Catatan / Sastra

Menyelusuri Arus Balik, Membendung Zaman Kemerosotan


“Dalam novel-novel sejarah yang dia tulis, Pramoedya selalu membukakan ruang kemungkinan bagi penafsiran baru atas peristiwa-peristiwa sejarah yang selama ini diterima begitu saja. Arus Balik memotret berbagai peristiwa yang berkelindan pada abad 15-16, ketika tiga kekuatan besar menapaki bumi Nusantara. Kekuatan Hindu-Budha, Islam, dan Barat.”

1296673888274727726

Pasca runtuhnya Majapahit, kekuasaan atas pulau Jawa jatuh ke tangan raja-raja kecil yang berdiri sendiri di sejumlah wilayah. Hindu-Budha melemah. Tidak ada satu kekuatan besar yang sanggup menyatukan mereka. Keagungan Majapahit hanya muncul sesekali dalam ceramah-ceramah guru pembicara atau merah putih yang mereka warisi sebagai bendera kapal. Sementara itu, di ujung barat pulau Jawa, kerajaan Demak berdiri. Islam muncul sebagai satu kekuatan baru yang menyatukan masyarakat. Para musafir disebar dari Demak ke wilayah seluruh tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Keberadaan musafir Demak ini pun menjadi sebuah fakta menarik, terutama dalam kaitannya dengan islamisasi di Jawa.

Pada saat yang sama pula, di belahan bumi utara sana obor Renaissance mulai menyala. Tahun 1511, Peranggi (Portugis) menduduki Malaka. Tidak sama dengan bangsa-bangsa pedagang yang lain, Peranggi memonopoli perdagangan, menguasai daerah, dan memaksa para pedagang untuk menjual komoditas rempah-rempah padanya. Arus kapal yang berlabuh di bandar-bandar Jawa mulai surut. Para pedagang pelabuhan kehilangan gairahnya. Perekonomian kerajaan yang semula bergantung pada aktivitas bandar mulai lesu. Inilah awal mula alamat datangnya zaman kemerosotan yang tak tertahankan di bumi Nusantara.

Tampak benar penggambaran mentalitas pribumi terhadap Peranggi yang dianggap lebih maju, lebih pandai, dan lebih kuat hingga “kapal-kapal pada lari ketakutan jika melihat gambar salib besar berwarna merah di atas kain layarnya yang putih”. Orang ternganga mulutnya jika mendengarkan cerita kehebatan meriam yang mampu melemparkan bola-bola api sebesar butiran kelapa. “Lebih ampuh daripada cetbang Majapahit, senjata macam apa yang lebih hebat daripada cetbang Majapahit.” Mereka yang masih beranggapan bahwa bumi adalah sebentuk bidang datar mengira Peranggi sebagai orang-orang yang muncul dari balik bumi, dari negeri para jin dan iblis.

Beban berat untuk membendung jaman kemerosotan harus dipikul oleh seorang anak petani desa yang hidupnya senantiasa ditentukan oleh intrik politik para raja yang berada di atasnya. Siapapun tak bisa meremehkan anak desa, karena tak sedikit orang besar yang terlahir dari tengah gelutan lumpur sawah dan nyanyian kodok di musim penghujan. Gadjah Mada hanyalah anak desa. Ken Arok pun anak desa. Tapi yang pertama menjadi Mahapatih dan yang kedua lebih-lebih lagi, menjadi Raja Singasari. Dan anak desa kali ini, dialah Wiranggaleng, Senapati Tuban. Namun, seperti kemudian sejarah menunjukkan alurnya sendiri, Peranggi tak terusir dari bumi Nusantara. Anak desa yang ini gagal membendung arus kemerosotan itu. Tapi, ia telah mencoba dengan sebaik-baiknya.

