Catatan

ZLATA


354px-Zlata's_Diary

Zlata Filipović memang tidak setenar Anne Frank, si gadis Yahudi yang meninggal di kamp konsentrasi Nazi pada tahun 1945. Namun, kisahnya menceritakan kisah yang sama; pergulatan seorang bocah belia di tengah konflik kemanusiaan. Tapi Zlata, yang hidup satu generasi setelah Anne Frank, dapat dipastikan telah mengenal Anne lewat buku harian. Ia bahkan menjadikan Anne sebagai sosok yang menginspirasi buku hariannya, meski ia bilang takut bila akhir hidupnya setragis Anne. Jika Anne Frank memberi nama buku hariannya Kitty, Zlata memilih nama Mimmy.

Zlata Filipović dilahirkan tanggal 3 Desember 1980 di Sarajevo. Kedua orangtuanya beragama Islam, ayahnya seorang pengacara dan ibunya bekerja sebagai ahli kimia. Zlata baru beberapa bulan melewati hari ulang tahunnya yang kesebelas, ketika Sarajevo dihujani bom dan mortir. Sejak saat itu, desing peluru, pecahan mortir, dan ledakan bom menjadi kehidupan sehari-hari rakyat Bosnia-Herzegovina.

“Anak-anak nakal” bermain-main melemparkan tembakan kembang api dari atas bukit. Air mati, listrik putus, sekolah ditutup, rumah-rumah hancur, dan ratusan orang kehilangan nyawa. Orang-orang cacat yang kehilangan sebelah tangan atau kaki mereka akibat perang menjadi pemandangan biasa di jalan-jalan Sarajevo. Sampai-sampai Zlata mempertanyakan, ‘Apakah khusus untuk Sarajevo, kata “mengerikan” harus menggantikan ungkapan “waktu yang sedang berjalan”?’ Perang pun belum usai hingga catatan harian terakhir ia tulis, 19 Oktober 1993.

Buku Harian Zlata: Jeritan Seorang Anak Bosnia (Jakarta: Gramedia, 1994) pertama kali diterbitkan dalam bahasa Perancis dengan judul Le Journal De Zlata (1993). Pada 21 Oktober 1992, Zlata mencatat; suatu hari guru kursus musim panasnya, Irena Vidović, bertanya, “Benarkah kau punya sebuah buku harian, Fipa?” “Ya.” Atas inisiatif gurunya, buku harian itu kemudian disalin dan dipamerkan di Balai Kota. Buku harian itu kemudian benar-benar mewujud dalam sebuah buku dan tersebar luas setelah Alexandra Boulat, juru kamera Sipa Press, membawa buku harian itu ke Paris untuk diterbitkan.

Zlata tak percaya pada politik, sementara kedua orang tuanya pun tak pernah membicarakan politik. Ia yang menjadi korban situasi politik, barangkali memang belum paham politik. Situasi politik adalah tindak KEBODOHAN dengan huruf besar, tulisnya suatu kali. Dengan sinisme yang cerdas, pada 19 September 1993, Zlata mencatat dalam buku hariannya. “Tak terdengar lagi kicauan burung. Yang tersisa hanyalah jerit tangis burung gereja bernasib malang. Sebuah kota mati. Sementara itu para tuan penguasa perang tetap sibuk berdebat, menggambar peta, menghapus, dan mencoret, hingga kapan, mana aku tahu…”

Berdebat, menggambar peta, menghapus, dan mencoret. Orang yang berada di luar wilayah perang seringkali menggambarkan perang demikian sederhana. Sama seperti kita melihat dampak perang Palestina-Israel hanya dari peta Palestina yang kian menyempit dan kini tinggal beberapa garis atau titik saja. Padahal, perang bukan hanya masalah peta politik yang semakin menyempit atau kehilangan 1 cm2 luas negara di atas peta. Perang adalah soal manusia. Soalnya adalah, berapa banyak timbunan tulang, darah, air mata, dan kebahagiaan yang terenggut di atas titik 1 cm2 yang hilang itu?

Dengan cara yang sama, catatan itu segera mengingatkan kita pada kutipan puisi berjudul It’s Me karangan Jasper Helle, seorang remaja Swedia, yang dibacakan dalam sebuah konferensi Hak-Hak Anak PBB di Swedia. It’s never “a few percent” or “some” or “one milion” who have problems. It’s always somebody, it’s me… Forum-forum ilmiah sepatutnya tersentak mendengar kejujuran anak-anak ini. Angka-angka tersebut bukan hanya deretan digit yang kita baca sebagai puluhan atau ratusan ribu, tapi mewakili sosok-sosok manusia sebanyak digit yang kita baca.

***
anne-frank-vlcsnap-257702

Zlata, bagaimanapun juga tetaplah seorang bocah, yang merindukan sahabat-sahabatnya, kembali bersekolah di tengah suasana damai, liburan di Jahorina, dan bermain di taman “yang pohon-pohonnya telah digergaji untuk menghadapi musim dingin”. Ia begitu sedih melihat ayah ibunya tidak bisa bekerja seperti biasa. Mereka semakin kurus dan tampak tua. Begitu pula sahabat-sahabatnya, satu demi satu pergi meninggalkan Sarajevo, berpencar ke berbagai belahan dunia. Dan, ia pun menangis seharian ketika Cici dan Cicko, kedua binatang peliharaannya mati!

