Catatan

Waktu itu…


post-21
Perjalanan waktu hidup kita adalah seperti sebuah garis linear panjang, yang panjangnya entah kita tak tahu. Dan satu detik di hari ini seperti sebuah titik di antara garis linear itu. Kadang kita rindu dengan titik-titik lain yang pernah kita lalui. Tapi yah, karena ini adalah garis linear, kita tidak bisa kembali lagi ke titik-titik yang telah terlewat itu. Kita hanya bisa mengingat, mengenangkan, dan merindukan. Seperti saya saat ini.
Pagi ini saya tengah nonton TV bersama adik saya. Melihat tayangan entah berantah, karena nyaris setiap lima menit sekali dipindah channel oleh adik saya. Lantas, tiba-tiba saya teringat satu program TV yang sekarang tidak pernah saya ketemukan lagi. MTV.
Saya masih ingat dulu, ketika saya masih SMP-SMA, saya sering diajak nonton MTV bersama (Bu)Lek Is, anak mbah yang usianya hanya selisih lima tahun dari saya. Dari situ, saya lantas mengenal Andien, Glenn Fredly, Padi, Stinky, Elemen, Gigi, Jamrud, dan beberapa band lainnya. Lalu ingat pula ada VJ Cathy, VJ Ben, VJ Daniel, dan VJ-VJ lainnya. Saya juga jadi ikut-ikutan menyukai lagu-lagu Sheila On 7 dan Westlife. Wkwkwk. 
Saying I love you, is not the words I want to hear from you. Its not that I want you, not to say, but if you only knew. How easy it would be to show me how you feel.
More than words is all you have to do to make it real, then you wouldn’t have to say that you love me, Cz I’d already know.
Ah, kangen juga waktu-waktu itu. Meski sejatinya saya tidak pernah benar-benar suka nonton program itu. Tapi, gak tahu ya, dulu di benak “saya kecil”, ikut-ikutan nonton seperti itu kok rasanya membuat saya merasa sudah gede, sudah remaja, sudah ABG. Tidak lagi nonton kartun, Teletubbies, Mickey Mouse, atau Donald Duck.
Btw, kemana ya sekarang MTV?
***
Masih dalam rangka mengingat yang telah lewat…
Pagi-pagi. Saya sedang bersepeda di jalan. Mendadak melintas dari belakang sebuah truk membawa muatan pasir sungai. Wuusss..meninggalkan asap hitam yang langsung membuat saya gelagapan mencari oksigen.
Sementara di tepi jalan, saya lihat seorang ibu paruh baya tengah mengajak anak bayinya jalan-jalan dengan kereta dorong. Si ibu langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan. Sementara si adik bayinya, tak tahu bagaimana. Mungkin dia gelagapan mencari oksigen juga seperti saya.
Saya jadi berpikir, jika terus menerus seperti ini, bagaimana lima tahun, sepuluh tahun, atau mungkin dua puluh tahun mendatang? Pepohonan terus-menerus ditebang untuk berbagai keperluan. Polusi udara kian meningkat seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor.
Lima, sepuluh, atau dua puluh tahun mendatang… Apakah saya masih bisa mengajak adik bayi saya –suatu saat nanti kalau sudah punya, hehe— jalan-jalan pagi dengan kereta dorong? Ataukah saya harus memakaikannya masker setiap kali jalan-jalan pagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s