Sastra

Musyawarah Burung


b3s-2011-06-03-novel-fariduddin-attar-musyawarah-burung

Suatu hari yang cerah ketika Attar tengah duduk-duduk bersama seorang kawan di muka pintu tokonya. Sementara dari luar, tampak seorang fakir tua menghampiri. Si fakir itu menahan langkahnya sesaat dan menghirup harumnya bau minyak wangi yang semerbak dari depan toko. Mengira ia datang untuk meminta belas kasihan, Attar pun bangkit dan mengusir fakir tua. Maka, berkatalah sang fakir, “Jangankan meninggalkan tokomu, meninggalkan dunia dan kemegahannya ini bagiku tidak sukar! Tapi bagaimana dengan kau? Dapatkah kau meninggalkan kekayaanmu, tokomu, dan dunia ini?” “Bagiku juga tidak sukar meninggalkan duniaku yang penuh kemewahan ini,” jawab Attar spontan. Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, si fakir telah rebah ke tanah. Mati tepat di hadapannya.

Peritiwa ini merupakan titik balik kehidupan seorang Attar. Setelah menguburkan jenazah sang fakir, ia lantas meninggalkan semua tokonya dan mengembara ke berbagai negeri untuk belajar tasawuf. Tiga puluh sembilan tahun kemudian ketika kembali dari pengembaraannya, ia telah menjadi seorang sufi ternama. Ialah Faridu’d-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (1130-1220 M) atau lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Seorang sufi yang berasal dari Nisyapur, sekaligus seorang ahli farmasi dan saudagar minyak wangi yang kaya raya.

Sejumlah karya yang diwariskannya antara lain Thadhira al-‘Awlya (Anekdote Para Wali), Ilahi-Namah (Kitab Ketuhanan), Musibat-namah (Kitab Kemalangan), dan Mantiq At Thair (Musyarawah Burung). Mantiq At Thair merupakan salah satu karyanya yang paling banyak dikenal orang dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Karya ini dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja dengan judul Musyawarah Burung (Pustaka Jaya, 1986). Terjemahan bahasa Indonesia tersebut berasal dari teks terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh C. S. Nott berjudul The Conference of the Birds. Adapun teks aslinya, ditulis dalam bahasa Parsi pada sekitar pertengahan kedua abad ke-12 M.

***
Mantiq Al-Tayr Musyawarah Burung Karya Fariduddin Attar

Saya menemukan buku ini berada di rak paling bawah, dalam deretan buku-buku lama yang tak terbaca di perpustakaan Pesma, hampir setengah tahun yang lalu. Judulnya langsung terasa familiar. Ah ya, Mantiq At Thair Fariduddin Attar! Awal Januari ketika teringat lagi akan buku ini, saya segera menyitanya ke kamar dan menelan lembar demi lembar.

Karya yang bercorak mistis religius ini terbagi atas tiga bagian, yaitu Madah Doa, Burung-Burung Berkumpul, dan Musyawarah Burung. Di bagian akhir, ditambahkan Akhirul Kalam, sekilas biografi Attar, dan catatan tentang kaum sufi. Madah doa merupakan satu bagian yang berisi puji-pujian kepada sang Khalik. Segala puji bagi Allah, kata Attar, maka…

Kepada langit Ia berikan kekuasaan dan kepada bumi kepatuhan; kepada langit telah Ia berikan gerak dan kepada bumi ketenangan yang tetap.
Pada mulanya Ia sepuh bintang-bintang dengan emas, hingga di malam hari langit dapat bermain trik-trak.
Lautan Ia jadikan cair sebagai tanda pengabdian dan puncak-puncak gunung pun bertudung salju karena takut padanya.
Menanggapi Tuhan, jiwa tertanya-tanya, akal pun tak sampai; karena Tuhan, maka langit berpusing, bumi pun bergoyang.

Pada mulanya, burung-burung berkumpul. Hudhud, Nuri, Ayam Hutan, Elang, Pikau, Bulbul, Merak, Kuau, Tekukur, Perpati, Rajawali, dan ribuan burung lainnya. Segala burung di dunia, baik yang dikenal maupun yang tak dikenal. Mereka ingin mencari Simurgh, Raja Para Burung, yang tinggal di Pegunungan Kaukasus. Seperti halnya manusia yang penuh keengganan dan kelemahan untuk menempuh jalan Allah, burung-burung itu pun satu persatu mengajukan alasan. Ada yang merasa lemah dan takut menghadapi kesulitan, ada yang terikat cinta pada dunia, ada yang telah merasa cukup dengan keadaannya sendiri, ada yang takut kehilangan, dan seterusnya. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh burung-burung tersebut merefleksikan manusia yang penuh dengan seribu alasan ketika menempuh jalan kebaikan.

Hudhud, pemimpin dari sekumpulan burung-burung tersebut, dengan sabar menjawab alasan keberatan mereka. Lewat jawaban Hudhud, pembaca disuguhkan kisah-kisah berhikmah dari para sufi dan alim ulama. Kisah Syekh San’an dan gadis Nasrani termasuk salah satu di antaranya yang termahsyur. Namun, yang tak kalah menggelitik adalah seloroh seorang arif tentang sebuah istana dan kisah si Bakhil. Kisah si Bakhil menceritakan tentang seorang pemabuk yang menyembunyikan sepeti emas. Setahun setelah kematiannya, anak laki-lakinya bermimpi melihat sang ayah menjelma menjadi seekor tikus. Tikus itu berlari maju mundur di tempat emas disembunyikan, dengan mata sebak penuh air mata. Ketika sang anak bertanya mengapa ia menjelma menjadi tikus, sang ayah pun menjawab, “Jiwa orang yang telah mengorbankan segalanya demi cinta akan emas menjelma serupa ini. Ingat baik-baik tentang diriku, o anakku, dan ambil manfaat dari apa yang kaulihat ini. Tinggalkan cinta akan emas itu!”