Buku harian memiliki daya tarik lebih karena kemampuannya masuk ke dalam kehidupan sehari-hari dan menjabarkan luapan emosi penulisnya. Satu aspek yang tidak dapat ditemukan melalui laporan penelitian atau buku ilmiah. Siapa yang akan menganggap penting seekor kucing yang jatuh cinta di tengah bencana perang –lalu mereka memberikan aspirin, obat yang sangat mujarab untuk menenangkan gairah kewanitaannya-? Atau burung-burung yang terpaksa harus berbagi makanan burung satu sama lain –tidak hanya manusia-? Atau juga, kesibukan yang luar biasa ketika listrik dinyalakan bergiliran selama 4 jam setiap 56 jam sekali –satu-satunya waktu yang tersedia untuk menyeterika, mencuci, mengisi air, mengeringkan rambut, dan segala aktivitas yang berhubungan dengan listrik-? Semua cerita sehari-hari itu hanya mungkin dituangkan dalam sebuah buku harian.

Hari ulang tahun dan surat. Di tengah perang, surat dari sahabat-sahabatnya adalah satu hal yang selalu dinanti-nantikan Zlata. Sementara, hari ulang tahun menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu. Ia hafal hari ulang tahun semua orang di sekitarnya. Karena bagi Zlata, hari ulang tahun akan sejenak melupakan kegetiran hidup mereka. Setiap hari ulang tahun, orang-orang berkumpul sambil makan kue, saling memberi hadiah, dan berbicara tentang hal-hal lain selain perang. Meskipun, jika tembakan tiba-tiba terdengar mereka harus segera lari ke ruang bawah tanah.

Hal-hal kecil itulah yang menguatkan Zlata dari hiruk pikuk perang di sekelilingnya. Termasuk ketika muncul keinginannya untuk bunuh diri! “Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan; melanjutkan hidup sambil terus menderita, berharap, ataukah mencari balok penopang dan seutas tali…” (17 April 1993). Itu tidak hanya diungkapkannya sekali, melainkan juga pada 7 Juli 1993. “Ah, tak tahulah aku, Mimmy. Rasa-rasanya jauh lebih enak bila aku bunuh diri sekarang juga…” Betapa mengerikan bahwa seorang anak dua belas tahun punya keinginan untuk bunuh diri.

***
bosnia-and-herzegovina-map-2

Pada tahun 1992, Bosnia melalui referendum menyatakan pemisahan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat di bawah presiden Alija Izetbegović. Hal ini memicu pembantaian massal rakyat muslim Bosnia oleh orang-orang Serbia di bawah pimpinan Slobodan Milosevic, yang mayoritas beragama Kristen Ortodox. Mereka menentang berdirinya Bosnia-Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia dan perebutan wilayah. Pemerkosaan terhadap para wanita muslim dilakukan secara massal dan sistematis. Mereka yang beruntung masih hidup dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Serangan Serbia terhadap muslim Bosnia ini menjadi tragedi kemanusiaan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Namun membaca catatan Zlata, hampir-hampir tidak tampak sama sekali bahwa Zlata dan kedua orang tuanya adalah seorang muslim. Ia lebih akrab dengan Natal, daripada hari raya Bairam, satu-satunya perayaan Islam yang ia sebut dalam buku hariannya. Kata shalat, puasa, atau masjid pun nihil. Padahal, perang Bosnia-Herzegovina (1992-1995) bukan hanya perang sipil biasa, tetapi juga mencatatakan sejarah suram pembantaian umat muslim yang berdiam di sana.

Tampaknya hal ini memang harus menyeret kita pada perbicangan mengenai sejarah Bosnia-Herzegovina. Islam masuk ke kawasan Balkan (termasuk Bosnia) sekitar tahun 1389, ketika wilayah Balkan berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani antara abad XII hingga akhir abad XIX. Sebelumnya, Bosnia dan Herzegovina merupakan sebuah wilayah perbatasan antara Kebudayaan Barat dan Timur. Pada abad Pertengahan, wilayah tersebut menjadi ajang pertikaian dan perebutan pengaruh antara Romawi Barat yang Katolik dan Romawi Timur yang Ortodoks.

Ketika Turki mulai melemah, negara-negara taklukannya di Balkan mulai melepaskan diri. Sekalipun hanya sebuah wilayah kecil, meletusnya Perang Dunia I tidak lepas dari ketegangan politik di kawasan ini. Upaya Serbia untuk menggabungkan Bosnia ke dalam wilayah kekuasaannya, digagalkan oleh kekaisaran Austria-Hongaria yang mencaplok wilayah itu pada tahun 1908. Hal itu kemudian mendorong kaum nasionalis Serbia membunuh putra mahkota Austria, Pangeran Franz Ferdinand, di Sarajevo pada 1914. Akibatnya, sebagaimana kita ingat dalam buku sejarah, meletus Perang Dunia I (1914-1918) yang berakhir dengan kemenangan sekutu.

Setelah Perang Dunia I, Bosnia dan Herzegovina, bersama-sama dengan Kroasia, Slovenia, dan Vojvodina, diserahkan oleh Austria kepada Kerajaan Serbia-Montenegro. Dari penggabungan ini muncullah Kerajaan Yugoslavia. Namun, akhir Perang Dunia II menempatkan rezim komunis di puncak kekuasaan Yugoslavia. Mulai saat itulah umat Islam Bosnia mengalami sekularisasi yang kuat, hingga sebagian kaum muslim Bosnia melupakan agamanya meskipun masih mengaku beragama Islam.

***

Setelah membaca buku ini, saya sempat berandai-andai untuk menulis sebuah buku harian. Lantas saya membayangkan seandainya saya hidup di tengah konflik atau perang. Tapi, saya bertanya lagi, apakah benar sebuah karya besar harus dilahirkan di tengah konflik? Saya kira memang, ya.

-Meski harus diingat bahwa mengartikan konflik hanya sebagai perang adalah terlalu dangkal, karena konflik tidak hanya yang tampak di mata dan bersifat sosial, tetapi juga yang berada dalam batin dan bersifat individual.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s