Catatan

Nyanyian Akar Rumput


Petang mulai membayang ketika bus Trans Jogja melaju membawaku ke Terminal Giwangan. Lampu-lampu kendaraan beradu silau pandang menembus gelap yang merayap perlahan-lahan. Giwangan lagi. Lama tak bersua dengan Giwangan. Perjumpaan dengan terminal itu selalu terasa melelahkan sebagai penutup hari.
Sampai Giwangan, aku disambut dengan sebuah perubahan kecil. Ah, sungguh kata ini benar-benar kata abadi. Perubahan terjadi setiap detik setiap waktu. Baru dua bulan aku tak bersua denganmu, sudah makin berbeda saja kau, wahai terminal… Perubahan itu sungguh sederhana saja sebernarnya, shelter Trans Jogja pindah tempat. Pertama turun, langsung terlintas tanya, pindah ya? Ke arah ruang tunggu bus jurusan Purwokerto lewat mana sekarang? Setelah mengedarkan pandang sekeliling sejenak, kutemukan juga jalan. Tapi ternyata masuk ke area terminal, satu perubahan lainnya telah menantiku. Ada kios-kios orang berjualan sekarang. Beraneka ragam makanan, minuman, snack, dan oleh-oleh khas Jogja tampak semarak dari depan kios. Sejumlah titik dipasang lampu-lampu sehingga lebih terang.
Meski, di beberapa tempat juga masih sama. Wajah-wajah lelah, kekumuhan, bau keringat, asap rokok, teriakan-teriakan riuh, bau solar, deru mesin yang dipanasi, dan segala rupa bercampur baur. Dan bagiku, satu-satunya penghiburan di tengah hiruk pikuk bus malam adalah satu, senandung pengamen jalanan.
Simak senandung mereka yang kurekam semalam.
Lagu 1.
Jo podo nelongso (Jangan menderita)
Jaman e saiki wis beda (Sekarang zamannya sudah berbeda)
Urip pancen rekasa (Hidup memang sulit)
Ati kudu tentrem (Hati karus tentram)
Nyambut gawe kanthi seneng (Bekerja dengan senang)

Lagu 2.

Gara-gara petan tuma (Gara-gara mencari kutu)
Ujung-ujunge ngrasani tangga (Ujung-ujungnya membicarakan tetangga)
Bubar petan dadi perang bratayuda (Selesai mencari kutu jadi perang Bratayuda)

Lagu 3.