Demikian pula nasehat burung Hudhud, “Tidakkah kau tahu bahwa barangsiapa telah dirusakkan akhlaknya oleh cinta akan emas, maka seperti mata uang palsu ia akan bertukar wajah dengan yang serupa tikus di hari kiamat nanti?” Kisah tersebut bagaimanapun juga segera mengingatkan saya pada penggambaran koruptor yang selalu diidentikkan dengan tikus. Seorang sufi selalu menjadikan kemewahan dunia sebagai sesuatu yang perlu dilepaskan untuk pertama kali. Dunia ibarat jaring laba-laba, dan lalat yang tertangkap di jaring itu adalah rezeki yang diberikan Tuhan kepada makhluk-Nya. Setiap saat bisa saja penghuni rumah datang membawa sapu, dan dalam sekejap jaring-jaring, laba-laba, dan lalat itu pun lenyap —ketiga-tiganya.

Kisah tentang kebajikan Mahmud Ghaznawi juga banyak bertebaran dalam karya ini. Saya sangat berterima kasih kepada Prof. Abdul Karim dalam hal ini, yang membuat saya tidak terlalu ‘who is he?’ ketika menemukan nama Mahmud berulang kali disebut. Mahmud Ghaznawi adalah seorang raja termasyhur dari kerajaan Ghazni (961-962 M). Sebagai penguasa terbesar dari dinasti ini, Mahmud Ghaznawi merupakan milestone bagi sejarah anak benua India di dalam hubungannya dengan dunia Islam. Ia melakukan 17 kali ekspedisi penaklukkan ke India selama 34 tahun dan mendapat kemenangan dalam setiap ekspedisi tersebut. Sultan Mahmud juga sangat memperhatikan masalah kebudayaan dan pengetahuan hingga dikenal sebagai pelindung terbesar bagi perkembangan ilmiah abad ke-11. Banyak cendekiawan dan sastrawan yang hidup di bawah naungannya, termasuk penyair Firdausi yang mengarang kitab Shahnama (Kitab Raja-Raja) dan Al-Biruni yang menghasilkan Tahkik-i-Hind (Penelitian tentang India).

Setelah melalui satu proses perdebatan panjang, burung-burung itu pun sepakat untuk mencari Simurgh di Pegunungan Kaukasus. Ada dua macam perjalanan yang dapat dilalui manusia, yaitu perjalanan “ke dalam diri” dan perjalanan “ke luar diri”. Perjalanan ke dalam diri inilah yang ditempuh oleh para sufi, seperti yang digambarkan lewat kisah burung-burung ini. “Perjalanan dari diri ke diri”, demikian syair Rumi. Digambarkan dalam kisah ini, secara simbolik jalan kerohanian dalam ilmu tasawuf dapat ditempuh melalui tujuh lembah, yaitu lembah pencarian, lembah cinta, lembah keinsafan, lembah kebebasan, lembah keesaan, lembah keheranan dan kebingungan, serta lembah keterampasan dan kematian. Dari ketujuh lembah tersebut, yang paling ditekankan secara keseluruhan sebenarnya merupakan jalan cinta. Cinta adalah kekuatan yang diperlukan untuk melewati ketujuhnya.

Perjalanan yang mereka tempuh begitu panjang, penuh kesukaran, dan melelahkan. Bertahun-tahun burung-burung itu mengembara melintasi gunung dan lembah, demi bertemu Simurgh. Dari sekian banyak burung, pada akhirnya hanya 30 burung yang dapat mencapai Simurgh. Sebagian besar mati di perjalanan, entah karena kelaparan, kehausan, dimangsa hewan, kelelahan, atau gila dan saling berbunuhan karena berebut makanan. Sebagian lain menyerah tak sanggup meneruskan perjalanan, dan banyak pula di antaranya yang telah berangkat hanya lantaran ingin tahu atau senang, tewas tanpa mendapat gambaran tentang apa yang mereka cari setelah menempuh sekian waktu perjalanan.

Ketiga puluh burung itu pun mencapai Simurgh dalam kondisi yang letih dan menyedihkan. Namun, mereka segera menemukan kepuasan dan kebahagiaan sebab telah mendapatkan tujuan perjalanan mereka yang panjang. Satu demi satu tabir yang menyelimuti Simurgh tersingkap, maka… “cahaya dari segala cahaya memancar, dan sekalian burung-burung itu duduk di atas masnad, tempat duduk Yang Mulia dan Agung.” Ketiga puluh burung itu telah melebur bersama Simurgh. Selama kau tak menyadari kenihilanmu, dan selama kau tak meninggalkan kebanggaan diri, kesombongan, dan cinta diri, kau tak akan dapat mencapai puncak kebakaan. Tinggalkan tujuan-tujuanmu yang tak berguna dan kejarlah segala apa yang hakiki.

Wallahua’lam.

Catatan:
1. Dalam kisah Mahabarata, Simurgh konon disebut sebagai Garuda.
2. Kitab Shahnama merupakan sebuah epos sejarah bangsa Persia dari awal waktu hingga kelahiran Islam, semua dalam kuplet berima. Kitab ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Shahnameh: Hikayat Raja-raja Persia, diterbitkan oleh penerbit Navila, 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s