Catatan

PENGAMEN


Apa yang Anda lakukan ketika ada pengamen masuk ke dalam bus atau kendaraan umum yang Anda tumpangi? Pura-pura tidur, tetap duduk tak acuh, membuka buku lantas sok-sokan membacanya, atau mendengarkan senandung sang pengamen dengan khidmat? Banyak yang melakukan hal pertama, kedua, atau ketiga, tapi jarang yang terakhir. Dan berapakah yang biasa Anda berikan sebagai ongkos suara sang pengamen? Seratus, Dua ratus, Lima ratus, atau berbaik hati memberikan uang Pattimura? Haha, oke, berapa pun, saya tidak ingin membahasnya.

Tapi, sebagai orang yang setiap hari naik kendaraan umum, dan hampir setiap hari berjumpa dengan pengamen, ada juga yang menarik dari mereka.

Pengamen yang paling saya sukai adalah serombongan pengamen yang terdiri atas tiga orang. Hanya dapat saya jumpai ketika saya kemalaman dan harus naik bus malam, para pengamen itu membawa alat-alat musik yang relatif beragam. Satu orang pegang tiga buah pipa pralon yang ditutup karet ban sehingga menyerupai drum kecil, satu orang pegang gitar, dan satu lagi menyanyi. Sekali tampil, mereka biasa membawakan tiga sampai empat lagu. Yang membuat saya senang adalah, mereka menyanyi dengan segenap jiwa, dengan sungguh-sungguh hingga lagu habis. All out. Tidak hanya sekedar asal nyanyi lalu kecrek-kecrek-kecrek. Lagu favorit saya dalam setiap penampilan mereka adalah sebuah lagu entah apa judulnya, yang di dalamnya tersisip sebait puisi pendek.

Aku tak ingin cinta kita seperti kembang api,

yang terlihat sekejap kemudian mati.

Aku tak ingin cinta kita seperti bulan dan bintang,

yang terlihat dekat tapi sebenarnya jauh sekali.

Aku ingin cinta kita seperti angin atau udara,

yang meski tak terlihat tapi sebenarnya ada…

Manis sekalii… Itulah yang saya pikir, bahwa profesi apapun memang membutuhkan totalitas dan performa terbaik. Untuk mereka, harga saya adalah lima ratus rupiah.

Namun, ada juga pengamen yang membosankan, atau lebih tepatnya memuakkan. Pengamen yang paling bosan saya temui adalah seorang laki-laki yang setiap kali tampil tidak bisa lain kecuali membacakan puisi cinta Rabiah Al Adawiyah. Setelah membaca puisi, ia akan membaca doa. Tapi tampilnya saja sok religi, kalau lihat orangnya, benar-benar menjengahkan. Bagi yang jarang melihat mungkin berpikir dia alim, tapi bagi yang setiap hari melihat, rasanya bosan. Bukan dengan performance-nya, tapi dengan caranya. Baru satu detik yang lalu membaca puisi dan doa dengan religiusnya, detik selanjutnya matanya sudah akan melirik ke sana ke mari mencari perempuan cantik, mencolek-colek, berkata-kata kotor, dan sebagainya. Benar-benar saya pikir, musang berbulu domba.! Mending dia nyanyi hip hop sekalian malah tidak masalah. Untuk dia, harga saya 0 rupiah dan tatapan pura-pura tidak melihat atau mendengar.

Pengamen yang membuat saya malas dan tak peduli adalah adik-adik kecil di dekat Mirota Kampus yang akan menyanyi selama lampu merah itu. Ketika lampu merah dan bus berhenti, mereka berlomba-lomba naik ke atas lalu bernyanyi. Kalau lampu sudah berganti hijau, mereka akan buru-buru menadahkan tangan kepada para penumpang dan berlari turun tanpa peduli baru berapa detik mereka bernyanyi dan lagu belum selesai. Saya malas dan tak peduli, karena adik-adik kecil itu tidak sungguh-sungguh bernyanyi, kadang nyanyinya asal, kadang tidak hafal lirik sehingga hanya na na na na, kadang nyanyi untuk para penumpang di depannya tapi yang dilihat entah siapa di seberang jalan sana, dan sebagainya. Ada rasa iba kadang, tapi entahlah. Untuk adik-adik kecil itu, harga saya adalah Rp 0-Rp 500 tergantung kedermawanan hati saya hari itu.

Untuk setiap penampilan pengamen, ada harganya. Pun untuk setiap perjuangan dalam hidup ini, juga ada harganya.

Suatu kali ketika saya pulang dari pengambilan data subjek penelitian skripsi di daerah Umbulharjo sendiri, jam 5 sore, tidak ada bus, harus jalan kaki entah berapa kilometer mencari jalan utama yang kemungkinan dilalui bus, dan itupun ternyata tidak ada, lantas harus berputar naik bus lain terlebih dahulu, saya berpikir, andai kau ikuti satu hari saja sejak aku memulai hariku hingga pulang dan menutup hari, akan kau dapati betapa besarnya daya survive yang harus ku hadapi untuk menyelenggarakan hidup ini. Dan aku membutuhkan kau, sang fana yang bisa tersenyum padaku ketika aku merasa lelah. Ah, pada titik ini rasanya benar-benar salah, ternyata aku belum juga bisa mencukupkan diri dengan memiliki-Nya, Sang Maha Segala. Barangkali memang begitulah manusia. Tetap selalu membutuhkan yang sesuatu konkret, sesuatu dengan dimensi yang sama dengannya.

Dan tentang hidup ini, saya senang menengok ucapan penyair Perancis, Victor Hugo di halaman ke-290 dalam novel legendarisnya, Les Miserables…

“Banyak tindakan hebat telah dilakukan di dalam perjuangan-perjuangan kecil kehidupan. Ada keberanian yang kukuh meskipun tak terlihat, untuk mempertahankan diri dalam kegelapan melawan serbuan kemiskinan dan kebejatan moral. Inilah kemuliaan dan kemenangan batin yang tidak terlihat oleh siapapun, tidak berbalas kemasyhuran, tidak ada lambaian tangan penghormatan atas kemenangan. Kehidupan, kemalangan, keterasingan, penolakan, kemiskinan, adalah medan perang yang memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri. Para pahlawan yang tak dikenal ini kadang justru lebih hebat daripada para pahlawan yang termasyhur.”

Medan pertempuran yang paling besar adalah medan pertempuran yang ada di dalam batin tiap manusia. Perang yang paling hebat adalah gejolak batin dalam diri, ia tidak dapat dibantu oleh siapapun, kalah atau menang, yang kalah dan yang menang bukan siapa-siapa melainkan juga dirinya sendiri. How complicated is it.!

Let’s go on, dear.!

Semoga Dia senantiasa memudahkan setiap langkah hidupmu… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s