Catatan

Jaringan Teks


Sekedar intermezo di sela-sela pengembaraan pikiran menyusun tesis.

Gara-gara tesis, sekarang saya harus bercengkerama dengan dua naskah pegon. Bercengkerama dalam arti yang sebenar-benarnya. Tidak hanya mengkaji aksara (sebagaimana yang saya kehendaki di awal), tapi juga menelisik kandungan isi, pengarang, dan unsur-unsur eksternal lain yang meliputinya. Awalnya membikin frustasi, tapi lama-lama membikin saya jatuh cinta. Dan saya harus sujud syukur bahwasanya saya mendapatkan partner of crime yang mumpuni untuk membaca teks-teks di atas.

Ini memang di luar perhitungan. Gagasan awal saya hanya untuk menguraikan: aksara pegon dan tradisi intelektual ulama Jawa. Dikaji lewat naskah-naskah Islam. Karena saya hanya hendak mengkaji AKSARA, saya tidak mau repot-repot mengurusi tentang kandungan isi naskah. Cukup saya tahu garis besar isinya. Tapi, ternyata tidak bisa!

Naskah pegon yang menemani saya akhir-akhir ini adalah Serat Munjiyat dan Singir Parase Nabi. Serat Munjiyat merupakan ikhtisar kitab Ihya’ Ulumuddin jilid 3 dan 4 yang ditulis oleh Kyai Saleh Darat atau KH. Muhammad Shalih bin Umar as Samarani. Konon, dialah guru RA. Kartini. Kyai Saleh Darat banyak menulis kitab-kitab dalam bahasa Jawa dengan aksara pegon, beberapa di antaranya merupakan ikhtisar atau saduran dari kitab berbahasa Arab. Kitab-kitab berbahasa Jawa tersebut sengaja ditujukan bagi orang-orang awam yang ingin memahami agama Islam, tetapi tidak menguasai bahasa Arab. Serat Munjiyat sendiri ditulis pada 1903 M, dengan cetakan litografi. Bab pertama menjelaskan sifat muhlikat, bab kedua menjelaskan sifat munjiyat, dan terakhir dzikrul maut.

Naskah Singir Parase Nabi, mengisahkan peristiwa ketika Nabi bercukur di hadapan Allah, oleh malaikat Jibril. Liaw Yock Fang dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik mencatat ada naskah serupa di alam Melayu, yakni Hikayat Nabi Bercukur. Saya bandingkan isi kedua naskah ini, secara garis besar sama persis. Sebagaimana naskah Islam-Jawa lainnya, kemungkinan besar naskah Singir Parase Nabi ini menyadur dari teks awal yang berbahasa Melayu. Naskah ini dianggap sebagai ajaran sesat oleh orang-orang solih, demikian catatan pinggir yang tertulis dalam naskah Hikayat Nabi Bercukur yang tersimpan di Leiden. Pasalnya, naskah ini diperlakukan memiliki kekuatan magis seperti jimat. Jika membaca naskah ini berapa kali, maka akan diampuni dosa-dosanya. Jika menyimpan naskah ini, maka akan selamat dari marabahaya. Barangsiapa yang menelantarkannya, maka akan celaka. Dsb.

Baik, dari dua naskah itu, ada beberapa hal yang saya pikirkan.

  1. Jaringan teks

Saya sibuk dengan pikiran tentang jaringan teks. Roland Barthes bilang, teks adalah jalinan kutipan dari pusat-pusat kebudayaan yang tak terkira banyaknya di seluruh dunia. Satu teks bisa dihasilkan dari hasil dialog antara puluhan bahkan ratusan teks lain. Sementara, dunia Islam meliputi satu kawasan yang sangat luas, membentang dari jazirah Arab, Afrika, hingga Nusantara. Dialog dalam teks-teks Islam tersebut mewakili hubungan antar ruang yang luas. Serat Munjiyat disadur dari Ihya’ Al Ghazali (Jawa-Arab). Singir Parase Nabi dari Hikayat Nabi Bercukur dari adaptasi puisi Arab (Jawa-Melayu-Arab). Dalam proses dialog ruang tersebut, juga berlaku dialog budaya. Setelah teks tersebut disadur/diikhtisar dalam bahasa Jawa, unsur-unsur budaya Jawa serta merta masuk ke dalamnya.