***
Arus-Balik-Pram1

Seperti saya katakan di awal, dalam novel-novel sejarah yang dia tulis, Pramoedya selalu membukakan ruang kemungkinan bagi penafsiran baru atas peristiwa-peristiwa sejarah yang selama ini diterima begitu saja. Saya mencatat sejumlah peristiwa sejarah yang membuat saya penasaran untuk mengulik lebih lanjut. Pertama, perihal Sultan Trenggono. Dikisahkan dalam novel ini, proses pengangkatan Sultan Trenggono menjadi Sultan Demak bukan tanpa perdebatan. Ketika Adipati Unus wafat, takhta Demak mengalami kekosongan kekuasaan. Ya, dalam novel ini dikisahkan Adipati Unus pernah menjadi Sultan Demak selama beberapa saat. Ia kemudian wafat akibat sisa cetbang (semacam meriam) yang masih bersarang di tubuhnya setelah ia kembali dari kekalahannya mengusir Portugis di Malaka, beberapa tahun sebelum kenaikannya sebagai Sultan.

Seluruh Majelis Kerajaan Demak menolak Trenggono marak menjadi sultan, kecuali Sunan Kalijaga. Namun, akhirnya Sultan Trenggono naik takhta Demak, setelah membunuh kakaknya, Pangeran Seda Lepen. Trenggono sangat berambisi untuk menaklukkan Jawa. Itulah yang menyebabkan ia berkonflik dengan ibundanya sendiri, Ratu Aisah. Ratu Aisah tidak menghendaki Trenggono menaklukkan Jawa, sebaliknya, ia lebih merestui Trenggono untuk melanjutkan cita-cita kakaknya, Adipati Unus, untuk mengusir Peranggi dari Malaka. Tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan kecuali mengusir Peranggi dari Malaka.

Jika Peranggi telah terusir, maka perdagangan akan kembali seperti sediakala. Jawa akan keluar dari jaman kemerosotannya. Sebaliknya, ambisi untuk menaklukkan Jawa justru akan menghancurkan Demak sendiri. Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa akan mengambil sikap waspada dan memusuhi terhadap Demak. Musuh yang sebenarnya, yaitu Peranggi, dapat mengambil keuntungan dari perpecahan antara Demak dengan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Namun, hal itu tidak didengarkan oleh Trenggono. Konflik tersebut membuat Ratu Aisah harus pindah ke Jepara dan mengupayakan cita-citanya sendiri di sana. Dalam pada itu, Ratu Aisah membawa seorang anak perempuan Trenggono untuk ia didik. Ia menghendaki agar cucu perempuannya dapat meneruskan cita-cita yang telah diupayakan oleh Adipati Unus. Cucu perempuan itulah yang kelak dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.

Pada akhir hayatnya, Sultan Trenggono dibunuh oleh Jafar, juru taman kesayangannya. Seketika Jafar berhasil membunuh Trenggono, pasukan pengawal melemparkan tombak pada Jafar hingga ia pun mati. Juru taman itu telah berkomplot dengan Gelar, anak Wiranggaleng. Melihat Jafar mati terkena tombak, Gelar melarikan diri ke Blambangan. Di sana ia berseru-seru menyatakan dirinya sebagai pahlawan yang telah membunuh Trenggono. Akhirnya, Gelar diangkat sebagai panglima Blambangan.

Kedua, kemenangan Fatahillah atas Sunda Kelapa dari Portugis terasa kecil artinya jika membaca novel ini. Sebelum Sunda Kelapa dikuasai oleh Demak, Portugis telah menjalin perjanjian dengan raja Pajajaran untuk membuka kantor dagangnya di Sunda Kelapa. Tugu perjanjian Portugis-Pajajaran ditancapkan di bandar Sunda Kelapa. Oleh karena itu, beberapa waktu kemudian armada Portugis di bawah pimpinan Francisco De Sa datang ke Sunda Kelapa.

