Sajak

Kawan Sepermainan


Kawan Sepermainan

-Untuk Mbak Ning,

 

Aku ingin berlari melintasi waktu

Kembali menjemput masa kanak-kanak kita

Yang gemilang.

Seperti album foto hitam putih yang berdebu

Satu persatu ingatan

Kubuka kembali

Saat kita berlari di bawah hujan tanpa halang rintang

Dulu kita bisa membikin tanah liat menjadi bakwan

Dan daun jambu menjadi duit-duitan

Kepompong di pohon wesen itu,

Bunga kalak asu yang anggun itu,

Kepik emas di bakung di tepi sawah itu,

Wader dan kepiting di alir air kecil dekat sawah itu,

Saat blusukan mencari ciplukan

Jajan cilok, dawet, dan es dong-dong

Atau membikin ulah di pabrik; di antara tumpukan jerami dan deruman mesin alat berat

“Itu dia, bocah-bocah cilik yang dulu berayun-ayun di batangku,

Kini telah dewasa,” ucap pohon mangga.

Yang diamini oleh pohon jambu, wesen, kersen, bakung, dan rumput lapangan

Sawah itu,

masihkah hijau menghampar?

Pabrik jamur merang itu,

masihkah menyisakan kenangan di antara reruntuhan?

Tapi pohon kersen itu barangkali masih ada.

Pohon serut di pinggir jalan juga,

Yang katanya dijaga genderuwo

Sekarang,

Apakah aku yang terlalu sibuk dengan hidupku?

Kau yang terlalu canggung menyapaku?

Atau jarak-waktu yang sengaja kompromi membikin sekat itu?

Kita selalu kepentok pada nostalgia!

Mainlah ke rumahku!

Bila kau tak sibuk mengurus sawah,

Menjemur gabah,

Atau menyapu halaman rumah.

DSC06787Pematang Sawah

 

Ingatkah kau pada setiap pagi yang kita lalui,

Saat embun menempel di telapak sepatu kita

Berangkat sekolah

Menyusuri pematang sawah yang hijau senantiasa.

Nanti siang,

Kalau kita lapar sebelum sampai rumah

Karena tadi tak ada uang jajan

Kita panjat pohon jambu biji itu

Yang melengkung berayun-ayun di bibir pematang itu

Sembari manis-getir,

Mengisahkan kegagalan ulangan tadi pagi

Atau kejahilan teman sekelas.

Di ujung desa itu, setelah hamparan sawah,

Kita akan meresapi tetes-tetes tebu

Tebu milik pabrik jamur merang yang sekarang bangkrut itu

Agar tak haus tenggorokan,

Setelah bercanda sepanjang siang.

Di sana nanti kita juga akan temui kawan-kawan sekelas,

Yang tengah mengerati batang tebu degan cutter.

Oh, ya begitulah!

Kita memang mencuri diam-diam,

tapi berjamaah, dengan persetujuan diam semua khalayak.

Paling hanya mandor pengawas,

Yang sekali dua meneriaki kita dengan geram. Lalu kita berlari sambil tertawa.

Untunglah, kita tidak jadi birokrat.

Mungkin kalau jadi, kita akan korup, mbak Ning.

Mengerati anggaran seperti mengerati tebu pabrik.

Kalau asar,

Itu baru tanda kita harus pulang

Sebab kita harus ngaji iqra di mushola.

Sholat duhur,

Tadi sudah di sekolah bukan?

Ramadhan, Subuh Itu

 

Ingatkah kau pada kenakalanku yang bodoh?

Ramadhan, subuh itu.

Kau berlari sambil menangis histeris

“Lihat, ada matahari terbit di Barat!

Hari ini kiamat!” seruku.

Bapak… Ibu…

Kau berseru-seru.

Padahal itu hanya purnama yang hendak terbenam.

Mencorong besar bagai tampah yang dipakai simbah untuk mengiteri gabah.

Kebodohan itu akan selalu kukenangkan,

Dengan penyesalan yang menggelikan.

Tapi bila waktu itu benar kiamat,

Manusia seperti laron yang beterbangan

Gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan!

Sajak kenangan ini takkan tersusun.

Dan,

Kau takkan berjumpa dengan mas-mu yang baik itu.

Marilah kita berterima kasih, mbak Ning,

Itu hanya kenakalanku.

Kita akan bersama menjemput-Nya

Bila esok kiamat tiba,

sebagai bukan kenakalanku.

Pada kawan sepermainan, selalu ada kerinduan membentang untuknya yang tak bisa lagi kita terjemahkan sepolos dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s