Catatan

Overture


Diary hari pertama KKN.

Jelang subuh ketika aku terbangun dan menyadari bahwa aku tidak lagi berada di rumahku yang nyaman. Aku menatap dinding di atas dan mendapati bahwa aku tidak lagi melihat dinding rumahku yang biasa, aku melihat ke samping dan mendapati bahwa mataku tidak lagi menumbuk tumpukan buku yang biasa. Sebuah tempat baru. Sebuah warna kehidupan baru. KKN.

Beberapa tahun yang lalu, pernah pula ada serombongan KKN di desaku. Mereka membantu mengajar anak-anak desa mengenal Rabb-nya di masjid setiap sore, lewat huruf alif ba tsa yang terbata-bata. Mereka membuat lomba-lomba yang meriah. Mereka membantu warga membentuk usaha-usaha kecil menengah. Dan, mereka meninggalkan jejak berupa gapura selamat datang. Di setiap apa yang tertinggal dari jejak mereka, tak pernah alpa tertulis dengan jelas tanggal dan tulisan KKN PPM UGM 2010.

Aku ingat betapa senangnya anak-anak melihat kedatangan KKN. Memanggil-manggil dengan sebutan mas dan mbak KKN. Betapa berharapnya warga, bahwa KKN akan memberikan sesuatu bagi mereka. Euforia, kekaguman, harapan, dan mimpi-mimpi masyarakat akan datangnya warna perubahan yang lebih cerah tergantung di pundak mereka. Dan mulai hari ini, hingga 38 hari mendatang, seperti itulah aku akan menjadi.

Membawa tema “Comunity Development Berbasis Optimalisasi Produk Olahan Kelapa…Menuju Desa Tersan Gede Mandiri” (gak hafal tema, hehe), kami hadir di tengah-tengah masyarakat desa Tersan Gede. Atau bagi kami berenam, lebih tepatnya dusun Bobosan, desa Tersan Gede. Lokasi KKN kami berada di dusun Bobosan, Tersan Gede, Kec. Salam, Kab. Magelang Jawa Tengah. Dengan waktu tempuh normal 45 menit, Tersan Gede bisa dijangkau dari UGM. KKN kami bernggotakan 22 orang, terbagi dalam empat sub unit –Medangan, Nabin, Bobosan, Puguhan-, dan merupakan generasi KKN PPM UGM yang kelima di tempat tersebut. Salah satu potensi yang kami kembangkan di sana adalah produk olahan kelapa. KKN 2010 telah membelajarkan pada masyarakat desa ini untuk mengolah kelapa menjadi srundeng, nata de coco, dan gula herbal. Amanah kami dalam KKN periode ini adalah membuka ruang pemasaran yang lebih luas bagi produk-produk tersebut.

Masyarakat di sini kukira tidak jauh berbeda dengan tipe masyarakat di tempatku. Salah satu alumni TGM periode April-Mei 2012 mengatakan, masyarakat masih lebih menginginkan infrastruktur atau sesuatu yang terlihat secara fisik. Namun, yang namanya Comunity Development, tentu saja yang harus diutamakan adalah suatu asupan yang bisa memberi manfaat jangka panjang bagi pemberdayaan masyarakat. Salah satunya dengan mengajarkan pada masyarakat untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kuncinya adalah pada pendidikan, pembinaan, dan pendampingan. Kalaupun bangunan fisik, bangunan itu adalah yang menunjang bagi pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tugu monumen atau gapura selamat datang.

Tapi sebelum berbicara sampai pada masyarakat yang akan kami berdayakan, (atau jangan-jangan besok justru malah kami yang terberdayakan?Hehe.), yang pertama adalah tentang sub unit ini. Tentang sub unit ini, tentang orang-orang yang akan berpadu di dalamnya, dan tentang dinamika yang menyertainya. Keluarga kecil macam apa yang akan kujelang ? Aku tidak tahu. Rapat-rapat pendahuluan KKN belum banyak membuatku mengenal seperti apa mereka. Ibaratnya sebatang pohon, aku baru melihatnya dari atas saja, melihat dedaunan yang menutupinya. Aku tidak tahu seperti apa batang di bawahnya, tanah yang menghidupinya, dan buah-buah yang mungkin bergelantungan masak di dahannya. Untuk semua itu, yang bisa kulakukan hanyalah berpikir positif terhadap setiap orang yang ada di KKN ini. Dan yakin, tentu mereka akan memberikan banyak warna nada pembelajaran bagiku.

