Saya membaca...

Membongkar Agenda Liberalisme


DSC06756

Judul Buku : Kemi; Cinta Kebebasan yang Tersesat (2010)
Kemi 2; Menyelusuri Jejak Konspirasi (2012)
Penulis : Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani Press
Tempat terbit : Jakarta
Kolasi : 316 hlm (Kemi) dan 163 hlm (Kemi 2); 18,30 cm

Saya kira ada dua kemungkinan dasar mengapa seseorang menulis sebuah cerpen atau novel. Pertama, karena ia ingin ‘bercerita’. Atau kedua, karena ia ingin ‘berbicara’. Mendengar perihal novel Kemi ini, saya langsung berpikir bahwa motivasi pengarang lebih cenderung kepada yang kedua; ingin ‘berbicara’. Bagaimana tidak, penulisnya Ust. Adian Husaini. Nama Adian Husaini tentu tak asing di telinga intelektual muslim Indonesia, khususnya yang menggeluti bidang pemikiran Islam. Beliau pernah menjadi Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, pendiri INSISTS, dan saat ini masih menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Islam di Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Publikasi karya-karyanya sudah tersebar luas, baik dalam bentuk buku maupun makalah. Novel ini merupakan novel perdana beliau.
Namun, setelah membaca dua seri novel Kemi, saya urung mengatakan bahwa Ust. Adian hanya ingin berbicara. Nyatanya, pengarang pun pandai bercerita. Dibandingkan dengan novel semacamnya –yang sama-sama tampak ingin berbicara maksud saya-, ambil saja Pelangi Melbourne karya Zuhairi Misrawi, novel ini jauh lebih baik teknik penceritaannya. Banyak novel-novel semacam ini yang dipaksakan jalan ceritanya sehingga terkesan hanya sebagai juru bicara bagi pengarangnya. Tapi dalam novel ini, alur, dialog, dan penokohannya terasa hidup dalam imajinasi pembaca. Materi-materi berat seperti liberalisme dan sekularisme ditampilkan melalui diskusi atau perdebatan antar tokoh yang segar. Kita dapat melihat bahwa argumen-argumen tokoh liberal yang kelihatannya ilmiah dan dibungkus oleh kata-kata canggih itu sebenarnya rapuh dan mudah dipatahkan. Ibaratkan, istana di atas pasir.
Nama tokoh utama novel ini, yaitu Ahmad Sukaimi atau Kemi, konon berasal dari nama salah seorang tokoh JIL. Kemi, Keni, Luthfie Assyaukani. Awalnya, Ust. Adian menggunakan nama Keni yang diambil dari dua suku kata terakhir Luthfie Assyaukani, namun yang bersangkutan tidak terima dan marah besar. Akhirnya, nama tersebut diubah menjadi Kemi. Proses pemilihan nama yang sangat menggelitik ini ternyata juga terjadi pada tokoh-tokoh lainnya. Misalnya, nama tokoh Habib Marzuki, yang digambarkan sebagai pegiat Islam yang dicap garis keras. Nama tersebut akan segera mengingatkan pembaca pada sosok Habib Rizieq Shihab dari Front Pembela Islam (FPI).
Demikian pula sosok Ust. Fahim Rupawan, yang tidak bisa tidak akan mengarahkan pembaca pada Ust. Hamid Fahmy Zarkasyi, alumni ISTAC yang kini menjadi Direktur CIOS, ISID Gontor, Ponorogo. Nama-nama lain pun akan membuat Anda tersenyum-senyum geli. Ada Mr. Ben Rushact (ben rusak (bhs. Jawa) artinya ‘biar rusak’), Dr. Rajil El-Pollinger (Ulil, kah?), Inspektur Tawakkal, She-cooler Foundation (Sekuler Foundation), Harian KokPas (Kompas), Hakim Manke Maruk (Mang Kemaruk ‘rakus’), Jaksa Sukanudu (suka nuduh), pengacara Benardi Putar-Putar (benar diputar-putar), Bejo Sagolo, Pak Kasiyan (kasihan), dan sebagainya. Inilah salah satu keunikan novel Kemi. Pembicaraan mengenai liberalisme, pluralisme, dan feminisme bukan kajian yang ringan. Tapi dalam novel ini, pengarang berhasil memadukan antara yang serius dengan yang tampak seperti anekdot.
***
DSC06757

