Akademika

Bahasa Manusia dan Binatang


Buat saya, masa-masa ujian adalah masa yang…di satu sisi membuat saya merasa sedikit lebih produktif. Masa ujian adalah masa untuk mengupload berbagai jawaban ujian saya ke blog. Iya, sekedar share, ngapain jawaban diumpetin. Dan kali ini, saya ingin mengupload salah satu jawaban soal mata kuliah psikolinguistik saya. Apa pertanyaannya Pertanyaannya adalah sebagai berikut. “Manusia memiliki bahasa, bagaimana dengan binatang? Mengapa binatang tidak dapat berbahasa layaknya manusia? Jelaskan pendapat Anda dengan disertai bukti.”

Kita lihat semut saling menyentuhkan sungut dan kakinya bila bertemu dengan semut lain. Induk ayam akan mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu untuk memanggil anak-anaknya ketika menemukan makanan. Kucing juga akan menciptakan bunyi-bunyian yang khas (bahkan terkadang mirip tangisan bayi) ketika ia hendak menarik perhatian lawan jenis. Demikian pula halnya dengan lebah. Lebah juga memiliki tarian-tarian tertentu untuk memberitahu teman-temannya ketika menemukan nektar. Mereka akan membuat tarian yang menunjukkan dimana tempat nektar tersebut berada, berapa banyak, berapa jauh jaraknya, apakah ada ancaman atau tidak untuk sampai ke sana, dan sebagainya.

Dari fakta ini tampak bahwa binatang juga memiliki “bahasa”, sekalipun bahasa yang digunakan oleh binatang berbeda dengan bahasa yang dimiliki oleh manusia. Binatang juga menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan spesies yang sejenis, seperti halnya manusia berbahasa untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Namun, bentuk komunikasi yang dilakukan oleh binatang juga terbatas. Bagi binatang, bahasa hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primitif (primer) mengenai keadaan emosi, tanda adanya bahaya, mengenali sesama golongan, memanggil pasangan atau anak, adanya makanan di tempat tertentu, dan percumbuan (Markam, 1991: 21). Apabila manusia memakai sebagian besar otaknya untuk proses mental, termasuk proses kebahasaan, binatang lebih banyak memakai otaknya untuk kebutuhan-kebutuhan fisik (Dardjowidjojo, 2010: 208).

Mengapa manusia dapat berbahasa sedangkan binatang tidak ? Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lainnya, baik dalam struktur maupun fungsi. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Pada makhluk lain seperti simpanse dan gorilla juga tidak terdapat daerah-daerah yang dipakai untuk memproses bahasa (Dardjowidjojo, 2010: 208). Dari segi biologi, manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang. Mulut manusia misalnya, memiliki struktur yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda. Ukuran ruang mulut dalam bandingannya dengan lidah, kelenturan lidah, dan tipisnya bibir membuat manusia mampu untuk menggerak-gerakkannya secara mudah untuk menghasilkan bunyi-bunyi yang distingtif (Dardjowidjojo, 2010: 4).

Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Gua, seekor simpanse yang diteliti oleh Prof. Kellog dan istrinya, dapat memahami sekitar tujuh puluh kata tetapi ia tidak dapat berbicara. Vicki, simpanse yang diajar oleh Dr. Hayes dan istrinya, hanya dapat mengatakan papa, mama, cup, dan up. Prof. Gardner dan istrinya juga melatih simpanse Washoe bahasa isyarat. Dia berhasil menguasai sekitar 100 kata dala waktu 21 bulan, tetapi tetap saja tidak dapat berbicara. Dan terakhir, simpanse yang dilatih oleh Herbert Terrace yang dinamakan Nim Chimsky tampaknya menunjukkan adanya kemampuan menggabung kata, tetapi setelah diteliti lebih lanjut kedapatan bahwa kemampuan itu semu belaka (Dardjowidjojo, 2010: 5).

Simpanse merupakan primata yang paling dekat dengan manusia. Bahkan, menurut penelitian terbaru, DNA kedua makhluk ini mirip sampai 95-99% (Dardjowidjojo, 2000: 52). Namun, tetap saja primata seperti simpanse tidak dapat menguasai bahasa meskipun sudah dididik dan dilatih secara khusus. Semua usaha yang berujung pada ketidakberhasilan melatih hewan berbahasa menggunakan bahasa manusia tersebut menunjukkan bahwa bahasa manusia merupakan sesuatu yang bersifat insani.

Hal itu senada dengan teori pemerolehan bahasa yang diajukan oleh Noam Chomsky, bahwa pemerolehan bahasa bersifat kodrati dari dalam diri manusia. Manusia dapat berbahasa karena ia memang telah terlahir dengan seperangkat piranti yang memungkinkan dia untuk berbahasa, kapasitas otak yang sesuai, dan faktor biologis yang mendukung. It conveys the idea that people know how to talk in more or less the sense that spiders know how to spin webs…spiders spin spider webs because they have spider brains, which give them the urge to spin and the competence to succeed (Pinker, 1994: 18).

Daftar Pustaka

Dardjowidjojo, Soenjono. 2000. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo.

_________________. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Markam, Soemarmo. 1991. “Hubungan Fungsi Otak dan Kemampuan Berbahasa pada Orang Dewasa” dalam Dardjowidjojo, Soenjono (peny.). Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya (PELLBA) 4.  Yogyakarta: Kanisius.

Pinker, S. 1994. The Language Instinct: How The Mind Creates Language. New York: Harper Collins.

One thought on “Bahasa Manusia dan Binatang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s