Barangkali semacam ini pula ketika suatu waktu nanti aku membentuk sebuah keluarga kecil dalam arti yang sebenarnya. Keluarga kecil sebagai unit terkecil dari masyarakat. Seperti halnya aku belajar dengan keluarga kecil sub unit ini, aku akan belajar untuk mengenal orang yang tidak pernah kukenal sebelumnya, belajar untuk hidup selama 24 jam dengannya, mengenali kebiasaan-kebiasaannya yang entah aku belum tahu apakah aku bisa menerima, mengenali apa yang ia suka dan tidak ia suka, serta yang lebih dari keluarga kecil sub unit ini, aku harus menerimanya dengan sepenuh jiwa. Indahnya… Kapan ya ?? Hehe.

Tersan Gede, 9 Juli 2012

***

Dalam kerinduan akan “keluarga kecilku” di KKN…

Air mataku yang baru bisa tumpah pada detik-detik terakhir di Tersan Gede, segera menyisakan perasaan lain. Pertama adalah kehilangan, sebab tidak lagi bersua dengan suasana dan jiwa-jiwa yang telah melingkupiku selama 38 hari terakhir. Selanjutnya, adalah kerinduan. Rindu akan fragmen-fragmen kecil yang membuatku tertawa, merasa lucu, atau kadang juga kesal. Merindukan kelima orang squad tim Bobosan “Sejahtera” –Cerah, Cholis, mbak Tetty, Uti, Ayu- yang telah memberiku banyak pelajaran.

Merindukan adik-adik TPA Bobosan yang hadir dengan segala dinamikanya. Radin yang lucu, Irma kecil yang manis, duo Putri dan Eva, “si putri Jepang” Kiara, dan kakaknya Kenji, Bunga yang dengan jahilnya sering membuat Nabila menangis, Reva yang tidak sabar, dua Devi (Devi kecil dan Devi besar), Neli, Miftah, Pras, Eko, Angga, Dicky, Rifki, serta Fatma dan Gesti yang baru muncul pada saat-saat terakhir… Pun tak lupa, Tari, Lupi, dan Hesti, adik-adik luar biasa yang pada mereka kami berharap dapat membantu meneruskan TPA. Mereka, pelangi indah berwarna-warni yang melengkung di hati kami.

Meski, kerinduan itu hal biasa. Kenangan memang akan selalu hadir menyertai berlalunya suatu peristiwa.

Tapi bukan hanya tentang perpisahan, rasa kehilangan, dan kerinduan… Pasca KKN, terlintas pula dibenakku, bahwa KKN membuat kita merefleksi, seberapakah kualitas diri kita, dengan mengaca pada saudara-saudara kita yang lainnya. Seberapa seringkah kita sholat malam, dhuha, dan tilawah ? Seberapa banyak hafalan kita ? Seberapa tepat waktukah kita bersua dengan-Nya dalam sholat fardhu ? Apakah kita sudah cukup dewasa menghadapi setiap permasalahan ? Jika belum, maka kita akan langsung terkondisikan untuk memperbaiki diri. Itulah enaknya KKN bareng ikhwah. Terjaga dan Menjaga.

KKN pun membuat kita paham betapa indahnya saling menjaga terhadap saudara-saudara kita yang lainnya. Hidup sebagai keluarga kecil selama 38 hari, tentu membuat kita tahu, siapa ‘sesungguhnya’ orang itu. Mulai dari yang baik-baik hingga yang paling buruk dari dirinya. Tapi ia membuat kita semakin tahu, bahwa seburuk apapun seseorang, tetap saja ia memiliki sisi-sisi indah sebening embun pagi yang menyejukkan hati. Dan sebaik apapun seseorang, tetap saja ia memiliki warna-warna gelap yang membuat kita enggan atau kesal. Maka, pada akhirnya, semua menjadi bermuara pada seberapa kita mampu mengoptimalkan sisi-sisi indah itu dalam setiap kebersamaan, dan seberapa kita mampu menghapuskan warna-warna gelap itu dalam benak kita agar ia tak merusak persaudaraan. Dan, tentu saja mengambil yang baik dari setiap orang.

Salam pemberdayaan !

Yogyakarta, 16 Agustus 2012

Teruntuk, Cerah Bintara Nurman, M. Nurcholis Alhadi, Tetty Harahap, Maruti Asmaul Husna, Eka Ayu Ariesta, terimakasih untuk kebersamaannya dalam ‘keluarga kecil’ selama 38 hari, ^^

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s