Catatan

Kilas Balik 2012


13117492121761417893Setiap pergantian tahun baru, saya selalu menyukai hiruk pikuk seremonial orang-orang di sekitar saya. Anak-anak tetangga saya akan merengek-rengek minta terompet pada orang tuanya. Lalu setiap pagi, dari arah rumah sebelah timur, barat daya, barat, dan utara, bunyi treeet tret treeet prreett terdengar bersahut-sahutan. Sangat meriah.
Muda-mudi akan begadang menunggu pergantian tahun sambil bakar daging ayam atau menyaksikan pertunjukan di alun-alun kabupaten. Sementara itu, beberapa yang lainnya ikut memadati tempat-tempat wisata. Menyambangi Parangtritis, Trisik, Glagah, Kaliurang, Tawangmangu, atau berjejalan di Malioboro.
Bapak-ibu, para orang tua, dan pasangan suami istri, sebagian di antaranya ikut berlibur. Itu bagi mereka yang berstatus PNS, pengusaha, atau kalangan menengah ke atas. Adapun bapak-ibu yang lain, hanya bisa duduk-duduk di depan TV sambil merenungkan isi dompet mereka yang sudah dikuras habis untuk dolan-dolan sang anak.
Dan saya, saya hanya menonton tingkah polah mereka. Adik saya yang pertama nonton Endang Soekamti di alun-alun Wates. Adik saya yang kedua lek-lekan sambil bebakaran ayam. Ibu saya plesiran ke pantai bersama rombongan ibu-ibu kelompok wanita. Bapak saya bekerja seperti biasa. Sementara saya menyeksamai mereka untuk menulis catatan ini.
Lepas dari semua hiruk pikuk itu, salah satu hal yang selalu saya tunggu-tunggu adalah kaleidoskop tahunan yang dilansir oleh berbagai media beserta prediksi tahun yang akan datang. Kompas, Tempo, Gatra, TV One. Membaca tahun.
Tahun 2012 adalah tahun korupsi merajalela, kata TV One. Tapi saya bilang, hanya tahun terkuaknya korupsi (yang memang telah) merajalela sejak puluhan tahun silam di Indonesia. Saat ini kita lihat kasus demi kasus bergulir tanpa pandang bulu melibatkan anggota DPR, pengurus partai, kepala daerah, direktur, hingga menteri.
Di hari terakhir tahun 2012, TV One juga membuat kilas balik kasus-kasus politik di Indonesia. Kilas balik itu dimulai dengan dana talangan Bank Century yang diduga melibatkan Wakil Presiden Budiono, perseteruan KPK-Polri dalam memperebutkan penyidikan kasus Irjen Polisi Djoko Susilo, kisruh Partai Demokrat yang diawali dengan badai kasus Nazaruddin dan ditutup dengan pencopotan Ruhut Sitompul, laporan Dahlan Iskan tentang kasus suap anggota DPR, serta degradasi moral para pejabat yang mengemuka dengan kasus nikah kilat Bupati Garut Aceng Fikri. Tapi, tahun ini juga menjadi tahun Jokowi-Ahok. Kehadiran Gubernur Jakarta ini seolah memberi angin segar bagi krisis kepemimpinan Indonesia.
Buat saya pribadi, tahun 2012 ibaratkan permukaan samudra. Turun naik penuh gelombang, tapi luar biasa indah.
Januari dibuka dengan mendapatkan amanah baru di lembaga. Maka, dengan penuh antusias menyusun konsep apa sajakah yang akan saya berikan selama setahun ke belakang. Memiliki grand project, yang memang saya impikan sejak tahun sebelumnya.
<>.
Awal tahun, kejutan lain dalam hal akademik juga datang. Di luar rencana, ternyata mendapatkan tawaran skripsi lebih dulu daripada teman-teman yang lainnya. Skripsi saya ambil dan saya pun berjuang mengerjakan. Gila-gilaan kuliah 26 SKS! Pertengahan tahun, saya menjalani masa KKN. Mengimplementasikan salah satu Tridharma Perguruan Tinggi di KKN Tersan Gede Mandiri (TGM), Magelang. Memasuki medio terakhir 2012, saya lulus. Lalu beberapa bulan magang di Balai Bahasa Yogyakarta. Dan sekarang, dengan sangat tragis berstatus ‘pengangguran terdidik’ yang kegiatannya mencari kerja, menyiapkan proposal tesis S-2, menyiapkan yudisium, dan menunggu wisuda. Wkwkwk.
2012 juga, adalah saat saya banyak diuji bagaimana kedewasaan dan profesionalitas harus beradu dengan hati, emosi, dan sebentuk perasaan sederhana yang baru saja saya kenal tapi telah begitu menyiksa. Tapi, juga membuat saya lebih banyak belajar tentang ketetapan-ketetapan yang Dia gariskan untuk kita. Barangkali saya masih bebal, hingga Dia tidak bisa mengetuk saya agar bersiap hanya dari kisah orang-orang di sekitar saya, tapi sampai harus membuat saya merasakan sebelum waktunya. Semata karena Dia ingin saya bisa lebih banyak melihat, mendengar, membaca, membuka mata, dan bersiap jika suatu saat ‘dia yang sesungguhnya’ datang. Tak pernah memaksa harus siapa, cukup seseorang yang bisa menerima. Bilakah akan datang saatnya?
Awal tahun seperti ini juga membuat saya ingat, betapa berharganya waktu. Betapa banyak hal yang sesungguhnya sudah harus saya khatamkan di tahun yang silam, tapi belum juga saya khatamkan. Bagaimana caranya memungut satu detik yang berharga? Manusia memang harus terus ber-muhasabah. Seorang tabi’in pernah berkata, “Ketika ada satu dinar uang yang jatuh, orang si pemilik dinar itu akan berseru, “Aduh, dinarku jatuh.” Lantas buru-buru memungutnya. Sementara, ketika ada detik-detiknya yang terbuang percuma ia tidak menyadarinya. Padahal, satu detik itu lebih berharga daripada satu dinar yang jatuh.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s