Catatan

WAKTU


Rabu, 9 Mei 2012. Aksi menolak kedatangan tokoh feminis liberal asal Kanada, Irshad Manji, berlangsung di sekitar Gedung Pascasarjana UGM. Aksi hari itu adalah seperti biasanya aksi. Orasi, rontek-rontek, dan berapa puluh orang berjajar. Maka, bukan aksi yang membuat saya tergelitik untuk mengendapkan hari itu dalam tulisan ini. Tapi hal-hal kecil, sesuatu sepele dengan sedikit sentuhan human interest yang teramati dan terekam, itulah yang menarik.

Ternyata, tiga empat tahun adalah waktu yang panjang. Sebuah kurun waktu yang mampu mengubah seseorang hingga membuat kita, Itu dia ? Eh, beneran, dia yang dulu bla bla bla itu ? Yang bener ? Atau somethings like that-lah. Pun hari itu. Seorang orator dalam aksi itu, seorang laki-laki dengan postur tinggi jangkung dan agak celelekan, membuat saya merasa deja vu. Ah, masa dia ? Kayaknya dulu tidak suka aksi-aksi deh. Tapi kok mirip banget ya ? Tinggi jangkungnya, gaya bicaranya, garis mukanya, dan sikap celelekannya tetap tak tersamarkan. Bedanya, ia sekarang tampak tak sekurus dulu. Barulah ketika sang MC dalam aksi hari itu, (adakah sebutan yang lebih tepat selain MC aksi?) menyebutkan sebuah nama, saya berkata dalam hati, Eh, beneran dia ni…

“Mari kita dengarkan orasi dari saudara kita, Mr. Z dari bla bla bla (ia menyebut sebuah nama organisasi pergerakan).”

Demi meyakinkan diri, saya tanya teman sebelah saya, itu tadi siapa? Berharap pendengaran saya agak salah kali ini. Mr. Z, katanya. Eh, ternyata telinga saya tidak salah dengar. Maka sepanjang orasinya saya hanya bisa berpikir, Hm, bagaimana bisa ya dia menjadi seperti itu?

Laki-laki itu, kakak kelas saya, seorang alumni OSIS, Rohis, dan sekaligus Pecinta Alam. Bukan hal baru sebenarnya bila ia berada melanglang di berbagai organisasi. Hanya interest-nya yang barangkali sedikit bergeser. Dan bagi saya itu sangat mencengangkan. Orang lain mungkin melihat orasinya biasa saja, tapi bagi saya, sebagai orang yang mengenalnya lebih awal tiga empat tahun yang lalu, itu terasa sangat luar biasa. Subhanallah, bicaranya sekarang sudah tentang Islam dan feminisme dia. Demikianlah, saya terheran-heran hari itu.

Agaknya, saya tidak cermat membaca waktu. Jangankan tiga empat tahun, satu detik saja kadang sudah menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk mengubah seseorang. Apalagi tiga atau empat tahun, itu bisa jadi rentang waktu yang sangat panjang. Pasti telah banyak hal yang terjadi dalam dinamika hidup seseorang. Orang yang dulu begitu hedonis, manusia mall, ahli salon, atau bahkan mungkin tiga kali sehari ke fast food, dalam jangka waktu tiga empat tahun itu bisa jadi telah bertransformasi menjadi seorang penimba ilmu di berbagai kajian, pengisi halaqah-halaqah, berpakaian tertutup, sangat menjaga diri, dan sebagainya. Siapa yang pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup orang ?

Mengingat itu, sejenak saya pun menjadi merasa tak ubahnya ibu-ibu paruh baya, teman ibu atau ayah saya, yang ketika bertamu ke rumah sering menegur saya, “Eh, lha kok udah besar sekarang, mbak ? Udah kuliah lagi.” Atau bertanya pada orangtua saya, ‘Anakmu kok sekarang sudah besar ? Cepet banget.”  Atau kadang, “Kayaknya baru kemarin kan suka main-main sama si A, pada bertengkar, rebutan mainan, lha kok sekarang sudah gadis.” Saya hanya tersenyum-senyum. Seolah mereka lupa bahwa waktu terus berputar saja. Orang-orang sibuk dengan dunia dan kehidupannya sendiri sampai-sampai lupa bahwa waktu juga berjalan bagi orang lain.

Dan pertanyaan yang menyisa dalam benak saya adalah…

Seberapa banyakkah perubahan dalam diri saya? Apakah saya juga telah berbeda jauh dari waktu-waktu yang telah lalu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s