Namun, ternyata Sunda Kelapa telah jatuh ke tangan Demak. Jumlah tentara Portugis yang mendarat hanya sekitar 80 orang. Mereka segera diusir dengan mudah oleh Fatahillah beserta pasukannya, yang memang telah siap siaga di bandar. Dilihat dari jumlah kuantitas prajurit Portugis yang mendarat saja, peristiwa ini sudah menjadi kecil artinya. Apalagi jika membaca pendapat penulis yang disuarakan lewat mulut Wiranggaleng, bahwa kemenangan Fatahillah di Sunda Kelapa sedikit saja artinya sampai Portugis benar-benar diusir dari Malaka. Portugis memang tidak akan datang lagi ke Sunda Kelapa tempat ia pernah dikalahkan, tapi dengan mudah ia akan mengambil jalur lain, karena yang dituju sesungguhnya adalah Maluku.

Ketiga, mengenai syahbandar. Selama berabad-abad, Jawa hidup dalam sebuah kawasan kosmopolit yang cair. Kapal-kapal dari negeri Atas Angin, India, Benggala, Gujarat, dan Cina membentuk arus perdagangan dan pertukaran kebudayaan yang dinamis di Jawa. Bandar dagang atau pelabuhan, tak pelak menjadi pusat persimpangan dari berbagai kebudayaan tersebut. Tatanan sosial yang menempatkan bandar sebagai sendi perekonomian utama kerajaan, telah memberi kedudukan tinggi pada seorang syahbandar. Syahbandar termasuk orang yang paling berpengaruh terhadap Sang Adipati dan ikut menentukan kebijakan-kebijakan penting. Demikian pula dengan seorang syahbandar Tuban, Syekh Habibullah Al-Masawa.

Syahbandar Tuban adalah seorang Benggala kelahiran Semenanjung Iberia, bertubuh bongkok, berhidung bengkok, berjubah genggang, bertongkat, dan bertarbus merah. Nampaknya, pada masa itu sebagian besar posisi syahbandar dipegang oleh orang-orang bukan pribumi, dan kebanyakan beragama Islam. Sebab, mereka inilah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang dari segala bangsa dan menguasai berbagai bahasa. Habibullah Al-Masawa merupakan tokoh antagonis novel ini. Ia juga adalah mantan syahbandar Malaka, kaki tangan Peranggi. Sebelumnya, ia telah membuka jalan Peranggi untuk menguasai Malaka dan kemudian akibat tingkah Syahbandar ini pula, Tuban dapat dimasuki oleh Peranggi. Barangkali apa yang dilakukan oleh Syahbandar Tuban hanya soal oknum saja. Tapi, hal ini dapat membuka diskusi mengenai arus migrasi orang-orang Islam dari Timur Tengah, komunitas mereka di Nusantara, peranan syahbandar, dan bagaimana hubungan mereka dengan penjajah.

Satu detail kecil tentang Syahbandar Tuban yang menarik adalah soal silsilah. Syekh Habibullah Al-Masawa mengatakan kepada Adipati bahwa ia adalah turunan ke-20 dari Nabi Muhammad. Klaim turunan ke-20 dari Nabi ini menjadi bargaining power bagi syahbandar di hadapan sang adipati. Kita tahu bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara menganggap penting masalah silsilah. Para raja berupaya untuk mencari legitimasi atas kekuasaannya melalui jalur silsilah, untuk menunjukkan kepada rakyatnya bahwa para raja itu memang bukan sembarang orang. Sudah tidak diragukan bibit bobot bebet-nya. Di Jawa, para raja dianggap sebagai titisan dewa. Dalam sejumlah babad, silsilah raja-raja bahkan diteruskan hingga Nabi Adam. Sementara itu, raja-raja Melayu dikatakan sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain dalam kitab Sulalatus Salatin. Tidak hanya raja-raja, kita lihat, tarekat-tarekat sufi dan beberapa tokoh keagamaan modern pun menganggap penting –bahkan, mencari-cari atau mengada-adakan- silsilah yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad. Ini bisa menjadi satu diskusi tersendiri.