Anak bojo njaluk werno-werno (Anak istri minta macam-macam)
Ora ngrasak ake dadi pengamen oleh e pira (Tidak melihat jadi pengamen dapat uang berapa)
Moro tua njaluk sedan (Mertua minta mobil sedan)
Saiki pancen jaman edan. (Sekarang memang zaman edan/gila)
Petikan lagu-lagu di atas tentu bukan petikan secara lengkap, tapi hanya saya ambil mana yang saya suka dan kebetulan bisa saya ikuti untuk dicatat. Mari kita ikuti mulai dari yang pertama. Barangkali akan nampak seperti analisis karya sastra, tapi tak apalah. Maklum, sudah tiga semester tak berjumpa analisis sastra lagi, ^^
Lagu 1.
Di lagu tersebut mereka berkeluh kesah sebagaimana umumnya rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Janganlah menderita, sekarang zamannya memang sudah berbeda. Hidup memang sulit, tapi hati harus tentram, bekerjalah dengan hati senang. Mereka mengeluhkan sulitnya hidup tapi masih dengan cara yang arif dan tak memaki-maki. Bahkan, mereka masih bisa berpesan, hati harus dibuat tenteram meskipun hidup ini sulit. Bekerja dengan hati riang, karena bekerja dengan rasa senang bisa menjadi obat bagi keluh kesah hidup.
Lagu 2.
Nah, inilah salah satu syair yang menggelitik hati saya. Anda tahu petan tuma ? Kalau Anda tinggal di desa lingkungan suku Jawa, yang letaknya masih agak pelosok, istilah itu tidak akan asing. Petan berarti mencari, dan tuma berarti kutu. Jadi, petan tuma berarti mencari kutu. Kutu tidak lain dari seekor binatang yang bersarang di rambut. Bentuknya kecil, warna hitam, dan kadang sangat gesit menyelip di antara rambut-rambut. Kutu tersebut bertelur, telurnya disebut lingsa dan warnanya putih-putih menempel di rambut. Hii, bergidik kadang mengingat rambut seseorang yang dipenuhi kutu dan telur-telurnya. Begitu rambut disibakkan, warna putih lingsa semarak memenuhi rambut dan sesekali kutu berlarian. Kutu sangat senang berkembang biak di rambut orang yang jarang dikeramas, biasanya anak-anak kecil atau nenek-nenek. Tapi untungnya, tampaknya perkembangbiakan kutu rambut ini sekarang sudah tidak terlalu banyak seiring pemahaman orang tentang pentingnya kebersihan rambut.
Masih berkaitan dengan si tuma atau kutu, karena banyak orang desa yang memiliki kutu, maka orang-orang tersebut suka mencari kutu dengan cara duduk berbaris mengular menghadapi kepala orang yang ada di depannya. Demikian hingga tiga atau empat orang duduk mengular. Kebiasaan itulah yang disebut dengan petan tuma.
Namun, mengingat kodrat manusia sebagai makhluk sosial, sambil petan tuma pun mereka tidak hanya diam membisu berkonsentrasi pada kepala orang di depannya. Mereka juga bercakap-cakap, mengobrol, berkeluh-kesah, hingga ujung-ujungnya menggunjingkan tetangga. Tak jarang fitnah muncul dari acara petan tuma. Dan yang berbahaya adalah ketika fitnah itu didengar oleh yang bersangkutan dan dia tidak terima. Misal, demikian. “Eh, tahu gak si anu itu ternyata suka main belakang kalau gak ada suaminya! Kemarin ada laki-laki ganteng naik mobil mampir ke rumahnya. Padahal suaminya pas pergi, gak orang di rumahnya.” Nah, ternyata yang bersangkutan mendengar fitnah itu dari orang ketiga atau keempat. Dan berita tersebar luas padahal ternyata tidak benar. Yang mampir ke rumah tukang kredit nagih angsuran sepeda motor misalnya. Maka, jadilah itu bisa perang Bratayuda seperti yang dikatakan di lagu sang pengamen.
Sebuah potret sosiologis yang tajam.
Lagu 3.
Lagu terakhir menjadi sebuah potret yang juga sangat lazim terjadi di kalangan masyarakat. Kadangkala seorang kepala keluarga sampai stress memikirkan permintaan anak istrinya yang bermacam-macam. Minta ini, minta itu, tidak melihat kapasitas diri sang kepala keluarga yang telah membanting tulang siang malam. Dalam lagu tersebut dikatakan, Ora ngrasak ake dadi pengamen oleh e pira. Sungguh, itu nampak seperti curcol si pengamen. Tapi nyatanya hal demikian memang sering terjadi di sekeliling kita.
Pernah barangkali kisah ini terjadi juga di sekeliling Anda, suatu kali seorang tetangga stroke gara-gara anaknya minta kuliah dengan sepeda motor XXXX (nama merk tertentu), sementara si bapak merasa tak sanggup membelikan. Pokoknya, tanpa motor itu, aku tidak mau kuliah!, kata si anak. Wah, sudah, si bapak pun langsung jatuh sakit memikirkan anaknya. Hingga kemudian stroke dan akhirnya tidak dapat menggerakkan separuh badan. Larik selanjutnya seolah merupakan sebuah hiperbola. Sudah anak istri minta macam-macam, mertua minta (mobil) sedan. Bagi pengamen, tentu sedan adalah benda mewah yang tak terjangkau. Makanya, ia kemudian mengambil konklusi seperti pada larik terakhir: Sekarang memang zaman edan!
Itulah mereka, para pengamen jalanan, satu dari sekian jenis akar rumput yang suaranya seringkali teredam angin kehidupan. Tapi jangan pernah remehkan bagaimana teriakan akar rumput yang terinjak-injak oleh sol sepatu pemerintahnya. Mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri, bahasa lagu jalanan. Barangkali mereka tidak kenal menyuarakan aspirasi lewat diskusi-diskusi publik yang megah, konferensi di hotel-hotel, atau berdemonstrasi di depan gedung DPR. Mereka mungkin tidak pernah terpikir sampai ke sana. Karena siapa tahu, bagi mereka kedai kopi pun sudah bisa jadi ajang diskusi, pos ronda bisa jadi tempat konferensi dan konsolidasi, serta senandung mereka di atas bus malam itulah yang mereka sebut demonstrasi. Inilah cara mereka bicara, semata-mata hanya masalah cara bicara. Setiap cara bicara menyesuaikan dengan siapa pembicaranya.
Kalau suatu kali Anda mendengar pengamen bersenandung semacam itu, nikmatilah. Dengarkan dan hayati, betapapun beratnya pelajaran mendengarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s