Sketsa

MENGEJA LENSA


1

1. Para Pecinta Kata

Di depan Grha Sabha Pramana “Rumah Berkumpulnya Orang-Orang Cendekia”, kami mengabadikan diri. 45 karakter dari 45 manusia, Sastra Indonesia UGM angkatan 2009. Tampak paling depan adalah kepala suku kami, Ardian Justo.

Sebuah karya bidikan lensa yang menghamburkan serangkai nama, tempat, dan peristiwa. Ruang kelas yang hangat, para dosen yang luar biasa, tumpukan buku-buku linguistik dan sastra, bangku coklat, mushola Al Adab, Middle East Corner (MEC), Kantin Humaniora “Bonbin”, Lantai 3 Gedung F, Gedung Margono -yang sekarang punya lift, hehe-, Lantai 1 Gedung Poerbatjaraka ”Plasa FIB”, serta sekian banyak ruang kenangan lain yang memanggil satu persatu.

Kalian memang… Awesome!!!

2

2. Sebuah Tempat di Kaki Gunung Lawu

1 April 2013. Sebuah rumah-villa di kaki gunung Lawu membukakan pintunya untuk kami bersembilan. Padepokan Lir Ilir Karangpandan, nama itu kemudian tertera di dinding yang menghadap ke jalan. Kata ‘padepokan’ membawa saya dalam nuansa komik-komik silat zaman dulu, terlebih jika mengingat tempatnya yang berada di kaki gunung Lawu. Dan, pendekar silat yang saya ingat pertama kali adalah Wira Sableng, pendekar bernomor 212. Pasalnya, almamater saya ketika SMA dulu juga memiliki julukan Casello alias kalih-setunggal-loro…

Rumah-villa itu tetap mengenangkan, meski sekarang kami bersembilan sudah pindah rumah ke Wisma Lir Ilir di Colomadu, Karanganyar.

3

3. Ambillah Waktu untuk Tertawa!

Terlalu banyak tertawa itu tidak bijak, tapi tidak pernah tertawa itu juga tidak sehat. Maka, seperti kata pepatah tua Irlandia,
“Ambillah waktu untuk tertawa,
itu adalah musik yang menggetarkan jiwa.”

Penggalan pepatah itu sangat lekat di benak saya karena dulu, ketika saya masih SD, pepatah tersebut terpajang dalam sebuah pigura di atas meja belajar Lek Is, saudara saya. Pepatah itu kurang lebih terdiri dari 20 larik, judul lengkapnya “Ambillah Waktu…”

Bersama tiga dari sembilan mbak-mbak saya yang cuanteekk, foto di atas kami ambil di tangga Grojogan Sewu, Tawangmangu.

4

4. Siapa yang bisa menjamin kita lebih sempurna darinya?

Jangan lagi berkisah tentang duka dan kekuranganmu, Kawan, berkisahlah tentang perjuangan dan kekuatanmu. Kau sungguh menginspirasiku!

5

5. Jajan Es Cendol di Pinggir Jalan

Dalam jiwa setiap orang dewasa, kadang-kadang muncul kerinduan untuk merasakan kembali kebahagiaan pada masa kanak-kanak.

Ketika saya masih kecil, ada seorang tukang es dawet -semacam es cendol juga- yang termasyhur di kampung kami. Mbah Soma Bejo, namanya. Ia bertopi koboi lebar, memikul dua keranjang jalinan bambu yang menggantung di sisi kanan dan kiri bahunya. Es cendolnya segar dan nikmat. Mbah Soma selalu memanggil-manggil kami dengan suara denting sendoknya yang khas. Lantas, dari dalam rumah, saya akan berlari sambil membawa gelas atau mangkuk kecil. “Tumbas, Mbaah…” Dari tiga penjuru lain, teman-teman sepermainan saya juga sudah berlari membawa gelas masing-masing. Benar-benar ngangeni.

6

6. ‘Rumah Kaca’ di Buitenzorg

Sebuah tempat yang segera mengingatkan saya pada novel keempat dari tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Di tempat inilah, pernah terdapat Algemeene Secretarie yang bertugas mengawasi gerak gerik pribumi dalam pergerakan nasional bangsa Indonesia. Sekarang, bangunan ini digunakan sebagai istana negara di Bogor.

Foto ini berasal dari bidikan kamera seorang kawan, Fanni Suyuti, pada tanggal 7 November 2013. Arigato!

-1 Januari 2014, semacam cara untuk mengingat perjalanan tahun yang baru saja berlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s