***
Photo0061

Selain peristiwa-peristiwa besar, adapula detail-detail kecil nan menarik yang dibagikan oleh Pramoedya, yang juga menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Misalnya, ada isyarat zaman bahwa sebuah kerajaan akan jatuh jika rajanya sudah menyelir gadis Tionghoa. Raja Majapahit yang terakhir sebelum kejatuhannya telah menyelir seorang puteri Tionghoa, begitu pula dengan Adipati Tuban menyelir Nyi Ayu Campa. Entah apa korelasi antara keduanya. Isyarat ini sekilas terasa agak rasis. Juga, asal muasal jagung. Konon, bibit jagung pertama kali sampai di Jawa dibawa oleh Syahbandar Tuban. Ketika Syekh Habiblullah Al-Masawa mendarat di Tuban, ia mempersembahkan sekantong bibit jagung ‘beras Turki’ kepada sang Adipati. Atas titah Adipati, bibit jagung persembahan syahbandar ini kemudian dikembangbiakkan di Jawa.

Kemudian berturut-turut saya sebutkan, nama Kiai berasal dari Ki Aji, penghormatan bagi orang yang hebat dan berilmu. Sunan Kalijaga adalah anak dari adipati Tuban dengan salah seorang selirnya. Sang dwiwarna merah putih, lambang bendera Indonesia berasal dari bendera Majapahit. Di Semenanjung Malaka, ada sebuah tempat yang bernama Trenggono, yang diambilkan dari nama Sultan Demak, Sultan Trenggono. Penyakit Raja Singa pertama kali dibawa oleh para prajurit Portugis ketika mereka datang ke Jawa dan bercinta dengan para pelacur pelabuhan.

Pada akhirnya, perlu saya katakan bahwa novel sejarah memang tidak bisa disamakan begitu saja dengan buku sejarah. Tentu tidak semua peristiwa dalam novel ini mempertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya. Kita tidak tahu sejauh apa imajinasi pengarang ikut mempengaruhi jalan cerita. Tapi, novel sejarah juga tidak menutup kemungkinan untuk membuat orang menelisik kembali sejarah yang tertulis di buku-buku teks resmi, untuk kemudian mengubah haluan sejarah yang telah ada. Maka dari itu, novel Arus Balik ini menarik untuk ditelusuri.

Catatan:

1. Sebagian pemuda muslim mendapatkan amanah untuk menjadi musafir Demak setelah tuntas belajar Islam kepada para ulama di Masjid Agung Demak. Selain mengajarkan agama Islam, musafir Demak juga mendapat tugas mengabarkan keberadaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan menumpas guru pembicara (beragama Budha) yang berkeliaran di desa-desa, sebab kebanyakan mereka sudah tidak lagi membawa ajaran yang tertera dalam kitab.

2. Membaca novel-novel Pram, yang menarik bukan hanya fakta sejarahnya tetapi juga perwatakan masing-masing tokohnya. Wiranggaleng adalah seorang petani desa yang sederhana. Cita-citanya pun sederhana; ia hanya ingin hidup sebagai petani, membangun huma dan ladang bersama Idayu, kekasihnya. Pusaran peristiwa di sekelilingnya-lah yang membuat Wiranggaleng melakukan berbagai hal besar. Saya pikir, CITA-CITA. Itulah barangkali yang membedakan Wiranggaleng dengan Gadjah Mada dan Ken Arok yang juga dikisahkan oleh Pram. Ia memiliki kesadaran untuk menahan arus yang menderas di zamannya, tapi cita-citanya bukanlah menanggungkan tugas berat itu.

3. Tarbus. Kebetulan saya tengah membaca buku Mr. Hamid Algadri berjudul Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda (1996), terbitan Mizan Bandung. Hamid Algadri menulis, “Pada masa itu orang-orang keturunan Arab memakai tutup kepala terbus, kopiah merah yang pada waktu itu dipakai orang di negeri Turki. …kebiasaan memakai kopiah Turki sebagai tutup kepala ini ada hubungannya dengan gerakan Pan-Islam di masa itu.” Ketika memakai tarbus ke sekolah, Hamid Algadri menerima hinaan dan ejekan luar biasa dari kawan-kawannya orang Belanda, hingga terjadi perkelahian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s