Kemi; Cinta Kebebasan yang Tersesat menceritakan tokoh Kemi yang lari dari Pondok Pesantren dan memilih untuk bergabung dengan kelompok Islam liberal. Kemi melanjutkan kuliah di Institut Lintas Agama “Damai Sentosa” di Depok. Adalah Rahmat, yang kemudian diutus oleh Kyai Rois, sang pengasuh pondok, untuk menyadarkan kembali Kemi. Rahmat memang tidak sukses menyadarkan Kemi, tapi ia berhasil mengobrak-abrik jaringan liberalisme. Berkat Rahmat pula, Siti Murtafi’ah, seorang putri kyai pemilik pondok pesantren di Banten yang menjadi feminis liberal, akhirnya kembali bertaubat. Di antara Rahmat dan Siti, tumbuh pula benih-benih cinta yang sayangnya belum jelas akhir kisahnya hingga Kemi 2.
Nasib Kemi berujung tragis, ia dianiaya oleh kelompoknya sendiri karena dianggap gagal menjalankan misi. Kemi mengalami luka serius dan kehilangan hampir semua ingatannya. Akhirnya, ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Bogor. Berlanjut ke Kemi 2; Menyelusuri Jejak Konspirasi, dikisahkan Kemi yang masih dirawat di RSJ menjadi rebutan antar sesama tokoh liberal. Atas skenario Dr. Rajib El-Polinger, ia diculik dan dikirim ke salah satu pusat pengobatan canggih. Melihat keganjilan kasus Kemi ini, Ahmad Petuah, Habib Marzuki, Dr. Nasrul, dan wartawan Bejo Sagolo, sepakat untuk melacak jejak Kemi. Dalam Kemi 2, Rahmat telah kembali ke pondok pesantren, demikian pula Siti Murtafi’ah. Kini, ia menjadi aktivis yang giat melawan faham feminisme melalui tulisan-tulisannya. Pada akhir bab, kita akan menjumpai Siti beradu debat dengan seorang tokoh feminis kenamaan, Dr. Demiwan Ita, di ‘Gedung Bundar’ DPR.
Dalam Kemi; Cinta Kebebasan yang Tersesat, diskusi-diskusi seputar liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan semacamnya jauh lebih dominan daripada Kemi 2; Menyelusuri Jejak Konspirasi. Pada Kemi 2, sebagian besar alur cerita tersedot untuk mengisahkan pencarian jejak Kemi yang diculik dari Rumah Sakit Jiwa di Bogor. Namun, tidak berarti tidak ada, diskusi seputar feminisme justru lebih tampak pada Kemi 2.
Sejumlah kesalahan ejaan dan ortografis terdapat dalam novel ini. Selain itu, ada detail-detail peristiwa yang kadang terlewat atau kurang jelas dituliskan oleh pengarang. Misalnya, Kemi 2 halaman 219. Pengarang menggambarkan setting tempat peristiwa tersebut di Resto Dunia Akhirat, tapi kemudian -masih dalam satu frame peristiwa yang sama- setting tempat sudah beralih ke kantor redaksi Indonesia Jaya. Detail-detail semacam ini kadang membuat pembaca berkerut juga; jadi settingnya di Resto Dunia Akhirat atau di kantor redaksi Indonesia Jaya? Namun, di luar kekurangan teknis tersebut, novel ini tetap menarik, baik dari segi teknik penceritaan maupun substansinya.
Sejauh saya kira, ini adalah novel pertama yang membongkar agenda liberalisme. Novel ini recomended untuk dibaca oleh masyarakat awam, khususnya pelajar dan mahasiswa, agar tidak terjebak pada pemikiran-pemikiran liberal yang seringkali ditampilkan dalam kemasan indah. Sampai bab terakhir Kemi 2, pembaca pasti masih akan bertanya-tanya, lalu bagaimana nasib Kemi selanjutnya? Bagaimana pula kisah cinta antara Rahmat dan Siti? Penulis belum memberikan ending yang final. Sebab, kata Ust. Adian, masih akan menyusul Kemi 3! Mari kita tunggu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s