Sajak

SAJAK AWAL JANUARI


ayah

SEBATANG POHON MANGGA DI DEPAN RUMAH

-Sehelai daun mangga kering
Landai ke tanah tertiup angin
-Sehelai uban putih di rambutmu
Menyeruak nampak bersama garis-garis keriput di dahi

Ayah,
Lihatlah pohon mangga di depan rumah kita
Yang kita tanam di kala pagi gerimis
Ketika usiaku baru lima

Lingkar-lingkar kayu itu telah menapakkan jejak tahun

Ayah,
Lihatlah pohon mangga di depan rumah kita
Ia kini telah berbuah
Lebat bergelantungan menyuguhkan manisnya padamu

Maka dalam mimpi kudengar pohon mangga itu mengolok-olokku,
‘Hai kau! Lihat aku kini telah berbuah,
Saban hari kuserahkan buahku yang ranum
kepada penanamku yang baik budi.
Hai kau! Jangan kau tutup telinga.
Apakah yang telah kau berikan untuk penanammu yang baik budi, hai anak manis?’
Batang pohon mangga itu terbahak-bahak
Ranting dan dedaunannya bergoyang-goyang menahan tawa
Dan aku membisu.
Sementara terbungkuk-bungkuk
pohon mangga di depan rumah kita menertawaiku.

Ayah,
Adakah anakmu tak lebih dari sepohon mangga
di depan rumah?

-150114

dgfft

PERJUMPAAN TERAKHIR

hujan luruh dari awan,
tapi menjadi lagi setelah satu siklus hidrogen panjang
asap melesat dari bara api,
tapi tak akan pernah menjadi lagi
fana berkelana tersambar angin
-apakah macam pertemuan terakhir ini?

sekuntum kembang kecil menyelusuri alir sungai
terapung-apung naik turun
sendiri

Jarum jam patah satu-satu
nada-nada ritmis
Tik tok tik tok
membentuk awan gemawan hati

Di keluasan
dinding-dinding perbukitan berteriak,
Kau!

-dalam senja gerimis, 120114

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s