Catatan

LDK


IMG_6682

Satu fenomena yang barangkali tak terbayang di benak para petinggi Amerika dan sekutunya adalah kenyataan bahwa kini militansi Islam justru tumbuh subur dari kalangan mahasiswa universitas umum, bukan dari mahasiswa universitas Islam. Sejak tahun 1970-an, sejumlah negara Barat telah gencar memberikan beasiswa pendidikan tinggi kepada mahasiswa-mahasiswa IAIN/UIN. Mereka dikirim ke universitas-universitas besar seperti Mc Gill University Canada, Chicago University, dan sebagainya. Jauh dari negeri asal, dalam keterpukauan terhadap segala sesuatu yang berbau Barat sebagai peradaban yang lebih unggul, mereka menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, bahkan tanpa filter lagi.

Barat berusaha untuk memandulkan kekuatan Islam dengan jalan mengacaukan pemahaman Islam dan memasukkan paham-paham asing ke alam pikiran para mahasiswa IAIN yang mempelajari studi Islam. Ini memang jalan yang cerdas, karena penguasaan mereka terhadap sejumlah elit cendekiawan Islam yang vokal telah memudahkan mereka untuk melancarkan misi. Seperti relasi antara guru dan murid yang hegemonis, terlalu berat bagi lulusan-lususan Barat ini untuk mengkritik ajaran gurunya. Mereka yang datang sebagai generasi pertama tersebut menjadi tokoh-tokoh penting yang mengubah haluan IAIN dan corak Islam di Indonesia. Generasi didikan Barat ini bersikap lunak, bahkan ikut mempropagandakan paham-paham yang diajarkan oleh guru-guru mereka di Barat. Liberal, sekular, dan anti radikalisme. Sebaliknya, terhadap kelompok-kelompok Islam yang dinilai fundamentalis, mereka bersikap garang dan mencecar.

Amerika kelihatannya berhasil dalam hal ini, tapi ternyata tidak sepenuhnya. Mereka kecolongan. Mahasiswa-mahasiswa IAIN mungkin berhasil diliberalkan, tapi ada satu kelompok cendekiawan Islam lain yang juga potensial. Mereka itulah kelompok-kelompok muslim yang berada di universitas umum. Karena itu, barangkali saat ini pemahaman Islam di kalangan mahasiswa universitas umum lebih lurus dibandingkan dengan pemahaman mahasiswa IAIN yang sudah banyak diinfiltrasi paham-paham asing. Di sisi lain, faktor meluasnya pergerakan organisasi transnasional dari Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir, tidak dapat dibendung. Inilah dampak lain dari globalisasi dan perkembangan sistem teknologi informasi yang memudahkan penyebaran isu-isu dunia Islam. Kelompok-kelompok transnasional ini memberikan pengaruh luar biasa bagi pembentukan pemahaman keislaman di kalangan sebagian mahasiswa muslim Indonesia.

Ini yang Dr. Aidul Fitriciada bilang, saat ini kelompok fundamentalis baru lahir dari kampus-kampus umum. Mungkin term ‘fundamentalis baru atau neo-fundamentalisme’ kurang tepat, tapi sekedar untuk memudahkan gambaran beliau menggunakan istilah tersebut. Satu generasi baru Islam telah lahir. Satu kelompok sosial yang khas; terlahir dari kalangan intelektual, mereka adalah orang-orang yang memiliki spirit Islam tinggi, militansi kuat, pergerakan nyata, dan bersikap kritis terhadap Barat. Jika meminjam istilah Harry J. Benda dalam The Crescent and The Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation, sejarah modern Indonesia adalah perluasan kaum santri, kaum putihan. Kelompok ini mewadah dalam lembaga-lembaga dakwah kampus yang hampir merata di seluruh kampus di Indonesia.

Di Indonesia, lembaga-lembaga dakwah kampus yang memiliki pengaruh besar berasal dari universitas-universitas umum, seperti ITB, UI, dan UGM. Jika dirunut sejarahnya, rata-rata gerakan Islam kampus mulai mendapat inspirasi setelah diadakannya Latihan Mujahid Dakwah (1974) yang diinisiasi oleh Imaduddin Abdurrahim di Salman ITB. Prakarsa ini segera disambut dengan baik oleh kampus-kampus besar seperti ITB, UI, UGM, ITS, IPB, dan lain-lain. Konstelasi politik Indonesia saat itu –sikap Orba terhadap Islam- juga turut mendukung tumbuh suburnya aktivitas dakwah kampus. Tekanan rezim Orde Baru membangkitkan kesadaran para intelektual Islam untuk bangkit dan melakukan perubahan sosial-politik. M.C. Ricklefs menyebut “pasca NKK/BKK tahun 1977/1978, terjadi relokasi aktivisme mahasiswa ke bawah tanah dan ke masjid. Di UGM, Shalahuddin menjadi pusat aktivitas keagamaan dan politik mahasiswa.”

Yudi Latif dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20. (2010) menyebut tahun 1980-an dan 1990-an juga merupakan masa ‘panen raya’ atau ledakan jumlah intelektual muslim Indonesia dari berbagai gerakan. Pada tahun 1976, jumlah penduduk muslim yang tamat S1 sebesar 75,3% dan terus naik hingga tahun 1995.Kemunculan lembaga dakwah kampus juga tidak lepas dari pengaruh Ikhwanul Muslim, yang di Indonesia mewujud dalam bentuk gerakan tarbiyah. Hingga kini, LDK identik dengan tarbiyah. Tarbiyah berkembang luas di kampus-kampus umum, bahkan mendominasi organisasi kemahasiswaan di sejumlah kampus. Gerakan yang berbasis pada kekuatan kader, bukan kekuatan massa, ini memiliki militansi cukup kuat hingga tataran bawah. Akhir 1998, kader-kader alumni LDK bergerak di ranah politik dengan membentuk Partai Keadilan, sekarang Partai Keadilan Sejahtera.

Mahasiswa-mahasiswa yang terlibat di LDK tidak semua berasal dari kalangan santri atau kalangan yang kuat pemahaman keislamannya. Tidak sedikit yang baru menemukan jati diri keislaman setelah masuk LDK. Oleh karena itu, sebagian di antaranya masih lemah dalam pemahaman keislaman, inilah yang sekaligus menjadi kekurangan LDK. Tapi, intelektualisme yang meluap-luap ditambah idealisme dan semangat yang tinggi membuat mahasiswa-mahasiswa muslim ini cepat dalam menangkap isu-isu dunia Islam dan membikin gerakan. Hal ini menjadi salah satu kekuatan aktivis dakwah kampus. Sebagai kelompok terdidik, mereka dibekali alur berpikir dan kemampuan analisis yang baik.

Terhitung sejak tahun 1970-an, hampir empat dekade lembaga dakwah kampus menjalankan peran. Dulu kami sering bertanya, mengapa generasi awal para pendiri LDK ini tampak jauh lebih matang dibandingkan generasi kita sekarang? Kini, kita sering dihadapkan pada konflik antar harakah dan kurangnya pemahaman aktivis dakwah sendiri terhadap cita-cita gerakan “untuk apa saya melakukan ini”. Ibarat seorang musafir yang tengah menempuh suatu perjalanan panjang untuk mencapai tempat tujuan, kadang-kadang ia mengalami kelelahan atau disorientasi di tengah perjalanan. Maka, ada saat di mana seorang musafir perlu merenung sejenak, “kemana hendak menuju dan untuk apa saya menuju?”

-2406.14:48

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s