Catatan

MEMBACA ANNELIES


Dari tangga itu turun bidadari Annelies, berkain batik, berkebaya berenda. Sanggulnya agak ketinggian sehingga menampakkan lehernya yang jenjang putih. Leher, lengan, kuping, dan dadanya dihiasi dengan perhiasan kombinasi hijau-putih zamrud mutiara dan berlian. (Sebetulnya aku tak tahu betul mana intan mana berlian, asli atau tiruan).

Aku terpesona. Pasti dia lebih cantik dan menarik daripada bidadarinya Jaka Tarub dalam dongengan Babad Tanah Jawi. Nampak ia tersenyum-senyum malu. Perhiasan yang dikenakannya agak atau memang berlebihan, terlalu mewah. Dan aku merasa: dia berhias untuk diriku yang seorang.

“Dia bersolek untukmu, Nyo!” bisik Nyai. (Bumi Manusia, hlm 59-60)

Hampir enam tahun yang lalu ketika saya pertama kali membaca novel ini, fragmen ini terasa biasa saja. Namun belakangan ini, saya merasa bahwa ini bukan sekadar gambaran peristiwa seorang gadis yang berdandan dan turun dari tangga, seorang gadis yang jatuh cinta, dan semacamnya. Tapi ini adalah sebuah gambaran psikologis yang kompleks. Gambaran psikologi seorang wanita.

Seolah menjadi sebuah kutukan turun temurun bahwa perempuan akan berusaha untuk selalu tampil secantik mungkin di hadapan laki-laki yang dicintainya. Baik laki-laki maupun perempuan sebenarnya sama saja, mereka berusaha untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Tetapi, dalam hal berhias, kebutuhan laki-laki untuk berhias demi pasangannya tidak sebesar wanita. Laki-laki berusaha untuk membahagiakan perempuan yang dicintainya dengan cara yang berbeda.

Mungkin ini berkaitan dengan kecenderungan laki-laki dan perempuan yang juga berbeda. Laki-laki lebih tertarik pada fisik sehingga wanita yang “sadar diri” akan berusaha untuk berhias dan tampil secantik mungkin. Sementara itu, sebagian besar perempuan lebih tertarik pada laki-laki bukan karena fisiknya, tapi lebih pada sikapnya. Maka, kalau kita perhatikan, laki-laki berusaha menyenangkan hati perempuan yang dicintainya dengan perhatian-perhatian.

Beberapa hari ini pula saya terpikir, bagaimana posisi perempuan (gadis) Jawa dalam masyarakatnya. Mereka seolah menjadi sesuatu yang dijaga sekaligus dipamerkan. Persis seperti permata berlian di toko. Setidaknya, itu pendapat saya dari pengalaman singkat menjadi “pager ayu” pernikahan seorang teman. Sempat terpikir, mengapa yang ditaruh di depan sebagai penjaga buku tamu dan mempersilahkan tamu adalah gadis-gadis ? Dan, setidaknya pasti dicari gadis yang menarik, terhormat, atau punya ‘sesuatu’. Katakan saja, gadis yang tidak terlalu memalukan untuk dipamerkan pada segenap tamu undangan. Saya tidak merasa sebagai orang yang menarik, cantik, terhormat, dan seterusnya itu juga, tapi barangkali saya dianggap cukup punya ‘sesuatu’.

Tapi, ketika saya lihat di seberang saya, di barisan laki-laki yang menerima tamu, mereka bukanlah sederetan para pemuda yang tampan. Mereka justru bapak-bapak, para tokoh masyarakat. Mengapa ?? Mengapa di deretan perempuan sini juga bukan ibu-ibu istri para tokoh tersebut ? Dan di sini saya merasa, perempuan merupakan sosok yang…seperti permata berlian di toko tadi. Kami dijaga, diperlakukan halus, dirias cantik, tapi juga dipamerkan dan dijadikan penarik hati bagi orang-orang ! Ya, itulah dunia Jawa.

Ini bukan pengalaman pertama berhadapan dengan budaya Jawa yang kental dalam tradisi pernikahan sebenarnya. Tapi, dulu pemaknaan terhadap momen-momen itu tidak seterasa sekarang. Ketika SD, saya beberapa kali menjadi pengipas temanten. Pengipas itu, dua orang anak putri kecil-kecil yang dirias sedemikian rupa dan bertugas mengipasi kedua pengantin dengan kipas bulu yang indah. Beranjak SMP-SMA, karena sudah semakin besar, saya pun menjadi domas (pengiring pengantin). Di tempat saya, domas biasanya dua sampai empat orang. Kalau empat orang, itu berarti dua putra dan dua putri, sedangkan bila dua orang maka semuanya putri. Di sini tugas kami sangat tidak jelas, kami menemani pengantin duduk di samping pelaminan. Hanya duduk saja, seolah dipamerkan kepada para undangan yang terhormat.

Dan kini, setelah tidak pantas menjadi pengipas temanten maupun domas, saya harus menikmati posisi menjadi juru laden tetamu (sinoman) atau resepsionis. Menjadi resepsionis, berarti pula menjadi garda terdepan bagi para tamu. Jika dilihat dengan kacamata umum, semua memang terasa sangat wajar, ya jelas dong, masa yang dijadikan menjadi resepsionis nenek-nenek! Tapi jika dilihat dengan cara yang sedikit berbeda, saya pikir itu bisa mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa melihat sosok seorang perempuan. “Manekin-manekin yang berjajar manis di toko baju, indah, dan menimbulkan rasa ingin memiliki. Tapi jangan berani-berani mengambil kami bila Anda tak cukup punya harga yang kami kehendaki.”

Bolehlah saya bilang, adat pernikahan Jawa adalah salah satu cara untuk melihat bagaimana orang Jawa memandang dan menempatkan para perempuan-gadisnya. Sesuatu yang…menarik jika Anda melihatnya secara kritis.

Dan, berbicara tentang perempuan, saya jadi teringat pada iklan-iklan produk kosmetik di media massa, khususnya televisi. Kalau Anda perhatikan, bagaimana di sana digambarkan bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang bisa menarik perhatian laki-laki/orang yang dicintainya. Di sini cantik menjadi diatur oleh kriteria laki-laki. Misalnya saja iklan krim pemutih wajah. Sangat jamak kita jumpai kisah iklan semacam ini.

Ada seorang perempuan yang menyukai seorang laki-laki. Lalu kulitnya kurang cerah, sebut saja begitu. Perempuan tadi kemudian memakai produk pemutih wajah yang diiklankan. Setelah perempuan itu memakai produk itu, wajahnya pun berangsur-angsur cerah, dan ketika ia bertemu dengan laki-laki yang disukainya tadi, laki-laki itu seolah terkena magnet dan mendekat pada si perempuan. Akhirnya, ia bisa menarik perhatian laki-laki yang disukainya. Dan perempuan model iklan itu pun tersenyum senang.

Buat saya, itu artinya, perempuan masih terjajah pada tatanan konsep yang dibuat oleh laki-laki. Ironi yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s