Catatan

de Saint-Exupéry


Seorang pelaut tua bernama Santiago tetap bersikeras melaut sendirian di lautan luas Teluk Meksiko dengan sebuah keyakinan bahwa ia masih mampu menangkap ikan besar. Setelah 84 hari melaut tanpa hasil, dengan keyakinan tinggi pada hari ke-85 ia kembali melaut. Teriring wajah sedih pemuda yang biasa menemaninya, dan sinisme dari para pelaut muda, dia berangkat ke laut lepas. Ikan marlin besar memang berhasil ditangkap oleh jalanya, namun butuh waktu dua hari dua malam untuk menguasai ikan besar itu dan membawanya pulang.

Dengan tangan teriris tali jala dan luka di punggungnya, kram di tangan kiri dan keletihan luar biasa, dia berhasil pulang kembali ke pantai. Tapi hanya kepala ikan saja yang tersisa, badan ikan hilang disantap hiu-hiu yang menyerang ikan tangkapannya yang tak bisa dimasukkan ke dalam sampan karena ukuran ikan melebihi sampannya. Apa yang ingin dibuktikan oleh pelaut tua itu? “Manusia bisa dihancurkan, tapi tak bisa ditaklukkan,” demikian kata Ernest Hemingway dalam The Old Man and The Sea (1952). Ini adalah kisah tentang orang-orang yang menolak takluk, sekalipun tengah berada dalam titik kehancurannya yang paling parah. Orang yang takluk begitu saja pada hidup adalah orang yang pengecut. Terlebih orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Bahkan, Alan Ralston pun menolak untuk mati ketika suatu kali pada April 2003, ia terperangkap batu di Robbers Roost, Utah. Petualangannya yang menyenangkan berubah menjadi ancaman maut tatkala ia terjepit di antara celah tebing batu selama 127 jam, tanpa seorang kawan yang bisa ia harapkan untuk menolong. Alih-alih menyerah, pendaki gunung itu memilih memotong tangannya yang terjepit. Kisahnya kemudian diangkat oleh sutradara Danny Boyle dalam film 127 Hours (2010), berdasarkan otobiografi Ralston sendiri yang berjudul Between a Rock and a Hard Place. Tak akan ada yang menyalahkannya seandainya ia memilih diam dan mati perlahan-lahan di antara bebatuan Robbers Roost itu, tapi ia menolak mati. Maka, bunuh diri adalah pertanda ketaklukan manusia yang paling memalukan.

4a1

Manusia bisa dihancurkan, tapi tak bisa ditaklukkan. De Saint-Exupéry pun menolak takluk ketika pada Januari 1935, ia terperangkap selama tiga hari di tengah gurun pasir Libya tanpa cadangan air minum. Ia nyaris mati kehausan sebelum diselamatkan oleh suku Bedouin yang kebetulan lewat. Konon, tubuh manusia hanya mampu bertahan 19 jam tanpa minum. Pada hari pertama, ia masih menemukan setengah liter kopi, seperempat liter anggur putih, beberapa buah anggur dan satu butir jeruk. Tapi pada hari terakhir, ia memaksakan diri minum beberapa teguk ether murni dan alkohol 90 % yang membuat tenggorokannya tercekat.

Ia tak bisa tetap berada di atas bangkai pesawat untuk menunggu diselamatkan. Selama tiga hari, de Saint-Exupéry telah berjalan menyeberangi gurun pasir sejauh hampir 200 km. Berjalan dengan jarak sejauh itu tanpa bekal air minum, ia mengalami berbagai halusinasi. melihat danau, lampu-lampu, dua orang Arab bersandar pada motor, tiga ekor anjing berkejaran, bahkan mendengar suara ayam jago. Dalam keadaan halusinasi, pertama-tama mata yang menipu kita, sementara telinga lebih kuat bertahan. Menjelang akhir ketika telinga telah ikut terkena halusinasi, menerima suara-suara yang sebenarnya tak ada, kehidupannya diselamatkan oleh seorang Bedouin.

“Manusia menemukan dirinya manakala ia harus mengukur kekuatannya sendiri ketika menghadapi suatu hambatan,” demikian tulisnya kemudian hari. Pengalamannya bertahan hidup itu dikisahkan dalam Terre des Hommes (1939), yang kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama dengan kerjasama Forum Jakarta Paris pada tahun 2011, berjudul Bumi Manusia. Suatu judul yang akan segera membawa kita kepada nama Pramoedya Ananta Toer.

Barangkali dari pengalamannya kandas di gurun Libya itulah, de Saint-Exupéry kemudian menulis cerita Le Petit Prince (Pangeran Cilik). Seorang penerbang kandas bersama pesawatnya di sebuah gurun pasir. Dalam halusinasinya, ia bertemu dengan seorang Pangeran Kecil yang mengingatkannya pada masa kanak-kanak yang indah. Le Petit Prince merupakan sebuah cerita kanak-kanak klasik yang penuh teka-teki, sekaligus menjadi salah satu karya berbahasa Prancis yang paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Antoine de Saint-Exupéry termasuk pilot yang merintis dunia penerbangan internasional pada tahun 1920-an dan 1930-an. Ia bertugas mengantarkan pos dari Prancis ke Afrika dan Amerika Selatan, melintasi Gurun Sahara dan Pegunungan Andes. Pada masa itu, seorang penerbang bisa mempertaruhkan nyawanya untuk membuka jalur demi orang lain di masa depan. Ia masih bergabung dengan skuadron pengintai pada masa Perang Dunia II. Namun, De Saint-Exupéry tak pernah kembali sejak penerbangan terakhirnya melewati di atas Laut Tengah pada Juli 1944, hampir pasti karena ditembak oleh tentara Jerman.

Terbang dan menulis adalah kecintaan dalam hidup de Saint-Exupéry. Ia merenungkan segala sesuatu ketika terbang, betapa kecilnya manusia di tengah semesta, sekaligus betapa agungnya manusia karena manusialah yang memberi arti pada semesta. Bintang-bintang di langit hanya sekumpulan cahaya yang berserak tak beraturan, sampai manusia memberikan arti kepadanya; entah sebagai satu bentuk keindahan lahiriah atau petunjuk jalan bagi seorang pelaut. Seorang manusia mewujudkan nilainya sebagai manusia ketika ia mampu memberi arti pada hidup dan menolak takluk.

-10:08, 29-05-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s