Catatan / Sastra

Arok Dedes


Membaca Pram adalah membaca sejarah. Sejarah yang kadang berbeda dari versi umum yang sering diperdengarkan. Dalam tetralogi Bumi Manusia, kita disuguhi konflik-konflik manusia Indonesia pada masa kolonialisme dan kebangkitan nasional lewat kacamata seorang tokoh semifiktif, Minke. Kemudian, dalam Arus Balik, Pram mengantarkan kita ke dalam cerita kejatuhan Majapahit, berdirinya Demak, dan awal kedatangan Peranggi. Terakhir, dalam Arok-Dedes, kita meloncat ke masa lalu untuk mendapati kudeta Arok di Tumapel dan menyimak konflik sosio-kultural-keagamaan pada masa kerajaan Kediri.

Sebuah kisah cinta yang dijalin di tengah intrik politik dan penggulingan kekuasaan, demi memperebutkan tahta akuwu Tumapel dan menegakkan kembali harkat kaum brahmana. Kisah ini konon merupakan kudeta pertama dalam sejarah tanah air kita. Sebuah kisah yang akan segera membawa kita lari ke abad-20, tatkala sebuah kudeta kekuasaan lain juga menumpahkan darah di negeri ini. Silsilah benihnya melahirkan raja-raja Jawa, mulai dari Singasari, Majapahit, hingga raja-raja Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Itulah Arok-Dedes.

Kisah sejarah ini diceritakan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer di pulau Buru tahun 1976. Arok Dedes dalam versi Pramoedya tidak sama dengan Arok-Dedes dalam versi sejarah yang biasa kita dengar. Pramoedya telah melakukan interpretasi sendiri, berdasarkan sumber yang ia miliki. Novel ini dimulai dengan peristiwa penculikan Dedes dari desa Panawijil hingga jatuhnya Tunggul Ametung dan naiknya Arok sebagai Akuwu. Materi sejarah paling kuat didapatkan dari sisa Tugu Kemenangan Arok, yang kini dimasukkan di kompleks Candi Singasari dan karya Mpu Tanakung “Lubdaka” yang ditulis masa hidup Ken Arok.

Pram mengisahkan latar belakang Arok berbeda dengan kisah pada umumnya. Dalam novel ini, Arok adalah pahlawan bagi Tumapel, garuda kaum brahmana. Arok, yang pada awalnya adalah anak angkat Ki Bango Samparan, belajar pada guru Tantripala dan Dang Hyang Lohgawe. Kecerdasannya amat mengagumkan. Dalam waktu singkat, ia sudah menguasai berbagai kitab dan fasih berbahasa Sansekerta. Ialah seorang sudra yang berjiwa ksatria dan berhati brahmana. Sosok Arok ini menimbulkan harapan bagi kaum Brahmana yang selama tak kurang dari 200 tahun telah mengalami penindasan dari raja-raja Kediri yang memuja Wisynu. Lewat Arok, para brahmana berupaya menggulingkan Tunggul Ametung. Tunggul Ametung sendiri adalah akuwu yang lalim, perampok, dan penganiaya. Ia tinggal menunggu kejatuhan kekuasaannya, akibat dari berbagai pemberontakan.

Dedes merupakan sekutu yang sangat penting bagi Arok. Dalam novel ini diceritakan Dedes adalah putri brahmana Mpu Parwa dari desa Panawijil. Ia diculik oleh Tunggul Ametung dari desanya. Di Tumapel, ia dijadikan paramesywari Tunggul Ametung. Sebagai seorang brahmani Syiwa, Dedes cenderung lebih memihak pada perjuangan Arok dan kaum brahmana, daripada suaminya. Ia mengkhianati suaminya, memuluskan upaya Arok dari dalam pekuwuan. Kaum brahmana, terutama Dang Hyang Lohgawe, adalah orang yang berada di belakang perjuangan mereka. Istri Arok yang lain, yaitu Umang, juga prajurit yang turut mendukung Arok dalam menjatuhkan kekuasaan Tunggul Ametung. Ia adalah anak terakhir ayah angkat Arok, Ki Bango Samparan, yang bergabung bersama laskar Arok dan memimpin prajurit perempuan.

Sementara itu, Empu Gandring bukan sekedar pandai besi yang ditugasi Arok untuk membuat keris. Empu Gandring adalah pemimpin sebuah gerakan yang menyatukan para tamtama Tumapel dan menguasai prajuritnya. Gerakan Empu Gandring ini bertujuan hendak menggulingkan Tunggul Ametung. Situasi Tumapel pada saat itu telah berada di tengah bara api. Setiap pihak menyatakan ketidakpuasannya terhadap penguasa dan pemberontakan terjadi di mana-mana. Pada saat yang sama, berbagai pihak ingin menempatkan dirinya di atas singgasana. Sebagai pandai besi yang mengurusi pasokan senjata prajurit Tumapel, mudah bagi Empu Gandring untuk menyatukan para prajurit di bawah tangannya. Ken Arok pun memesan senjata dari Empu Gandring. Tapi bukan hanya sebilah keris -keris Empu Gandring yang sangat legendaris justru tidak muncul dalam novel ini-, melainkan ribuan tombak, perisai, dan perlengkapan perang bagi para prajuritnya.