  1. Penulis sebagai pembaca teks awal yang tidak lepas dari latar belakang sosiokulturalnya.

Ketika seseorang membaca teks, ia akan memahami teks tersebut dengan satu cara berpikir yang dipengaruhi oleh latar belakang sosio-kulturalnya. Pada tahap selanjutnya, ketika dia menuliskan ikhtisar atas apa yang dibacanya itu, -apalagi jika dia sudah membuat segmentasi sasaran tulisan tersebut- tidak pelak dia akan melakukan penyesuaian-penyesuaian. A menjadi A’. Demikianlah. Setelah Ihya’ masuk ke Jawa dan diterima oleh alam pikiran orang Jawa, Ihya’ akan dipahami dengan cara berpikir orang Jawa. Atas kesuksesan Kyai Saleh Darat mengikhtisarkannya, saya tidak merasa sedang membaca Ihya’ yang bahasa Arab itu, tapi membaca kitabnya orang Jawa. Mungkin, oleh sebab bahasa juga. Tapi, karena sebab bahasa itu pula, maka unsur budaya itu pasti akan masuk ke dalam teks.

Ini barangkali khas kajian anak sastra. Saya belum tahu, teori apa yang pas untuk membahas ini. Sosiologi Sastra dengan Strukturalisme genetik-nya Goldmann atau Teori Resepsi-nya Jauss. Entah, saya belum tahu.

  1. Sastra Tasawuf

Ketika mendengar kata Ihya’ Ulumuddin, saya kira akan mengkaji fiqh. Saya sudah hendak angkat tangan duluan. Tapi syukurlah, yang diikhtisar jilid 3-4. Dari situ, bisa dilihat juga kecenderungan ajaran Islam yang berkembang tempo dulu. Pertama-tama, masyarakat Jawa menerima tasawuf, baru setelah itu fiqh. Jadi, sastra tasawuf memainkan peranan penting dalam tradisi intelektual ulama Islam Jawa tempo dulu.

Catat juga, sastra Islam ketika masuk ke alam Melayu tidak sama bentuknya dengan di Jawa. Hikayat, syair, pantun itu khas Melayu. Suluk, babad, singir, itu Jawa banget.

  1. Jimat

“Dianggap sesat oleh orang-orang solih.” Naskah Singir Parase Nabi jadi tambah menarik setelah saya tahu adanya respon demikian. Orang Jawa jaman dulu, sekalipun sudah ketemu Islam, tapi tidak bisa lepas sepenuhnya dari tradisi nenek moyang yang sudah terlanjur mapan itu. Mereka masih percaya pada jimat, rajah, mantra, ajian, dsb.

Sayang sekali, naskah Singir Nabi ini tidak diketahui siapa penulisnya. Apakah yang menulis kyai? Orang kraton? Atau siapa?

Tapi, menurut katalog, naskah ini biasa dibacakan dalam kegiatan Singiran, apabila ada keperluan tertentu dalam rangka peringatan daur hidup. Kalau benar begitu, bukankah teks ini juga merupakan tradisi lisan masyarakat umum?

  1. Aksara Pegon

Van der Molen bilang, adalah aneh bahwa ketika masuk ke Jawa, aksara Arab (pegon) tetap tidak bisa menggeser aksara Jawa, sementara di Melayu dan kawasan lain, aksara Arab ketika masuk langsung bisa menggeser dominasi aksara lokal. Di Yogyakarta, kerajaannya juga disebut kasultanan. Rajanya juga bergelar sultan. Tapi identitas Jawa, sekali lagi Jawa, tidak terkalahkan. Dalam tradisi tulis, akhirnya yang muncul adalah polarisasi antara tradisi kraton dan tradisi pesantren. Sistem aksara menjadi salah satu faktor kunci pembeda kedua tradisi tersebut. Aksara Jawa dan aksara pegon. Tapi, kutub itu tidak selamanya bertentangan. Kadang juga saling meminjam, saling mempengaruhi, dan berdampingan harmonis.

