Sastra

Satu Akar, Dua Batang


Layaknya sebuah pohon, kesusastraan Indonesia dan Malaysia memiliki akar yang sama. Dari akar yang sama itulah kini tumbuh dua batang pohon, yang berdekatan tapi seolah tak saling mengenal. Tradisi kesusastraan Indonesia-Malaysia berasal dari akar yang sama, namun kini telah berjalan sendiri-sendiri.

“The literary work cann’t be fully or truly understood apart from the milieu or culture or civilization in which it was produced. It must be studied in the widest possible context rather than by itself. Every literary work is the result of a complex interaction of social and cultural factors and is itself a complex cultural object,” demikian kata Sheldon Norman Grebstein. Kita bisa lihat bahwa sejumlah nama dan judul dari khazanah sastra Melayu klasik masih dianggap sebagai milik bersama kedua negara. Khalayak sastra di kedua negara sama-sama memiliki Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Bustanus Salatin, Sulalatus Salatin, demikian pula tokoh Raja Ali Haji dan Abdullah Munsyi.

Adanya kebijaksanaan kolonial Belanda di Indonesia dan Inggris di Malaysia menyebabkan keduanya bergeser ke arah yang berbeda. Balai Poestaka (1908) menandai awal berpisahnya tradisi sastra kedua negara, sekaligus membuka babak baru lahirnya kesusastraan Indonesia modern. Sementara itu, di Malaysia, lahirnya kesusastraan modern bukan karena pengaruh Inggris, melainkan kuatnya pengaruh para guru dan ulama yang memperoleh pendidikan di Timur Tengah. Pengaruh Inggris yang tampak kuat pada karya-karya Abdullah Munsyi hanya dinyatakan sebagai fase sastra peralihan. Gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang digaungkan oleh Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, serta pengaruh Muhammad Iqbal ikut membentuk corak sastra di negeri tersebut.

Jika di Indonesia ada Balai Poestaka, maka di Malaysia tahun 1922 berdiri Maktab Perguruan Sultan Idris (MPSI). Institusi yang pernah diketuai oleh Za’ba (Zainal Abidin bin Ahmad) ini juga menerbitkan karya-karya saduran dari khazanah sastra dunia, termasuk Shakespeare. Namun, sekali lagi, pengaruh yang kuat justru datang dari novel Al Hadi Hikayat Faridah Hanum, novel pertama Malaysia yang mengambil tokoh dan latar di Mesir.

Serupa dengan Malaysia, karya sastra di Indonesia pun diawali oleh karya saduran. Si Djamin dan Si Djohan (1918), yang disadur oleh Merari Siregar dari Jan Smees karya Justus van Maurik (Belanda) telah terbit pada 1918. Namun, ia tidak cukup kuat untuk membuka gerbang kesusastraan Indonesia modern. Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar dan Sitti Nurbaya (1928) karya Marah Rusli-lah yang menjadi moment inspiring bagi kelahiran novel-novel lain di Indonesia, layaknya Hikayat Faridah Hanum di Malaysia.

Sebenarnya, kedua batang itu tidak pernah benar-benar berdiri sendiri-sendiri. Pengaruh kesusastraan Indonesia di Malaysia juga tampak lewat sejumlah karya. Ada benang-benang dari puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang mempengaruhi penyair Ghafar Ibrahim, atau Pulang karya Toha Mochtar yang mempengaruhi Senja Belum Berakhir karya Azizi Haji Abdullah. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, dan sejumlah sastrawan Indonesia tidak asing namanya di Malaysia. Sebaliknya, kitalah yang barangkali asing dengan nama-nama sastrawan dari Malaysia. Jumlah sastrawan di sana memang tak sebanyak di Indonesia, daya produksi novel-novelnya pun tak sesanter di sini. Maka, tak heran bila demikian yang terjadi.

Satu akar, dua batang. Sebuah cakrawala sastra yang membentang di depan dapat diisi bersama-sama, tentu, tanpa harus memperebutkan hak kepemilikan, seperti kita tak pernah meributkan milik siapakah Munsyi atau Raja Ali Haji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s