Catatan

Filsafat Semu 2048


Apakah kita yang mengalahkan game atau kita yang dikalahkan oleh game? Seorang teman posting game ini di facebook beberapa hari lalu. Penasaran, saya mencobanya. http://gabrielecirulli.github.io/2048/. Satu kali main, dua kali main, tiga kali main, tanpa saya sadari telunjuk saya otomatis pencet try again setiap kali game over. Apakah ada saat-saat tertentu di mana kesadaran manusia tidak bekerja?

Manusia memiliki gerak refleks, tapi apakah “pencet try again” bisa dikatakan sebagai gerak refleks yang jalurnya lewat sumsum tulang belakang dan responsnya cukup membutuhkan waktu sepersekian detik? Di mana peran kesadaran manusia pada saat-saat seperti itu? Games, film, socmed, dan novel adalah bahaya besar yang melumpuhkan kesadaran. Semua berawal dari rasa penasaran atau ingin tahu, berlanjut karena rasa ingin tahu, dan hanya bisa dihentikan dengan cara mengendalikan rasa ingin tahu.

Alkisah, saya juga menginisiasi beberapa pemain baru di Pesma. Dan, mereka ikut addicted. Salah seorang di antaranya sampai semalaman nge-game, try again, again, and again. Tugas berceceran, sementara buku bertebaran. “Kamu harus tanggung jawab. Aku sekarang kecanduan, nge-game terus,” katanya. Saya hanya tertawa. “Bagaimana bisa. Bilanglah sama inisiator pertama.”

Meski begitu, saya bukan pemain yang sukses. Nasib saya tragis, mentok di keping 512. Saya kira keping tertinggi sama seperti game-nya, 2048. Tapi, surprise! Teman saya, sang inisiator pertama, bahkan mencapai keping 4096. Dia lantas memberikan trik game itu. Taruh keping terbesar di pojok, buat pola mengular jangan sampai ke tengah. Tapi, setelah mendapatkan trik pun nasib saya tidak banyak berubah. Bahkan, jauh lebih buruk.

Fokus saya terdistorsi. Yang tadinya fokus bagaimana menciptakan keping nilai terbesar, sekarang fokus bagaimana caranya meletakkan kepingan itu agar berada di pojok sesuai dengan trik yang diberikan teman tersebut. Saya berharap dengan jalan meletakkan keping terbesar saya di pojok, saya bisa mendapatkan keping yang lebih tinggi. Saya jadi lupa pada keping-keping yang lain, tidak mempertimbangkan gerak mereka. Dan, game over! Mungkin itu analogi sederhananya, manusia seringkali terlalu fokus pada alat atau cara sehingga lupa pada tujuan. Pun dalam aktivitas dakwah.

***

2048aHow to play: Use your arrow keys to move the tiles. When two tiles with the same number touch, they merge into one!

Cara kerja game ini sederhana, tapi menarik. Ketika dua keping yang sama angkanya bertemu, they merge into one. Seperti jodoh, jika dua orang dengan frekuensi yang sama bertemu, they merge into one! Ingat, two tiles! Walaupun ada tiga keping yang sama angkanya berjajar, mereka bertiga tidak akan bergabung menjadi satu. Hanya dua, dan dia akan bergabung menjadi satu. Mungkin 2048 tidak suka dipoligami, :p.

Jalan untuk mempertemukan dua keping yang sama angkanya itu pun seringkali butuh perjuangan. Kadang dia terhalang oleh keping-keping lain yang tidak sama angkanya. Perlu strategi untuk menyatukan mereka, dengan sedikit otak-atik atau jalan berputar-putar. Pun ketika dua keping yang sama sudah berjajar, mereka masih butuh sentuhan terakhir. Touch, dan barulah mereka akan bergabung menjadi satu. Kalau dibiarkan, meskipun sampai empat keping angka yang sama berjajar juga tidak akan terjadi apa-apa. Karena itu, butuh ikhtiar. Mempersiapkan diri untuk menerima dan diterima.

Jodoh pun begitu. Saya teringat perkataan teman SMA saya, beberapa hari setelah dia menikah. Kebetulan, dia menikah dengan orang yang sudah cukup lama dia kenal, rumah mereka pun dekat, tapi dengan alasan yang ‘hanya Allah yang tahu’, mereka baru dipertemukan hatinya beberapa bulan sebelum pernikahan. Dia berkelakar, “Jodoh itu memang misteri. Kalau aku tahu dari dulu dia jodohku, udah tak samperin dari dulu-dulu ke rumahnya. Tak ajakin, eh kamu jodohku lho. Ayok nikah.” Tapi begitulah, manusia tidak pernah tahu jalan apa yang terbentang di hadapannya.

Ketika dua keping yang sama nilainya bergabung menjadi satu, apa yang akan terjadi? Nilai bertambah menjadi dua kali lipat. 2 bertemu 2 menjadi 4, 4 bertemu 4 menjadi 8, 8 bertemu 8 menjadi 16, demikian seterusnya hingga angka tak terhingga. Idealnya, pernikahan tidak mengkerdilkan kemampuan seseorang, tapi melipatgandakannya.

Sesuatu yang dulunya tidak dapat dilakukan ketika masih sendiri, menjadi bisa dilakukan ketika sudah berdua. Semakin besar angka kepingan yang bersatu, semakin besar pula angka keping gabungan yang terbentuk. Saling melengkapi satu sama lain, ibarat jari-jemari yang ketika ditautkan akan saling mengisi.

2048 hanya sebuah permainan yang bekerja dengan hukum mekanis tertentu, seperti juga sehelai daun hanyalah sekumpulan sel yang bekerja sesuai hukum biologi tertentu; tapi daun bisa menjadi sebentuk citra estetis di mata pelukis, seperti juga 2048 bisa menjadi sumber filsafat semu di mata saya.

Bukankah 2048 juga ‘teks’ yang multiinterpretable? Hahaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s