***

arok

Setelah cerita sejarah yang amat legendaris itu, lewat Arok Dedes kita bisa meneropong kondisi sosial dan keagamaan pada masa Kediri yang digambarkan Pram dengan cukup menarik. Agama Hindu adalah agama yang mengenal konsep kasta, demikian pula ketika agama ini menyebar di Nusantara. Ada kelompok masyarakat brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Konsep kasta ini, saya kira memberi implikasi lain, yang berarti hanya ada sedikit orang pribumi asli Jawa yang bisa menjadi raja (atau kasta ksatria). Sebagian besar orang yang bisa menjadi raja, pastilah memiliki darah India, sehingga dengan demikian, ia masuk ke dalam kasta ksatria. Demikian pula dengan para brahmana. Secara tidak adil, konsep ini telah menempatkan rakyat pribumi asli Jawa ke dalam kasta terendah, yaitu sudra.

Pada masa Erlangga (1020-1042M), konsep triwangsa (sudra-ksatria-brahmana) dirombak. Triwangsa bukan hanya ditentukan oleh para dewa, juga manusia bisa melakukan perpindahan kasta karena dharmanya. Sudra bisa menjadi ksatria, ksatria bisa menjadi brahmana, bahkan sudra bisa menjadi brahmana. Arok misalnya. Ia hanya terlahir sebagai seorang sudra. Tapi dapat menjadi brahmana dan kemudian ksatria karena dharma dan kecerdasannya. Perombakan konsep triwangsa inilah salah satu prestasi Erlangga, selain menghapuskan perbudakan. Namun, prestasi yang telah ditorehkan oleh Erlangga ini dihapuskan oleh keturunannya yang kelima, sehingga perbudakan kembali diadakan, termasuk pada masa Tunggul Ametung.

Pada masa itu, agama Hindu Budha yang berkembang di Indonesia ternyata terbagi-bagi menjadi puluhan aliran. Aliran-aliran tersebut tidak semua bersepakat, bahkan seringkali berkonflik satu sama lain. Antara Syiwa dan Wisynu terjadi pertentangan yang dalam. Para penganut Syiwa menganggap orang-orang Wisynu menyembah leluhur dan raja-raja mereka. Baginda Raja Erlangga dibuat patung dan disembah. Menurut anggapan kaum Syiwa, mereka tidak lagi menyembah dewa-dewa dengan benar. Pemuja Wisynu ini dapat dikenali dengan mudah lewat namanya. Mereka menggunakan nama-nama binatang, terutama binatang yang biasa digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari. Misalnya, kebo, kidang, lembu, dan lain-lain. Namun, malangnya, para pemuja Wisynu inilah yang berkuasa di Kediri pada masa Arok. Oleh karena itu, para brahmana, termasuk Arok dan Dedes, yang menganut Syiwa sering mengalami penindasan. Dedes bukanlah korban pertama dalam kasus brahmani yang diculik oleh penguasa untuk diperistri.

Sebelumnya, Amisani dan Prabarini juga menjadi korban kelaliman para raja pemuja Wisynu. Yang saya sebut terakhir ini, adalah kekasih Mpu Sedah. Ketika ia diambil oleh Sri Raja Jayabaya, Mpu Sedah begitu menderita. Hingga tibalah suatu kali, Sri Raja Jayabaya mencari orang yang sanggup menjawakan Salyaparwa dari kitab Mahabharata. Mpu Sedah menyatakan kesanggupannya. Momen ini dijadikan kesempatan oleh Mpu Sedah untuk bisa bertemu kembali dengan Prabarini, sang kekasih. Ketika ia sampai di satu bagian cerita, Mpu Sedah meminta contoh pada sang raja untuk dapat menggambarkan kecantikan Dewi Setyawati, permaisuri Prabu Salya. Dari sekian banyak perempuan yang dihadapkan padanya, Mpu Sedah memilih Prabarini. Alkisah, kedua kekasih itu pun bertemu kembali. Namun, tak berakhir indah, karena Sri Raja Jayabaya segera mengetahui semuanya dan menghukum mati Mpu Sedah.

