Catatan


12aUntukmu,
Dapatkah aku mengatakan cukup untuk setiap perasaan yang menggelayut? Yang terus menuntut. Yang terus menghujani semestaku dengan air mata.
Rerumputan di bawah kakiku masih penuh embun. Terasa basah setiap langkah kakiku menyibak. Aku telah menunggumu sejak subuh menjelang. Dan menemukan sosokmu ketika matahari tengah bersinar malu-malu dari timur. Cukup lama baru kukenali bahwa itu dirimu.
Aku menunggumu sejak hadirku. Bolehkah aku berjalan bersamamu? Aku bertanya padamu. Kau diam dan membiarkan aku berjalan menujumu. Sampai titik tertentu aku berhenti dan menatapmu. Menunggu kata-katamu. Angin menebas sepi. Hingga selintas di padang pagi itu kudengar katamu, Tidak. Menjadikan duri-duri rerumputan terasa menusuk di kakiku yang telanjang. Aku menatap sekeliling dan sosokmu perlahan menghablur. Kuedarkan pandang. Tapi juga tak kujumpai sosok lain. Hanya aku sendiri.
Pandangku jatuh, rimis, tertatap olehku duri-duri rerumputan di kakiku yang telanjang.
Jika bukan kamu, lalu siapa? Mungkin seseorang yang pernah kulihat sepintas lalu tanpa perhatian di suatu jalan. Mungkin seseorang yang selama ini begitu dekat denganku tapi tak pernah kuperhatikan. Mungkin pula seseorang yang sama sekali asing dan tak pernah kupikirkan. Mungkin.
Atau bagaimana bila mungkin ternyata memang kamu, bukankah Ia begitu rapi menyembunyikan?
Aku tak akan berharap. Aku akan menunggu.
-Subuh, 6 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s