Catatan

Lepas


1476697_712991542047091_510546200_n

Sudah lama rasanya saya tidak menulis catatan lepas semacam ini. Rindu menulis tanpa berpikir. Menulis dengan hanya mengikuti ke mana jemari saya mengayun, meliuk, menari, dan menyentuhkan ujung-ujungnya pada tiap-tiap simbol huruf di atas keyboard laptop. Ketika saya lihat kronologi blog, tampak ada satu rentang waktu panjang yang kosong. April-Desember! Sekitar delapan bulan berlalu begitu saja, tanpa satu pun tulisan masuk ke blog.

April-Desember. Delapan bulan “tanpa-postingan” itu menandakan sudah delapan bulan pula saya di pesma. Suatu fase hidup baru yang berbeda. Terjun seterjun-terjunnya. Putar haluan sekencang-kencangnya. Yang dulunya mengkaji bahasa dan sastra, sekarang mengkaji agama. Yang dulu diskusinya tentang psikolinguistik, pragmatik, sosiolinguistik, sekarang tentang ulumul hadits, pemikiran islam, dan fiqh dakwah. Benar-benar! Subhanallah…
Well, beberapa waktu ini saya tengah membaca sebuah novel tebal berjudul Arus Balik karangan Pramoedya Ananta Toer. Belum kelar. Tapi saya suka setiap kali membaca Pram. Bumi Manusia, novel pertama Pram yang saya baca, selalu menjadi novel pertama yang saya ingat tiap kali ada orang bertanya, “Novel yang paling kamu suka apa?”

“Bumi Manusia-nya Pramoedya!” jawab saya pasti.

Karya-karya Pram cukup berpengaruh bagi saya, terutama ketika SMA-S1. Cerpen pertama saya –yang diakui secara agak luas- juga terinspirasi dari Pram. Kali Progo judulnya, saya tulis ketika kelas 2 SMA. Cerpen itu numpang terbit dalam antologi lomba cerpen remaja Balai Bahasa Yogyakarta dengan judul Mata Hati (2007).

Ketika saya baca kembali cerpen itu, saya temukan bahwa istilah “jari-jemarinya kakinya yang menerompet keluar” saya dapat dari Bumi Manusia Pram, meskipun tidak sama persis. Nama tokoh Mbok Rono pun saya dapat dari Pram. Nama Rono, yang digunakan Pram untuk menamai anak haram hasil hubungan gelap Robert Mellema dengan gadis pemerah susu di perusahaan Nyai Ontosoroh, menarik buat saya. Nama itu seolah melambangkan nama seorang rakyat kecil yang hidup dalam kesusahan tapi tidak menyerah oleh keadaan.
Lantas, saya ingat sekali ketika itu, di Balai Bahasa Yogyakarta saya ditanya oleh Mbak Evi Idawati (penyair) dan Bu Sri Widati (peneliti sastra). “Kenapa nama tokohnya Rono? Itu seperti nama laki-laki.” Saya bilang, karena tokohnya seorang perempuan yang kuat seperti laki-laki.

kasih-ibu

Saya ceritakan di cerpen itu, sebuah nasib kurang beruntung dari teman SD adik laki-laki saya. Ibunya seorang penambang pasir di Kali Progo. Suatu kali, si ibu meninggal tertimbun lubang pasir galiannya sendiri. Jenazahnya sempat tidak diketemukan hingga hampir tiga hari. Orang mengira ia hilang. Namun, suatu pagi, ada seorang penambang pasir yang melihat anjing mengais-ais tanah berpasir. Si penambang pasir ini keheranan, mengapa ada anjing mengais-ais pasir di tepi sungai? Ia lantas mendekat dan menemukan sepotong tangan menyembul ke atas dari dalam tanah berpasir. Kontan saja, penambang pasir yang melihat ini langsung berteriak-teriak dan ramailah seketika. Ketika gundukan pasir digali, nampaklah jenazah si ibu malang itu.

Si bocah pun menjadi yatim piatu, karena ayahnya kabur dari rumah sementara ibunya meninggal. Sejak itu, teman adik saya -yang saat itu baru kelas 2 SD- putus sekolah. Ia berjuang sendiri untuk kehidupannya. Maka, ia menjadi penambang pasir, ikut truk-truk yang lewat di jalan mengangkuti pasir dari sungai Progo. Cerita itu sangat membekas di hati saya hingga waktu yang lama. Apa yang bisa saya lakukan terhadap nasib orang-orang yang seperti itu? Hati saya menangis, tapi saya tak punya daya. Maka, saya pun menulis. Berharap ada yang mendapatkan secercah ‘cahaya’ dari tulisan saya.

Saat itu, saya sempat sampai pada kesimpulan. Seorang manusia yang begitu peduli pada sesamanya, yang ingin memperjuangkan keadilan dan mengatasi ketertindasan, tapi dia tidak mengenal agama, maka dia akan menjadi Marxis! Itu berdasarkan pengamatan saya terhadap beberapa rekan. Tentang kebenarannya, entahlah. Itu hipotesis pribadi waktu itu.

***

Saya sempat menyinggung di depan tentang Arus Balik. Ada seorang tokoh di novel itu yang menarik perhatian saya. Gelar. Anak ‘haram’ Idayu dengan Syahbandar Tuban, Sayid Habibullah Al-Masawa. Dia “seorang yang bisa lakukan perbuatan besar, tetapi tidak mempunyai cita-cita.” Sebuah perpaduan karakter yang bisa menimbulkan ironi. Di akhir hayatnya, Gelar memilih untuk hidup menyendiri di Maluku. Masuk Kristen, mengganti namanya menjadi Paulus, dan berusaha untuk menghapus identitasnya yang lama. Sebuah akhir yang tragis.
Maka, berbahagialah orang yang meskipun hanya bisa melakukan perbuatan kecil, tetapi benar-benar tahu apa yang dia cita-citakan.

-Subuh, 21 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s