Seperti minyak dan air, tidak bisa bersatu, tapi bisa berdampingan… (*iklan Indomie)

Well, saya sangat butuh kajian-kajian awal tentang aksara Arab Pegon.

Menarik juga untuk dibandingkan, bahwa ada variasi-variasi dalam penulisan aksara pegon. Pegon dalam Singir Nabi tidak sama dengan pegon dalam Serat Munjiyat. Khususnya untuk huruf-huruf tertentu yang fonetiknya memang tidak ada dalam aksara Arab. Pegon memang tidak punya EYD ya? Hahaa. Sejauh ini, yang saya dapat panduan penulisan pegon dari Krapyak.

Sampai di sini, saya tercenung. Serius amat yak? Sebenarnya saya yang berpikir terlalu dalam, atau memang itu sudah sewajarnya dipikirkan, atau jangan-jangan apa yang saya pikirkan itu masih sangat permukaan?

Sistem Pertesisan

Terus terang, saya sudah tidak percaya lagi pada sistem pertesisan di negeri kita. (Inget satu sesi stand up comedy-nya Raditya Dika? Sistem Perpacaran di Negeri Kita) Tesis yang baik itu yang kelar. Terlalu banyak kaidah yang harus dipatuhi oleh sebuah tesis, yang membuatnya tidak bisa bebas menguraikan segala sesuatu. Linieritas dengan bidang studi, kehendak dan kompetensi dosen pembimbing, syarat teknis penulisan tesis, dan lain-lain. Maka dari itu, kalau mau serius meneliti sesuatu, saya lebih menyarankan untuk membikin saja penelitian mandiri. Jadikan tesis sebagai penelitian awal. Nanti, kembangkan di luar dalam penelitian mandiri. Ruang gerak lebih luas, cara penyampaian tidak terbatas, dan anda tidak harus peduli apakah itu sesuai dengan bidang studi kita atau tidak selama kita memang menguasai bidang itu.

Cepat Tesis: Edisi Gagal Stand Up

Tips cepat selesai tesis adalah cari supervisor atau mandor atau sesuatu hal serupa yang bisa menekan Anda untuk cepat merampungkan tesis. Misalnya, dikejar tanggal nikah. Lalu, bagaimana caranya bisa dikejar tanggal nikah kalau belum tahu dengan siapa akan menikah? Baik, ada 2 versi. *Just kidding, tidak untuk dipraktekkan.

Versi 1

Si A     : Pak, saya mau daftar nikah.

KUA   : Ya, akadnya tanggal berapa, mbak?

Si A     : 19 November 2014.

KUA   : Nama calon laki-lakinya?

Si A     : Dikosongi dulu aja, pak.

KUA   : Lho, kok dikosongi? Ini bukan soal ujian, mbak.

Si A     : Iya, tapi masalahnya saya belum tahu jawabannya pak. Nanti kalau sudah tahu siapa calon laki-lakinya, baru diisi.

KUA   : ???? (SUDAH SANA PULANG DULU!)

Versi 2

Si A     : Pak, saya mau daftar nikah.

KUA   : Ya, akadnya tanggal berapa, mbak?

Si A     : 19 November 2014.

KUA   : Nama calon laki-lakinya?

Si A     : X bin Y.

Pada tanggal 19 November 2014…

Si A     : Asslmkm. Kamu dimana? Sudah ditunggu penghulu.

Si X     : Lho, emang ada apa?

Si A     : Kita hari ini nikah.

Si X     : Nikah???

Si A     : Iya, saya sudah daftarkan pernikahan kita ke KUA. Hari ini akadnya.

Si X     : Apppaaaa???? (Pingsan.)

Salam untuk kalian yang juga sedang mengerjakan tesis, sedang menyiapkan proposal, sedang mencari judul, atau hanya tinggal nunggu ujian. Semoga berkah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s