Linguistik

Konsep Bahasa


BahasaMelayu
Catatan ini merupakan sebuah bentuk reproduksi ulang hasil pembacaan saya terhadap Risalah Untuk Kaum Muslim karya Prof. Syed Muhammad Naquib Al Attas. Lebih khususnya lagi, catatan yang berkaitan dengan konsep bahasa (hal. 98-108). Menurut Al Attas, perubahan dalam bahasa sesungguhnya bukan saja perubahan bentuk luaran, yakni perubahan bentuk kata serta ejaan. Akan tetapi, perubahan sesungguhnya adalah perubahan dalam makna serta bentuk paham-paham yang terkandung dalam peristilahannya. Yang dimaksud dengan peristilahan dalam suatu bahasa bukan perbendaharaan katanya yang tersimpan di dalam kamus, yang dimaksudkan itu hanya sebagian kecil kata-kata dari keseleruhan perbendaharaan dalam kamus. Namun, walaupun dia hanya sebagian kecil, tetapi justru kata-kata itu merupakan kata-kata yang menayangkan pandangan hidup bangsa yang memiliki bahasa tersebut.
Kata-kata seperti itulah yang mempengaruhi penutur bahasa terhadap pandangan alam yang dibawanya, yang disebut sebagai peristilahan dalam bahasa suatu bangsa. Agar tak terkelirukan dengan peristilahan dalam bidang ilmiah, di sini kita menyebutnya peristilahan-dasar, sebab ia memuat faham-faham dasar yang menayangkan pandangan alam serta kehidupan yang dialami oleh yang memiliki suatu bahasa tersebut. Perubahan faham-faham yang terkandung dalam peristilahan-dasar bahasa suatu bangsa atau tamadun membayangkan perubahan dalam cara berfikir dan dalam pandangan alam bangsa serta tamadun itu, sebab peristilahan dasar itulah yang merencanakan alam pada penglihatan akal nazari dan menafsirkannya menurut kebiasaan makna yang telah menetap di dalamnya.
Kini masuknya peristilahan dasar Kebudayaan Barat sedang pesat terjadi, disebarkan oleh bangsa kita sendiri tanpa kritik dan filter yang berarti, sehingga tidak mengherankan jika kini kita sendiri yang sedang giat mensekularkan bahasa kita serta peristilahan dasarnya secara tidak disadari. Faham asasi yang terkandung dalam cara hidup sekuler adalah faham perubahan, yakni ‘tiada sesuatu yang mutlak melainkan bahwa segala perkara itu harus ditinjau dari sudutnya masing-masing; setiap perkara harus dinilai dengan nilaian nisbi yang berlaku sah menurut zaman dan kecenderungan diri masing-masing mengikut pengalaman serta kesadaran hidupnya pada sesuatu masa dalam sejarahnya’.
Perubahan yang dimaksudkan itu perubahan yang sudah dianggap sebagai hakikat yang mutlak, perubahan yang sudah dijadikan sebagai nilai serta ukuran hidup, perubahan yang merupakan suatu falsafah hidup. Hal itu membuktikan betapa paham perubahan serta evolusi merupakan dasar sekularisme kebudayaan barat. Padahal, itu hanya dialami dan disadari oleh orang Barat saja, dan tidak harus dijadikan sebagai ukuran kebenaran yang boleh dikenakan pada semua orang dan kebudayaan.
Kita tidak menafikan bahwa perubahan memang ada berlaku pada bahasa dan kehidupan, tapi yang kita permasalahkan hanyalah bahwa perubahan harus berlaku, dan harus dijadikan nilai dan ukuran hidup, dan harus diterima sebagai falsafah hidup. Hal itu konon, sebab perubahan itu adalah hakikat yang dialami serta disadari dalam diri dan hayat insan; perubahan yang menafikan penetapan, yang meninjau segala perkara dengan nilaian nisbi dan yang menyaru sebagai hakikat kehidupan.
Meskipun perubahan masyarakat dan faham-faham yang terkandung dalam peristilahan dasar saling mempengaruhi pemikiran dan pandangan alam suatu bangsa, namun harus diingat bahwa bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an memiliki konsep yang tidak berubah dalam peristilahan dasarnya, tidak seperti kebanyakan bahasa lain. Bahasa Arab yang dimaksudkan ini, bukan merujuk pada bahasa Arab jahiliah atau bahasa yang berasal dari penggunaan dan perkembangannya oleh bahasa Arab, tetapi bahasa Arab yang baru, yang telah diperislamkan oleh tanzil (perantara) dan yang terus terpelihara oleh Al Qur’an, baik dari segi makna maupun dari segi lafaz. Apabila kedudukan bahasa Arab ini disadari, maka jelas bahwa pandangan alam dan hakikat semesta yang ditayangkan olehnya itu berasas pada Al-Qur’an sebagai sumber peristilahan dasarnya, yang tidak lain merupakan peristilahan Islam.
