Linguistik

Para Linguis di Tengah Misionaris #1


van-der-tuuk

Misi penginjilan membutuhkan banyak ahli dari berbagai kalangan. Tak terkecuali para ahli bahasa atau linguis. Sejumlah linguis pun turut berkelindan dalam misi penginjilan di berbagai daerah di Indonesia. Mereka menjadi ujung tombak dalam membantu para penginjil untuk memahami bahasa daerah setempat dan menerjemahkan Alkitab. Pentingnya bahasa dalam misi penginjilan nampak dalam sebuah surat yang dikirim oleh Lembaga Alkitab Belanda (LAB) kepada pemerintah Belanda, tertanggal Batak, 23 Agustus 1856. Surat tersebut mengungkapkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara lebih mungkin meluas dengan menggunakan bahasa Melayu. Oleh karena itu, diminta agar bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah jangan memakai aksara Arab. Sementara itu, para ambtenaar yang bertugas di daerah seharusnya berbahasa Batak.

Dalam butir lain dari surat setebal 32 halaman tersebut, LAB juga menyatakan bahwa seorang anggota LAB telah mempelajari bahasa Batak, menyusun kamus bahasa Batak, dan menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Batak untuk disebarluaskan. Orang yang dimaksud dalam surat tersebut tak lain adalah Herman Neubronner van der Tuuk, seorang linguis Belanda yang fasih berbahasa Batak, Jawa kuno, dan Bali. Bagi para pengkaji bahasa, khususnya yang menekuni linguistik Austronesia, H.N. van der Tuuk bukanlah nama yang asing. Ialah orang yang pertama kali mengemukakan teori perubahan bunyi dalam bahasa-bahasa Austronesia, yang kemudian dikenal dengan Hukum van der Tuuk I (R-G-H) dan Hukum van der Tuuk II (R-D-L). Kaidah tersebut termasuk kaidah primer (primary rules) karena bersifat teratur dan selalu berulang.

layaR (Melayu) – layaG (Tagalog) – layaH (Bali)
TeluR (Melayu) – italoG (Tagalog) – taluH (Bali)
paDi (Melayu) – paRi (Jawa) – paLe (Bima)

Van der Tuuk (1824-1894) lahir di Malaka ketika kota itu masih dikuasai oleh Belanda. Ayahnya kebangsaan Belanda dan ibunya Indo-keturunan Jerman. Pada tahun 1825, van der Tuuk pindah ke Surabaya, setelah Belanda menyerahkan Malaka kepada Inggris dalam Perjanjian London (1924). Tahun 1836, van der Tuuk bersekolah di Belanda, kemudian mendalami hukum di Groningen dan Leiden mulai tahun 1840. Di sana, ia juga mempelajari bahasa Arab, Persia, dan Sansekerta. Van der Tuuk dapat dibilang memiliki bakat yang luar biasa dalam mempelajari bahasa. Ia mampu mempelajari sebuah bahasa dalam kurun waktu tiga bulan saja. Sejumlah bahasa daerah di Nusantara dikuasainya, mencakup bahasa Melayu, Jawa Kuno, Bali, Batak, dan beberapa bahasa lainnya.

Van der Tuuk adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan misi penginjilan di tanah Batak. Kegiatan misi di daerah tersebut ditangani oleh dua organisasi zending, yaitu Nederlands Bijbelgenootschap (NBG) dari Belanda dan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) dari Jerman. Setelah memutuskan perlunya misi penginjilan di tanah Batak, NBG langsung melakukan persiapan dengan mempekerjakan van der Tuuk seorang ahli bahasa untuk meneliti bahasa Batak dan menerjemahkan Bibel. Mereka menyadari pentingnya penguasaan bahasa Batak dan bahasa-bahasa daerah lainnya untuk membendung penyebaran Islam dan bahasa Melayu.

Selama berada di daerah Batak (1851-1857), van der Tuuk menerjemahkan sebagian dari Kitab Injil ke dalam bahasa Toba, menyusun kamus bahasa Batak (Mandailing, Toba, dan Pakpak)-Belanda, menyusun tata bahasa Toba yang kemudian terkenal sebagai tata bahasa pertama yang ilmiah di Hindia Belanda, serta menyusun sebuah kumpulan cerita rakyat dalam bahasa Toba, Mandailing, dan Pakpak.

