Cerpen

MPRET


Setiap yang mendengar dia memperkenalkan diri, minimal pasti butuh satu pertanyaan untuk memastikan apakah mereka tidak salah dengar. Dia memperkenalkan diri sebagai: MPRET. Ah yang bener? Ya, nama saya Mpret. Meski dengan dahi berkerut heran, orang-orang pun lantas memanggilnya Mpret. Tapi, Mpret bukan nama sebenarnya. Itu nama panggung atau nama beken saja. MPRET. Sebab, Mpret suka pada sensasi yang timbul dari perpaduan vokal yang diapit empat konsonan itu. Kalau orang memanggilnya dari jauh, nadanya terdengar merdu mendayu-dayu: MPRREEEEETTT. Seperti kentut. Dibutuhkan sekaligus dilecehkan dan disingkiri.

Tapi, Mpret bukan nama sebenarnya. Orang tua Mpret telah memberi nama yang bagus untuk anak sulung mereka. Mpret saja yang merasa namanya itu terlalu bagus, terlalu tinggi, terlalu berat. Dia kabotan memikul nama itu. Dia pengen nama yang sederhana saja. Dia pengen nama yang bisa membuat orang cepat akrab dengan dia. Cepat ingat dengan dia. Nama sehari-hari yang dekat dengan rakyat. MPRET.

Orang tuanya memberi nama: Raden Sastradiningrat Premana Kaliyan Kabecikan. Sebuah doa agar anaknya bisa menjadi carik, guru, atau priyayi yang tetap setia pada kebenaran. Itu impian yang indah. Apalagi bagi bapak-ibu Mpret, wong ndesa di sudut gersang kabupaten Gunungkidul. Tapi Mpret telah membuang jauh-jauh impian itu sejak dia bisa membedakan baik-buruk dunia. Dia pengen jadi manusia bebas saja. Bebas berpikir, bebas bicara, bebas bertindak, dan juga bebas kentut.

Bukan Mpret namanya kalau tidak kurang ajar. Kekurangajarannya yang pertama terjadi ketika ia mengganti nama pemberian orang tuanya yang sarat makna itu menjadi Mpret. Tapi, Mpret bukan laki-laki yang sembrono dan semaunya sendiri. Dia orang yang berkarakter, berkomitmen, dan berintegritas. Garis wajahnya tegas dan keras. Matanya tajam dan fokus. Gerak-geriknya mantap tak bisa ditawar-tawar. Posturnya lumayan tinggi. Dari segi fisik, Mpret memang terbilang tampan.

Tapi, dia jauh dari kesan pria metroseksual yang gemar dandan. Mpret tak pernah tampak mengenakan jas dan dasi, kecuali saat ia dipaksa melamar kerja oleh ibunya 5 tahun lalu. Apalagi parfum mahal. Mpret orang yang apa adanya. Ia hanya terbiasa memakai kaos cekak, celana kombor, dan sandal swallow. Persis seperti marbot masjid.

Jangan salah, Mpret memang religius. Dia tak pernah alpa sholat lima waktu, sholat tahajud, dan puasa senin kamis. Mpret religius, sekaligus beringas dan ganas. Dia berani dan tegas. Tak mau kompromi pada apa yang dianggapnya salah. Sekaligus lihai bermuslihat. Dia cerdas dan awas. Lulusan sebuah universitas ternama di Yogyakarta, yang warna almamaternya mirip karung goni. Tak tanggung-tanggung, teknik nuklir! Mpret memang anti mainstream. Alih-alih menjadi teknokrat, ia lebih pilih menjadi manusia jalanan. Ia muak dengan kemunafikan, tidak suka diatur, dan benci pada birokrasi yang ruwet. Tapi, ia sangat ramah, jujur, terbuka, dan bersahaja. Mpret memanglah perpaduan manusia yang indah.

