ibu, pasti ada saja. Apalagi kami, putra-putrinya. Tapi, sekalipun bapak tak pernah menghiraukan omelan kami. Beliau hanya menjawab dengan tenang, “Kalau tidak mau dzikir ya sudah, diam saja.”

Tentu tidak sopan buat kami putra-putrinya, untuk pergi meninggalkan pesolatan sebelum bapak dan ibu pergi meninggalkan pesolatan itu dan kami mencium tangan mereka berdua. Ibu pun demikian. Tidak mungkin baginya meninggalkan pesolatan sementara bapak masih dzikir. Jadi, kuncinya adalah bapak. Kami tidak mungkin pergi sebelum bapak pergi. Dan bapak tidak bisa diganggu-gugat dengan seratus hitungan dzikirnya itu. Akhirnya, kami bertiga putra-putrinya cuma bisa nggrundel.

Tapi kami punya strategi. Kalau dzikir bapak sudah sampai pada hitungan 60 atau 70, baru kami mulai berdzikir. Subhanallah, subhanallah, subhanallah… Alhamdulillah, Allahuakbar. Nanti, dzikir kami akan selesai dalam waktu bersamaan.

“Kenapa to bapak kalau dzikir seratus kali? Yang lain cuma 33 kali.”

“Sudah dipesen sama kyainya bapakmu itu,” celetuk Ibu.

“Biar timbangannya penuh,” kata bapak selalu. Bapak seorang lelaki yang punya bawaan tenang, adem menentramkan, dan tidak banyak bicara. Tapi pandai bercerita. Hanya perlu momen tertentu, dan bapak akan mengisahkan pada kami satu sirah atau kisah sejarah yang –seringkali- agak magis-semi fiktif hingga membuatku takjub mendengarkan.

“Aku udah ngitung lho, pak. Bapak dzikir rata-rata 10-15 menit. Sementara aku dzikir gak sampai 3 menit. Berarti, selisih kita berapa itu? 7-12 menit, pak. Tak pakai baca novel udah dapat 1 bab itu,” ucapku.

“Huss, kamu ini,” Ibu menyergah.

“Dzikir itu jangan dihitung-hitung. Allah sedetikpun tidak pernah lupa mengingat kita, masa kita dzikir mengingat Allah 10 menit saja keberatan,” kata bapak.

“Lha tapi emang lama banget kok, pak,” imbuh dek Inas.

“Sudahlah, tiap orang ada maqamnya sendiri-sendiri. Maqam kita sama maqamnya bapak beda,” putus mbak Ning.

Mbak Ning yang paling sabar dan nurut di antara kami. Di antara putra-putrinya, saya yang paling tidak sabaran. Dek Inas masih agak mendingan. Dengan agak kurang ajar, kadang saya suka menghitung-hitung, berapa menit waktu yang dihabiskan bapak untuk berdzikir seusai sholat. Dan itu sama dengan, berapa lama saya harus duduk diam di pesolatan. Lalu dari sekian waktu itu, berapa lama yang benar-benar saya gunakan untuk berdzikir, berapa lama yang saya gunakan untuk hampa menatapi kuku-kuku jemari. Waktu yang saya gunakan untuk menekuni kuku-kuku jemari itu bisa saya gunakan untuk…menghitung pelan angka 1-300! Sangat rasional dan matematis.

Begitulah. Sejak saya lahir, kanak-kanak, sekolah, kuliah, sampai sekarang saya lulus kuliah, perdebatan kami tentang dzikir bapak yang 100 kali itu kadang-kadang masih suka muncul. Tarikan nafas panjang kami seolah baru saja menyelesaikan seratus soal ujian itu pun acapkali terdengar selepas dzikir bapak yang panjang. Menghadirkan kegelian dan sekaligus rasa kangen ketika saya jauh dari rumah.

***

Sebulan lalu, ada seorang lelaki datang ke rumah. “Dia mau melamarmu,” kata bapak. Aku tak tahu menahu soal dia. Tapi kata bapak, dia lelaki yang saleh dan baik akhlaknya.

“Anak teman madrasah tsanawiyah bapak. Anaknya saleh dan cerdas. Tidak kaya, tapi insya Allah bisa memberimu nafkah,” kata bapak. Lima tahun lebih tua. Satu dua kali aku bertemu dengannya, menurutku dia memang agak mirip dengan bapak. Entah apanya. Mungkin rona wajahnya yang adem menentramkan, sikapnya yang kadang canggung tapi hangat, kata-katanya yang tak banyak, dan entah apa lagi. Kuiyakan saja lelaki itu.

Selepas Maghrib ini, aku tak kuasa menahan tanya. Ini malam keduaku bersama laki-laki itu, setelah sah menjadi istrinya. Masih banyak yang tak kupahami dari kebiasaan-kebiasaannya. Tapi, yang membuatku heran, lelaki ini berdzikir lebih lama daripada bapak.

Kemarin, pada malam pertama kami, dzikirnya selepas isya juga lama sekali. Mungkin, karena malam pertama. Mungkin ia ingin banyak-banyak mengucapkan doa syukur, atau ingin menikmati kebersamaan kami lebih lama dalam sholat, atau mungkin bingung harus bagaimana bersikap denganku hingga melama-lamakan dzikirnya, atau apalah aku tak tahu. Aku mencoba membikin rasionalisasi.

Ketika Subuh tadi ia berlaku demikian, aku masih membikin rasionalisasi. Masih efek malam pertama. Bisa jadi ditambah dzikir pagi dan petang atau apalah. Ibnu Taimiyah juga terkenal dengan dzikir ba’da subuhnya yang sangat panjang. Wajar.

Tadi duhur dan asar ia tak sholat di rumah. Aku tak tahu. Tapi, maghrib ini, dzikirnya benar-benar lama. Jauh lebih lama daripada bapak, seperti malam kemarin. Tidak mungkin ini karena alasan ia canggung atau gugup denganku. Kami sudah cukup cair. Aku jadi tidak bisa konsentrasi memikirkan soal dzikir itu.

Setelah waktu yang lama, akhirnya sampai juga ia di ujung dzikir. …walhamdulillahi rabbil ‘alamin… Dia berbalik dan mengulurkan tangan kanannya padaku. Kusambut dengan tanya.

“Mas, kok dzikirnya lama banget sih.”

“Kenapa to, dek?”

“Mas dzikir berapa kali?”

“Seribu kali.”

“Seribu kali?”

Ia hanya tersenyum kalem. Persis seperti bapak.

Rabbi, kualat saya!

-Surakarta, 14 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s