Catatan

Puisi


Tangled-Movie-2010-screencaps-tangled-20600831-1876-1080

Menulis puisi butuh kepekaan, keperluan untuk menghayati setiap detail, mengikuti tarian rama-rama seraya menggoda daun yang jatuh berputar-putar tertiup angin. Sambil sesekali juga menjatuhkan air mata bersama tangis pengemis kecil yang mengiba. Kemudian berteriak garang, memaki deru serak roda kehidupan. Lantas belajar menjadi bijak, berpikir melintasi yang tak tampak, berdzikir bersama alunan sendu rerumputan yang terinjak.

Menulis puisi butuh kepekaan. Mungkin karena itulah, orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati bisa menulis puisi hingga berderet-deret. Karena hati mereka dalam kondisi paling lembut, paling peka, paling sensitif. Seolah bagi mereka, satu detak jarum yang samar pun sanggup menghadirkan ribuan makna.

Menulis puisi. Bagaimana memadatkan perasaan atau peristiwa dalam beberapa bait saja? Menjerat peristiwa yang melintas berkilat-kilat hanya dalam sekali tangkap. Ia menuntut kemampuan linguistik tinggi. Menulis puisi bukan sekedar kepandaian mengutak-atik kata-kata, mengocok, melempar, menghambur, lantas merangkainya seperti anak kecil menyusun lego. Menulis puisi adalah bagaimana berjalan bersama irama kata-kata itu sendiri, bernafas dalam jiwa sang kata. Bahasa jiwa kepada jiwa.

Saya hendak menulis puisi. Tapi saya tahu tak pandai menulis puisi. Walau hanya sebait puisi cinta, luapan rindu yang menggenang.

Untukmu, apakah aku jadi bisa?

Suatu ketika Ki Ageng Mangir terpikat. Terpikat oleh seorang penari keliling. Gadis ayu berkulit kuning langsat dengan mata jeli. Geraknya lemah gemulai. Tuturnya lembut. Sungguh tak layak sebagai seorang penari keliling.

“Jadilah sekar yang harum mewangi di istanaku. ”

Gadis penari itu tertunduk. Orang menafsirkan diam berarti ya, walau kadang ia lebih mewakili kebimbangan semata. Ki Ageng Mangir tak sadar, ia baru saja masuk ke dalam perangkap sang penari ayu puteri Senopati.

Tapi cinta tak mengenal siapa atau siapa. Pembayun pun tertawan. Tak bisa melarikan diri dari cintanya. Sungguh, ia mengemban tugas berat dari sang ayahanda. Tapi, siapa tega menyakiti suami tercinta?

Tragedi telah tersurat. Sebagai lelaki, Ki Ageng Mangir mungkin bukan lelaki kuat dan bijaksana. Tapi sebagai pencinta, ia lelaki yang begitu tunduk cintanya pada sang gadis pujaan. Pembayun, padanya terlalu besar cintanya.

Tidak, tak kukehendaki cinta semacam Mangir kepada Pembayun. Yang besar menyala-nyala tapi menghilangkan kekuatan dan kebijaksanaan. Tak kuingini, walau aku tak membawa jerat yang mendua.

FROZEN

Kala kupungut imaji Paulo Coelho, maka cinta adalah melepaskan. Seperti Fatima, sang perempuan gurun, yang tanpa tanya melepaskan Santiago mengejar takdir hidupnya. Melepaskan dengan percaya, menunggu sampai batas waktu tiba…

Yen ing tawang ono lintang…

#di ruang rindu, aku hadir sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s