Pram menuliskan, bahwa wayang pernah menjadi pertentangan antara Syiwa dan Wisynu. Orang Syiwa tidak setuju mempergelarkan keagungan para dewa melalui bayang-bayang kulit. Keterbatasan mereka tidak memungkinkan manusia melukiskan kebesaran para dewa. Para dewa hanya layak disampaikan oleh para pujangga dan brahmana. Maka, dikatakan oleh Dedes, wayang adalah permainan bodoh dari orang-orang yang tak mengerti ajaran. Hanya para brahmana yang berhak menafsir dan menerangkan tentang para dewa. Tapi, Sri Baginda Erlangga setelah sepuluh tahun naik tahta menitahkan; bukan hanya kaum brahmana saja yang berhak tahu tentang para dewa. Semua boleh tahu, pergelarkan melalui wayang, karena bayang-bayang leluhur dalam wayang adalah sama dengan bayang-bayang dewa. Barangkali, Erlangga ini bisa dibilang sebagai sosok raja ‘liberal’. Hehe. Sebab itu, tak ada brahmana yang mau menontonnya.

Kehadiran seorang brahmana yang diutus oleh Kediri ke wilayah bawahannya juga menjadi penting, sebab brahmana ini tidak hanya bertugas untuk mengatur kehidupan agama rakyat, tetapi juga menjadi wakil resmi raja Kediri di wilayah tempatnya diutus. Seorang pejabat agama merangkap wakil raja. Di kerajaan kediri waktu itu, ada brahmana yang diakui dan diberi izin mengajar oleh kerajaan, dan ada brahmana yang dilarang mengajar oleh kerajaan. Di Tumapel, brahmana yang diutus bernama Yang Suci Belakangka. Sebagai seorang brahmana, ia tidak cakap dan tidak fasih Sansekerta. Ia adalah mata-mata yang siap melaporkan segala peristiwa di Tumapel kepada Raja Kediri. Meskipun nampak patuh, Tunggul Ametung selalu menaruh kecurigaan pada Belakangka. Yang Suci Belakangka ini oportunis, munafik, dan dzalim. Ia hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, ia mati dibunuh Arok.

Salah satu aliran yang berkembang pada masa Hindu Budha di Indonesia adalah bhairawatantra atau tantrayana. Aliran ini memiliki lima ritual, yaitu matsiya, manuya, madya, mutra, dan maithuna. Pram menyinggung aliran tersebut dalam Arok Dedes. Suatu malam, ketika Arok dan Dang Hyang Lohgawe tengah dalam perjalanan menuju pura untuk menghadiri pertemuan para brahmana, mereka melihat praktik maithuna tersebut.  Penjelasan berentet pun keluar dari mulut Dang Hyang Lohgawe. Jelas, kaum Syiwa menentang ritual tersebut. Konon, ajaran ini dibawa oleh seorang yogin dari Sriwijaya bernama Syamyanatera. Ajaran ini menjadi wabah yang merambati Syiwa, Wisynu, dan terlebih Budha.

Bisa dikatakan, membaca Arok Dedes ini seperti membaca deskripsi kehidupan sosial-politik dan keagamaan orang-orang Jawa pada masa Kediri. Juga, mendengarkan dongengan-dongengan masa kecil yang diceritakan kembali oleh Pram –lagi-lagi- dengan cara berbeda.* Dimana-mana bertabur kosakata-kosakata Sanskrit dan istilah-istilah Melayu kuno. Ada pula konsep-konsep yang khas Hindu. Saya tidak tahu apakah istilah agama yang dikenal sekarang bersangkutan dengan istilah agama yang dituliskan Pram di sini atau tidak. Rakyat Kediri pada masa itu, setidaknya mengenal tiga aturan, yaitu agama-igama-ugama. Agama adalah peraturan timbal balik antara raja dengan kawula. Igama adalah peraturan timbal balik antara dewa dengan manusia. Dan, ugama adalah peraturan timbal balik antara sesama manusia.

***

Apa lagi, Pram? Saya ingin bertanya. Apalagi yang akan saya baca dari tulisan-tulisanmu yang berserak banyak itu? Pram selalu menawan buat saya, tanpa mengabaikan semua kekurangan dan kesalahannya. Kini, saya tengah menunggu-nunggu kesempatan untuk berjumpa dengan dua bukunya yang lain. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid 1 & 2. Apa yang kau tulis di sana, Pram?

Catatan:

*Ceritera Inu Kertapati dari Jenggala dan Dewi Sekartaji Candrakirana dari Kediri misalnya, akan tampak tidak seindah dan semulus dongengan yang biasa didengar ketika kecil. Kisah cinta keduanya berawal dari perjodohan politis Jenggala-Kediri; melibatkan cinta segitiga dengan Dewi Anggraini, putri Patih Kediri; serta pembunuhan Dewi Anggraini sebagai tumbal cinta agar Inu Kertapati tidak lagi berpaling pada perempuan lain. Matinya Dewi Anggraini tidak serta merta membuat Inu Kertapati berpindah ke pelukan Dewi Sekartaji. Sebaliknya, ia amat bersedih hati hingga memutuskan untuk mengembara. Dewi Sekartaji, yang merasa telah kehilangan harga diri, melarikan diri dari Kediri. Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji baru bersatu setelah pengelanaan panjang mereka masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s