Sekarang, Mpret hidup sendiri. Istrinya pergi kawin lagi dengan pengusaha kaya dari negeri seberang timur sana. Padahal, dulu istrinya yang mengejar-ngejar dia. Katanya, dia jatuh cinta pada Mpret karena Mpret punya prinsip hidup yang tegas dan setia. Tapi semuanya omong kosong. Dua tahun pasca perkawinan mereka, istri Mpret mulai sering marah-marah. Dia tidak tahan diajak hidup menderita. Istrinya mulai menjalin affair dengan pengusaha itu. Rentang-renteng kemana-mana berdua.

Daripada makan hati setiap hari, Mpret memilih untuk berbesar hati. Ia relakan istrinya kawin lagi dengan pengusaha dari seberang timur itu. Kadang, ia nelangsa. Tapi, jalan hidup yang dipilihnya memang berat. Tidak apa-apa. Mpret toh tetap punya kawan setia yang menemaninya 24 sehari. Melly namanya. Seekor ayam ketawa yang ia beli 300ribu di pasar hewan, seminggu setelah perkawinan istrinya. Bukannya ikut-ikutan Cindelaras, Mpret hanya tidak mau kalah dengan anak muda. Dia pengen move on.

Nah, sekarang Melly ini yang bikin gara-gara. Sudah tiga hari lamanya Melly bermuram durja. Ia tampak selalu ingin keluar dari kurungan. Awalnya, Mpret cemas mengira Melly mengalami flu burung, tetelo, atau sebangsanya. Tapi, begitu pintu kurungan ia buka, Melly sontak kabur… Terbirit-birit ayam ketawa seharga 300ribu itu lari ke rumah tetangga sebelah. Di bawah pohon mangga, ayam jago tetangga menantinya sambil mengepak-epakkan sayap. Mereka kawin di bawah pohon mangga.

Tahulah Mpret sekarang. Melly jatuh cinta. Ia tidak bisa lagi dilepaskan dari ayam jago tetangga sebelah itu. Di dalam kurungan, ia matanya menatap hampa, tak mau makan ataupun minum. Alamak, Mpret tidak tahu bagaimana ayam kampung itu bisa memikat hati Melly-nya. Setelah melepaskan istrinya, apakah dia harus melepaskan Melly juga? Apakah Melly tidak tahu bahwa dialah kawan hidup satu-satunya bagi Mpret? Atau memang sudah jadi takdir Mpret untuk selalu ditinggalkan wanita (betina) yang dipilihnya?

Mpret tidak tahu apakah dia harus cemburu pada jago itu dan mengurung Melly seharian di kurungan atau bagaimana. Atau dia harus membikin perhitungan dengan ayam kampung yang sudah tega bikin Melly mabuk asmara itu? Tapi, masalahnya Mpret merasa ia tidak level beradu kejantanan dengan seekor ayam.

Sebenarnya, Mpret tidak hanya memikirkan soal dirinya yang akan ditinggalkan oleh Melly. Tapi dia juga memikirkan masa depan Melly jika ia kawin dengan jago itu. Meskipun tampak macho, jago itu cuma ayam kampung biasa. Jago itu kalau dijual paling banter laku 100rb, sedangkan Melly adalah ayam ketawa seharga 300ribu. Bukankah itu namanya tidak setara, tidak sekufu’? Kasihan anak-anaknya nanti. Anaknya akan menjadi ayam indo yang terhina, manusia kelas dua, ibarat anak-anak Tuan Mellema dengan Sanikem di novel Pram. Harusnya Melly bisa menjaga kehormatannya dengan tidak kawin pada sembarang ayam.

Melly..Melly.. Sudah tiga hari. Mpret pusing. Selepas ashar dia mondar-mandir di jalan depan rumah. Masalah ini sangat rumit. Kalau hanya soal sengkarut pilpres sih Mpret tidak peduli. Tapi ini masalah besar menyangkut: teman hidupnya. Bukan main-main.

“Kenapa, mas Mpret? Dari tadi kok mondar-mandir, lagi galau ya?” tanya Yu Nah, janda beranak tiga yang buka warung di depan rumahnya.

B*drex 1, Yu!

One thought on “MPRET

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s