Catatan

Sumbing, 3.371 mdpl


My first mount climbing, 14-15 Februari 2014

14 Februari 2014. Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus. Ratusan orang mengungsi. Abu vulkanik terbawa angin hingga ke Jogja dan Solo. Di kedua kota itu, orang-orang panik. Semua ramai membicarakan isu tentang bahaya abu vulkanik. Tapi, seolah tak ada apa-apa, pada hari yang sama kami tetap mendaki Gunung Sumbing. Cuaca buruk, abu vulkanik, mendaki gunung. Nekad bener emang!

Tanpa izin orang tua, tanpa pemanasan, tanpa berbagai tetek bengek persiapan. Beruntung, teman-teman saya adalah orang-orang “gila”, sabar, dan luar biasa.

IMG_2242Orang-orang “gila” di team pendakian Gunung Sumbing. Dari kiri ke kanan, Kak Arman, Kak Lizar, Hepi, Kak Irwan, Mul, pak Nyono (yang nganter-jemput kami pake mobil), saya, dan mbak Nopa.

Mendaki gunung adalah cita-cita saya sejak SMA. Dulu, saya ikut Starcrusher, ekskul pecinta alam di SMA N 1 Wates, Kulon Progo, almamater saya. Tapi, kami tidak pernah diizinkan melakukan pendakian oleh pembina dari sekolah. Kami belajar teknik-teknik bertahan hidup di alam, pendakian, navigasi darat, dan sebagainya, tapi tak pernah mempraktikkan. Paling banter hanya hiking, camping, dan wall climbing. Lantas, 14 Februari 2014, moment besar itu terjadi! Yeah, walau Kelud menentang, bagaimana mungkin saya rela melepaskan?? Gunung Sumbing menjadi saksi pendakian pertama saya.

Awalnya, kami akan mendaki gunung Slamet. Tapi, menjelang hari H, gunung Slamet ditutup. Sasaran pun berubah ke Sumbing. Sumbing adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Gunung Slamet, dengan ketinggian 3.371 mdpl. Pendakian di gunung ini dapat ditempuh melalui beberapa jalur. Kami mulai pendakian lewat jalur Garung lama, kira-kira pukul 16.00. Sampai pukul 22.00, kami telah melewati Pos I Malim, Pos II Genus, dan Pos III Sedlupak Roto. Pendakian berjalan lancar. Dari basecamp sampai pos III, jalanan relatif mudah. Tapi menuju pos IV, jalanan berupa bebatuan terjal, yang sesekali disambut tebing di kanan kiri.

url

Angin bertiup kencang di atas gunung. Udara dingin dan lembab. Jari jemari saya sampai mati rasa. Dalam perjalanan menuju pos IV itu, kami membuka tenda. Esoknya, pukul 05.00 kami mendaki menuju puncak. Di Gunung Sumbing, ada dua puncak. Puncak sejati dan puncak buntu. Kami menuju ke puncak sejati. Yup yup yup! Kami berhasil sampai puncak.

Kami turun dari gunung kira-kira tengah hari dan sampai di ladang penduduk pukul 05.00. Di sana, mobil datang menjemput. Saya kecewa tidak jalan sendiri sampai basecamp, tapi senang juga karena capeknya perjalanan berakhir.

IMG_2293

Menuju puncak…

Sebagai orang yang baru pertama mendaki gunung, mendaki gunung itu…

1. Jangan terlalu mudah khawatir.

Abu vulkanik, gunung Kelud meletus, cuaca buruk, musim penghujan. Sederet kondisi bisa menjadi alasan penghalang untuk mendaki. Tawakal aja. Tapi, kita juga harus tetap punya pertimbangan. Tepat seperti hidup. Kekhawatiran hanya akan membuat orang takut, sedangkan ketakutan selamanya tak pernah berbanding lurus dengan kesuksesan. Jadi, minimalkan kekhawatiran Anda. Manusia tidak bisa tumbuh di zona nyaman terus-menerus. Sekali-sekali dia harus meloncat untuk mengjangkau yang lebih tinggi. Take the risk!

2. Mengenali diri sendiri.

Naik gunung membuat kita semakin mengerti siapa diri kita, juga teman-teman kita. Karakter asli keluar ketika orang naik gunung atau bisa dibilang “menampakkan yang tak tampak”. Siapa yang keras kepala, yang gak sabaran, yang care, yang rela berkorban, dan seterusnya. Jadi, rekomendasi nih, besok kalau habis nikah, pertama-tama ajak suami naik gunung biar kita tahu kayak apa dia sebenarnya. Hehe.

3. Semakin tinggi posisi kita, semakin sulit dan berat jalan yang harus kita tempuh. Tapi, juga semakin indah yang kita dapatkan.

Semakin tinggi, semakin luas cakrawala kita. Semakin banyak yang kita lihat. Pun, semakin kita bisa lihat betapa tak berartinya ‘sebutir pasir ini’. Terpeleset sedikit, bisa jadi pulang sudah almarhum/ah. Kita tidak punya kekuatan apa-apa, kecuali Allah dan daya upaya kita sendiri.

IMG_2248Islamic Mount Climbing. Sholat itu wajib di mana saja.

Pada akhirnya, harus saya bilang, saya ketagihan! Semangat menuju puncaaakk!!

-Sayang, saya tidak punya banyak foto-foto yang menarik buat dipamerin. Juga sedang tidak berniat cerita banyak. But, these memories never fade. Terima kasih banyak buat Kak Lizar, Kak Fathur, Kak Arman, Kak Irwan, Mul, dan Hepi. Kakak-kakak yang sudah ngajak kita ndaki, yang sudah sabar njagain dua orang akhwat di atas gunung, biar jalannya kayak kura-kura. Hehe. Arigato! Jangan kapok ngajak kita lagi ya..

Next one, ayo nonton film Gie! Saya baru saja dapat film ini setelah lama mencari-cari. Ingatkah kalian, bahwa Gie meninggal di atas Semeru??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s