Catatan

MASJID


201107140327125142

“Bahaya kalau di desa sini bertambah lagi yang naik haji,” kata ayah saya suatu pagi. “Orang Islam bukannya makin bersatu, malah makin pecah belah,” lanjutnya.

Haji adalah suatu fenomena. Di tempat saya, orang naik haji identik dengan membangun masjid atau mushola. Sudah ada dua orang yang naik haji. Sepulang mereka dari tanah suci, bangunan baru berdiri. Masjid bertambah! Seolah kesalehan atau kemabruran bisa dikonkretkan dalam bentuk sebuah bangunan masjid. Gara-gara itu, sekarang di kampung saya ada tiga masjid.

Semakin banyak masjid, bisa jadi pertanda baik, tapi bisa jadi juga sebaliknya. Banyaknya masjid bisa menjadi tolok ukur keberhasilan islamisasi di suatu tempat. Tapi tidak selalu demikian. Nyatanya, di desa saya, semakin banyak masjid, semakin bubar jama’ah. Semakin sulit dipersatukan dan semakin tajam perbedaan. Kami sudah harus cukup bersabar menghadapi perbedaan yang disebabkan oleh dua aliran pemikiran. Kini, kami harus lebih bersabar lagi mengatasi perpecahan jamaah yang telah berpencar ke tiga masjid yang berbeda.

Hal-hal sepele bisa menjadi isu sensitif. Orang bisa saling menghujat hanya karena masjid A mengijinkan puji-pujian, sementara masjid B melarang. Pernah selama beberapa tahun ramadhan, orang-orang dilarang khotbah sama sekali di masjid utama desa. Alasannya, demi menjaga persatuan umat.

Yang merasa lebih dekat dengan mushola A, akan datang ke mushola A. Yang merasa lebih dekat dan lebih cocok dengan mushola B, juga memilih beribadah di mushola B. Variabelnya adalah kedekatan jarak mushola-rumah dan siapa imam masjid yang memimpin masjid. Soal siapa imam masjid ini sangat berpengaruh.

Seperti saya bilang, aliran pemikiran keagamaan di desa saya lebih dari satu. Setiap imam membawa coraknya sendiri. Kadangkala, ada warga yang hanya selangkah dari masjid A, memilih berjalan jauh menuju masjid B. Alasannya bukan demi mencari pahala –semakin jauh tempat ibadah, semakin banyak pahalanya-, tapi demi kecocokan. “Aku ra cocok kok nang masjid A ki. Ceramah e marakke panas. Imam e dudu Mbah X.”

Pada hari-hari biasa, dampak adanya “tiga masjid” itu tidak terlalu kentara. Tapi pada bulan Ramadhan, perbedaannya kelihatan sekali. Masjid utama desa, yang dulunya menjadi basis segala macam aktivitas keagamaan desa, tak seramai biasanya. Jumlah jama’ah shalat tarawih tak pernah lagi membludak ke serambi. Apalagi ketika jama’ah shalat subuh, orang-orangnya dapat dihitung dengan jari.

Satu masjid lebih baik bagi desa kami. Dulu, ketika kami hanya punya satu masjid, sepecah apapun jama’ah, kami tetap bisa sholat di tempat yang sama dengan imam yang sama. Tegur sapa tetap ada, sekalipun dengan hati mangkel. Setelah masjid bertambah, kini orang-orang yang berbeda pemikirannya memilih untuk berjama’ah di masjid yang berbeda. Tak ada lagi tegur sapa. Perbedaan terasa semakin nyata.

Bukan salah para haji itu, bila mereka membangun masjid. Barangkali, mereka ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Termasuk dengan cara mendekatkan rumah Allah di samping rumah mereka. Agar shalat jama’ah tak lagi telat. Agar adzan jelas tak tersamarkan oleh pekak klakson mobil di halaman.

Tapi, perbuatan baik pun harus diikuti kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah kebenaran yang dijalin dengan ketajaman dan keluasan pandangan. Kebijaksanaan adalah seperti Khidir a.s. yang merusak sebuah perahu, karena ia tahu di hadapan mereka ada seorang raja lalim yang akan merampas setiap perahu (Al Kahfi: 71-82).

Alangkah banyak realisasi keshalehan yang masih bisa diwujudkan oleh para haji, selain menambah sebentuk kubah masjid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s