Catatan / Sajak

16 Tahun Buru


Di kawasan lereng Merapi-Merbabu, banyak desa yang dulunya menjadi basis PKI. Kami sedang mampir sholat di sebuah masjid desa, ketika saya lihat kakek itu mencabuti rumput seorang diri di pelataran masjid. Saya pun membuka obrolan. Sebuah pertemuan yang mengantarkan saya pada satu pengalaman ‘merasakan’ Buru, bukan hanya ‘memikirkan’ Buru. Tidak seratus persen tepat sebagaimana yang diceritakan kakek, tapi tokoh, latar tempat, waktu, dan bingkai peristiwa, nyata adanya.

16 Tahun Buru, Dzikir Rerumputan

Pak tua berkopiah, bersarung, berkoko putih
Mencabuti rumput di halaman masjid
Siang-sore itu
Sendiri

“Dalem e pundi, pak?”
Kita selalu membutuhkan pertanyaan pembuka
Tentang hal-hal sederhana di sekitar kita
Tentang awan, tentang hujan, tentang angin, tentang rumah,
Apapun yang bisa dijangkau segera

Aku menjajari di sampingnya
Mencabuti rumput agar leluasa berbincang
Dan segera kuingat nenekku
Yang juga kerap mencabuti rumput
Di halaman.

“Ten mriki, mburi masjid niku. Kula gaweane resik-resik masjid mriki, mbak.”
“Piyambakan mawon, napa kalih ibu?”
Sambil terkekeh, kakek itu bilang,
“Kula e namung tiyang gelandangan, urip piyambakan, mbak.”
Aku tersenyum, menelengkan kepala.
Bersiap mendengarkan cerita…

“Saya lahir tahun 1950.
Saya sudah bisa mencangkul, ikut truk menjual sayur ke pasar, dan hampir menikah…
saat pecah peristiwa Geger 65.

Pas saya masih kecil…
Masjid ini belum ada.
Tapi semua Islam. Semua Islam.
Kami sholat di langgar jauh di kampung bawah sana.
(telunjuknya membawaku ke deretan rumah-rumah yang tersusun acak di kaki lereng gunung)

Tiba-tiba, pecah Geger 65.
Katanya, PKI menculik dan membunuh jendral-jendral di Lubang Buaya.
Tentara-tentara pada masuk ke kampung.
Orang-orang ditangkapi. Saya juga. Adik saya juga.
Banyak yang dibunuh,
banyak yang dipukuli,
banyak yang dibawa pergi. Entah kemana.

Dulu, ini kampung PKI. Orang-orang nyoblos PKI pas pemilu.
Tanpa kenal apa itu Marxisme, siapa itu Karl Marx, Lenin, Stalin, atau Aidit,
Emboh, kami tidak tahu!
Kami tahunya PKI itu partai.
Saya juga cuma tukang nyatet-nyatet.
Karena tidak ada yang bisa baca tulis selain saya.
Kami tak tahu apa-apa.
Rakyat kecil, tahunya cuma nderek saja.

Sejarah. Dari sejarah kita belajar.
Orang bilang rakyat seperti saya ini jadi korban sejarah,
Saya tidak tahu,
Tapi, sesal saya kemudian,
Ilmu itu harus mendahului perkataan dan perbuatan.
Segala sesuatu harus ada ilmunya.
Jangan asal nderek saja.

Perjuangan, kalau dilakukan dengan sadar,
Segala resiko adalah konsekuensi perjuangan yang harus kamu tanggungkan
Tapi kalau hanya ikut-ikutan,
segala resiko adalah konsekuensi kecerobohan.

Saya bersyukur tidak dipenggal dan dibuang ke kali.
Kali-kali sudah pada berbau amis, merah darah menggenang
Mayat busuk tak ada yang berani menguburkan

Saya tidak dipenggal, saya dibuang…
Ke pulau jauh di Timur,
Buru!
Buru, ya Buru!
Pramoedya? Ya, saya tahu Pramoedya.
Iya, iya.. Pramoedya yang pengarang itu. Iya, saya tahu.
Saya tahu tapi tidak kenal.

Derita…. Oh, derita, Nduk.
Kami makan popor senapan dan makian.
Saban pagi saya membersihkan lapangan,
mencabuti rumput,
membuka hutan untuk tinggal.
Kawan-kawan mati
entah karena senjata, penyakit, atau sekedar mati merana.
Yang hidup, banyak yang hilang iman. Tidak percaya Tuhan.
Kemana Tuhan ketika aku menderita, mereka bertanya…
Hilang iman.

Tapi alhamdulillah saya tidak, Nduk.
Saya tetep Islam. Sampe sekarang saya Islam.

Sudah Buru,
saya pulang tahun 1981.
16 tahun di Buru,
Saya tidak punya apa-apa.
Sudah tua, tidak punya apa-apa.

Dulu, orang-orang yang dicap bekas PKI tidak punya harga
Kami ditolak dimana-mana
Adik saya jadi Kristen.
Saya tak lagi ada keluarga. Tak ada rumah. Sebatang kara.
Tidak punya apa-apa.

Lantas saya ke masjid, yang dulu belum jadi ini…
Para kyai dulu bilang, masjid rumah-Nya,
Tempat kepahitan, kegetiran, dan kerisauan hidup berpulang.

Kita tidak pernah tahu,
apa yang menjadi lantaran Dia menunjukkan hidayah-Nya
Dulu, saban hari saya mencabuti rumput di Buru,
Di sini
Rumput-rumput berdzikir…
Mereka berdzikir menunjuki saya
Ketika saya tiba di halaman-Nya.

Dalam papa dan nista saya,
Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Saya langsung tahu.
Di sini hidup saya.

“Apakah mencabuti rumput seperti ini juga yang bapak lakukan ketika baru saja tiba?”
Kakek itu mengangguk lamat-lamat,
“Selama 33 tahun.”

33 tahun.
Rumput di halaman telah begitu bersih.

-Lereng Merapi-Merbabu, Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s