Bahasa orang Islam lainnya yang bukan bahasa Arab dapat diislamisasikan dengan memasukkan peristilahan-peristilahan dasar kata-kata Arab yang merupakan pandangan alam Al-Qur’an. Peristilahan dasar Islam inilah yang menjadi dasar bahasa orang Islam, dan selagi orang Islam tersebut masih sadar akan keislamannya, maka peristilahan dasar itulah yang menjamin tetapnya pandangan hidup Islam yang ditayangkan oleh bahasa serta pemikirannya; sebab peristilahan dasar Islam itulah yang akan menjelmakan kebudayaan Islam.
Kita tidak menafikan bahwa bahasa Arab juga mengadopsi sejumlah kata-kata dari bahasa asing beserta paham yang dibawanya, tapi selagi peristilahan dasar itu tetap berkuasa dalam pemikiran orang Islam penutur bahasa tersebut, maka hal itu tidak akan menjadi masalah. Malah yang seharusnya berlaku dalam keadaan seperti itu adalah bahasa yang diadopsi tadi disesuaikan dan diselaraskan dengan pandangan Islam. Tapi, apabila orang islam sudah keliru terhadap ilmu pengetahuan Islam dan pandangan alam yang ditayangkan olehnya, maka saat itulah pengacauan dan perubahan pada bahasa secara meluas dan mendalam akan berlaku.
Kedudukan istimewa bahasa Arab dalam menangkis perubahan dari Barat tersebut juga terletak pada rencana bentuk zahir dan batin bahasa tersebut, yang setiap katanya berpuncak pada apa yang disebut sebagai akar. Ibarat pohon, akarnya yang terbenam di bumi kena mengena dengan yang lain, begitu pun paham yang terkandung dalam akar kata itu kena mengena, bersangkut paut, dalam rangkaian jalinan makna yang lebih luas, dan pada akhirnya menyatu dalam sebuah paham agung yang merupakan puncak peristilahan dasarnya, yaitu faham tauhid.
Tiada satu pun kata dasar yang mengandung faham-faham dasar dalam Al Qur’an ini yang berdiri sendiri tanpa berkaitan dengan pernisbahan maknawi dengan yang lain. Semuanya saling berkaitan hingga merujuk pada kata-dasar agung lagi tunggal, yaitu kata ALLAH. Misal, kata alam, berasal dari akar kata ‘alm yang merupakan akar bagi perkataan ilmu. Menurut para ahli bahasa Arab, alam terbentuk dari perkataan alamat, alamat sendiri berakar dari kata ‘alm. Makna alamat merujuk pada tanda atau ciri atau bekas yang memberi tahu tentang sifat yang meninggalkan bekas itu.
Ada kaitan antara alam dengan ilmu sebab ilmu diperoleh dari tanda-tanda dan ciri-ciri serta bekas yang menyampaikan pengetahuan perihal makna yang ditandakan atau dicirikan oleh sesuatu itu. Alam merupakan tanda yang menandakan Khaliq-nya. Perkataan alam serta faham yang terkandung di dalamnya ini seterusnya juga berkaitan maknanya dengan kata makhluq, khaliq, adil, tabiat, dan banyak lagi yang lainnya.
Fakta tersebut semakin mengukuhkan bahwa berbagai peristilahan dasar dalam Islam saling kait berkait membentuk pandangan alam dan hakikat semesta menurut Islam. Hal itu tidak hanya terjadi pada bahasa Arab saja, tetapi juga pada berbagai bahasa lainnya yang telah diislamisasikan.
Sifat bahasa Arab seperti yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa bahasa Arab memang telah mencapai derajat tertinggi di antara bahasa-bahasa lain sampai kemudian dijadikan sebagai bahasa Al-Qur’an. Ketika Islam tersebar ke berbagai bangsa, maka yang pertama kali menerima kesan keislaman adalah bahasa bangsa tersebut. Kebudayaan pengislaman bahasa itu diutamakan oleh Islam karena pengislaman bahasa mengimplikasikan pengislaman pemikiran.
Inilah, Islam sejak awal sudah mengenali sifat suatu bahasa sebagai suatu rencana pandangan terhadap alam dan hakikat semesta. Bagaimana bentuk, warna, atau corak alam yang dipandang akan terpengaruh juga oleh sifat bawaan bahasa sebagai alat akali yang mengawal, merencanakan dan menafsirkan alam. Perbendaharaan kosakata suatu bahasa mencorakkan faham-faham yang membentuk pandangan alam. Kita lihat bahwa, bahasa jugalah yang menimbulkan masalah paling rumit dalam ilmu falsafah.
Kesimpulannya, pengislaman bahasa merupakan unsur utama bagi kepahaman terhadap Islam dan kebudayaan serta tamadun Islam secara keseluruhan. Ketika peristilahan dasar bahasa orang Islam tersebut dikacaukan maksudnya atau disamarkan dengan makna yang berasal dari sumber asing, maka akan terjadi deislamisasi yang menyebabkan rusaknya pemahaman umat terhadap pandangan alam Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s