Dalam sebuah surat tertanda Buleleng, 15 September 1872, kepada Lembaga Alkitab Belanda, linguis tersebut mengungkapkan bahwa ”Seorang yang ingin memahirkan salah satu bahasa hendaklah ia turut berpikir dengan rakyat pengguna bahasa tersebut.” Ia memegang teguh prinsip bahwa untuk mengenal betul dan mendalami suatu bahasa, seseorang harus bergaul secara intensif dengan masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan. Itulah yang dilakukannya di Batak, kemudian juga di Bali. Seorang raja Bali sampai memberikan kesaksian, tidak ada satu orang pun di seluruh Bali yang mengenal dan mengerti bahasa Bali sebaik “Tuan Dertik”.
Ketika memutuskan untuk mempekerjakannya, NBG menyadari bahwa van der Tuuk adalah seorang ateis. Namun, di sisi lain NBG juga menyadari kemampuan intelektualnya. Van der Tuuk kerapkali menghina para penginjil sebagai “pengobral buku murahan”.

Meskipun demikian, ia tetap bersikap setia pada NBG. Van der Tuuk juga sepakat bahwa orang Batak harus diinjilkan untuk membendung pengaruh Islam di bagian utara Sumatera. Motivasi van der Tuuk dalam mempelajari bahasa-bahasa daerah tidak lain adalah membantu misi penginjilan. Suatu hal yang sekilas tampak saling bertolak belakang.

lukas-van-der-tuuk

Enam tahun lamanya van der Tuuk berada di tanah Batak. H.N. van der Tuuk, bagi lidah Batak Toba sering terucapkan menjadi Pandortuk, yang berarti “Tukang Ketuk”. Pada 1857, tepat pada tahun kelahiran C. Snouck Hurgronye, ia kembali ke Nederlands. Van der Tuuk bermukim di sana selama sebelas tahun (1857-1868). Dalam kurun waktu tersebut, ia menyelesaikan kamus Batak, empat jilid buku bacaan, dan satu buku “Tobasche Spraakkunst”, percakapan bahasa Batak Toba. Selain itu, ia juga mempelajari bahasa Melayu dan Jawa. Sekembalinya dari Nederlands tahun 1970, ia mencurahkan perhatiannya kepada bahasa Bali. Ia berupaya menyusun kamus Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, sebab van der Tuuk menyimpulkan bahwa bahasa Bali tidak akan dapat dijelaskan tanpa mengetahui bahasa Jawa kuno (Kawi).

Van der Tuuk akhirnya meninggal akibat disentri di rumah sakit militer Surabaya pada tahun 1894. Kamus Kawi-Bali-Belanda yang dikerjakannya selama hampir seperempat abad kemudian disunting oleh Dr. J. Brandes (tiga jilid pertama) dan Dr. D.A. Rinkes (satu jilid terakhir). Keempat jilid tersebut baru selesai pada tahun 1912. Selama bertahun-tahun, kamus van der Tuuk menjadi pegangan utama setiap pengkaji bahasa Bali dan Jawa Kuno. Sampai kemudian, muncul kamus Old Javanese-English Dictionary (1982) karya Prof. Zoetmulder yang terdiri dari dua jilid masing-masing 1220 dan 2368 halaman, diterbitkan oleh Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage. Sebagian besar koleksi buku-buku dan naskah lontar yang diwariskan oleh van der Tuuk kini disimpan di Perpustakaan Lontar Kirtya Lefrink-Van der Tuuk di Bali.

Bahasa merupakan unsur penting dalam aktivitas misi penginjilan mengingat statusnya sebagai alat komunikasi. Terlebih lagi, misi penginjilan yang dilakukan di daerah-daerah hampir selalu disusul dengan aktivitas penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Itulah yang menyebabkan organisasi misi giat menerjunkan orang untuk mempelajari bahasa daerah. Faktanya kemudian, para misionaris yang melakukan misi penginjilan di Jawa banyak yang menjadi ahli bahasa Jawa. Saat ini, pengetahuan mengenai bahasa daerah nyaris dimonopoli oleh para misionaris dan pastur Jesuit. Di sisi lain, hal itu juga merupakan dampak pemasyarakatan bahasa Indonesia yang berlebihan setelah bahasa tersebut diangkat menjadi bahasa nasional. Selain van der Tuuk, masih ada sejumlah linguis lain yang juga aktif membantu misi penginjilan. Kita akan mendiskusikannya kemudian.

Referensi
Aritonang, Jan S. 2010. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, hlm 110-113.
Swantoro, P. 2002. Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Rumah Budaya TeMBI, hlm 177-181.
Kozok, Uli. 2010. Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, hlm 28-29.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s