Catatan

Harmoni “Sawah” dalam Masyarakat Jawa


sawah dan pegunungan indah 5

Masyarakat Jawa merupakan tipe masyarakat agraris yang pertaniannya bertumpu pada sawah. Sawah adalah gambaran harmonisitas dalam masyarakat Jawa. Sawah adalah perlambang penyatuan antara manusia dengan alam. Bagi orang Jawa, mengolah sawah bukan semata-mata soal produksi padi, tapi juga mempertimbangkan keseimbangan dan tanda-tanda alam. Orang Jawa memiliki penanggalan khusus kapan harus menyemai benih, menanam padi, kapan harus memanen, dan seterusnya. Waktu menanam padi disesuaikan dengan iklim dan kondisi tanah. Setelah digunakan untuk menanam padi, tanah pun harus diistirahatkan untuk mengembalikan unsur hara dalam tanah. Untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman, masyarakat agraris juga cenderung mengandalkan kekuatan rantai makanan pada ekosistem sawah.

Sawah mengandung berbagai unsur pokok di alam. Air, tanah, udara, tumbuhan, binatang, dan manusia bersinergi dalam sebuah ekosistem sawah. Sawah dapat juga dikatakan sebagai pusat galaksi dalam kehidupan masyarakat Jawa agraris. Harmoni “sawah” secara tidak langsung memperlihatkan alam batin masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa, antara manusia dan alam harus ada keselarasan. Manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan. Orang Jawa percaya akan kekuatan alam. Jika manusia menjaga alam, maka alam pun akan memberi lebih banyak kepada manusia. Demikian pula sebaliknya, jika manusia merusak alam, maka alam pun akan mendatangkan bencana bagi manusia.

Harmoni sawah ini sangat bertentangan dengan filsafat kaum modernis yang membuat jarak antara dirinya dengan alam. Dalam pandangan kaum modernis, manusia harus memiliki jarak terhadap alam sebab manusia adalah penguasa alam. Manusia lebih tinggi kedudukannya daripada berbagai benda mati dan makhluk hidup lain yang ada di sekitarnya sehingga manusia berhak untuk melakukan tindakan apapun yang diinginkan terhadap alam. Tahapan ini, yang dianggap sebagai tahap ontologis, dalam filsafat kebudayaan dipandang lebih tinggi daripada tahap mitis, dimana pada tahap tersebut manusia masih menyatu dengan alam. Padahal tentu saja tidak selalu demikian. Di antara alam dan manusia, harus terjadi harmoni atau keseimbangan. Dalam banyak kasus, justru manusialah yang tidak berdaya melawan kekuatan alam.

Harmoni sawah juga dapat menjadi cermin bagaimana kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Jawa. Kalau akhir-akhir ini para aktivis perempuan di berbagai belahan dunia menyerukan paham feminisme, kesetaraan gender, atau penolakan terhadap subordinasi laki-laki, maka dalam masyarakat Jawa kesetaraan itu telah berlangsung sejak lama. Di sawah, antara laki-laki dan perempuan terjadi pembagian kerja yang adil. Pagi hari, kaum laki-laki berangkat ke sawah membawa sabit dan cangkul untuk mengolah sawah atau memanen padi. Siangnya, kaum perempuan akan menyusul suaminya ke sawah untuk mengantarkan bekal makan siang.

panen-x-4

Lihat pula ketika pesta panen di desa-desa. Kaum laki-laki maupun perempuan saling bahu membahu untuk memanen padi. Semua berbagi tugas di sawah tanpa mengabaikan kodrat masing-masing. Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa dalam masyarakat kita, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan telah terbangun sejak lama. Paham feminis yang sejatinya berasal dari trauma dan ketertindasan kaum perempuan di Barat, tidak perlu serta merta diadopsi.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kekuatan alam masih sangat dihargai. Para petani di sawah mengenal mitos Dewi Sri sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan yang akan ikut menjaga tanaman padi mereka. Di beberapa daerah Jawa, biasanya sebelum para petani memanen padi mereka mengadakan wiwitan yang terdiri atas nasi, gudangan, apem, ayam, sambel kedelai (gepleng), disertai sesaji. Wiwitan tersebut kemudian dibawa ke sawah yang akan dipanen dan dimakan bersama-sama oleh orang-orang di sawah. Hal itu dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur mereka atas keberhasilan panen yang mereka dapatkan. Tradisi-tradisi di kalangan masyarakat agraris tersebut adalah refleksi alam batin masyarakat Jawa yang sangat memperhatikan keseimbangan antara alam dengan manusia.

Cara petani mengusir burung pemakan padi pun menunjukkan adanya harmoni antara manusia dengan hewan. Para petani tidak mengusir burung-burung tersebut dengan cara menembak atau membunuhnya, melainkan dengan meletakkan orang-orangan sawah (memedi sawah) di tengah lahan persawahan. Dengan demikian, burung-burung di sawah tidak akan punah. Sebab, di antara burung-burung sawah tersebut ada juga yang bermanfaat untuk membasmi hama. Keseimbangan alam semacam itulah yang kini mulai jauh dari masyarakat Jawa sebagai dampak modernitas. Dalam masyarakat manapun, keseimbangan alam tetap perlu dipertahankan karena manusia tidak lain merupakan bagian dari alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s