Catatan

20 Juta


Betapa bangganya hati saya pagi ini, ketika mendengar perbincangan bapak-ibu dan tetangga kami. Diam-diam bapak-ibu saya mengalami perkembangan yang luar biasa sekali.

“Eh, Nur, kowe wis dilobi kanca-kanca durung ?” Dari dalam kami dengar suara tetangga kami pagi itu, yang dengan penuh semangat bertanya sambil berjalan dari halaman masuk ke rumah kami. Rumah kami memang tidak pernah tertutup pintunya sehingga selalu terlihat welcome. Dan lewat pintu manapun bisa, tetangga dan kerabat kami yang telah akrab kadang masuk saja lewat pintu belakang, pintu depan, hingga tak jarang kami tiba-tiba telah mendapati mereka di ruang tamu tanpa tahu kapan datangnya. Omah iki pancen keno nggo bludusan, kata ibu saya kadang.

“Lha ono opo ?”, tanya bapak saya ketika sang tetangga kami itu sudah duduk di kursi. “Rapat nang bale desa sesuk kuwi lho, ki arep do kepiye ? Dibulatke dhisik.”

Sebagai orang Jawa yang tidak lagi terlalu Jawa, mentranskripsikan pembicaraan berbahasa Jawa berat rasanya. Dan barangkali berat pula untuk para pembaca. Maka, percakapan di bawah ini sudah saya alih kodekan dalam bahasa Indonesia.

“Ini lho, pemerintah itu kan rencananya besok mau ngasih bantuan untuk usaha bersama. Yang undangan rapat ke balai desa besok itu. Dananya disiapkan 20 juta, untuk satu kelompok. Satu kelompok 10 orang. Lha itu kita mau buat usaha bersama apa?”

Bapak saya diam seolah menunggu kelanjutan perkataan tetangga saya.

“Kalau kemarin itu, aku, Manto, sama beberapa orang itu ngomong-ngomong mau buat beli diesel,” lanjut tetangga saya. “Nanti dieselnya disewakan, atau nanti buat usaha ngelas. Lalu usulnya pak Dukuh sisanya buat ternak lele.”

“Kalau menurut analisa saya, -wah, bapak saya pakai menganalisis segala, keren tenan- kalau modelnya seperti itu tidak akan ada hasilnya. Lha uang cuma 20 juta kok mau dipecah-pecah. Sewa diesel, pengelasan, ternak lele. Buat beli diesel saja sudah berapa. Lalu yang mau ngelas siapa. Kalau sisanya mau buat ternak lele yo belum ada apa-apanya. Kalau mau itu ya uang segitu itu buat usaha satu saja, semuanya. Ternak lele semua, itu malah ada hasilnya. Lha itu buat usaha bersama maksudnya harus usahanya dikelola bareng-bareng atau uangnya dibagi-bagi buat usaha sendiri ?”

“Ya buat usaha bareng-bareng, wong namanya saja usaha bersama.”

“Wah, susah itu. Lha kalau orang yang belum punya kerjaan bisa-bisa saja, ubyang-ubyung kerja bersama. Tapi kalau sudah punya kerjaan sendiri-sendiri lalu disuruh usaha bersama susah.

Demikianlah pembicaraan itu terus berlanjut. Tampaknya pembicaraan bapak dan sang tetangga tidak menjumpai titik temu.

Hingga akhirnya tetangga kami pamit pulang. “Yo wis, dipending sik. Mengko dirembug bareng karo kanca-kanca.”

Selepas itu ayah saya ke belakang membantu ibu saya yang tengah mencuci piring sambil ngrembug pembicaraan yang baru saja terjadi. Kadang-kadang saya pikir, kedua orang tua saya demokratis, egaliter, dan… Ya sebangsa itulah.

“Gek ngopo kae mau isuk-isuk ?”

“Rapat sesuk nang bale desa. Jarene arep entuk bantuan 20 juta kanggo usaha bersama.”

“Usaha bersama?”

“Iya, usaha bersama. Sak kelompok 10 orang. Kae mau ono sik usul tuku diesel, ngelas, ternak lele, wis werno-werno.”

“Wah, nek kelompok koyo ngono kuwi durung mesti dadi. Kelompok ibu-ibu wis pengalaman nek model bantuan-bantuan koyo ngono kuwi.”

“ Lha iyo, wong bantuan pemerintah ki saiki ora tepat sasaran kok. Nek le mikir kenceng kabeh ngene iki mung nggawe ribut wong ngisor.”

Bapak-ibu saya, sebagai wong cilik yang kerap diajak ubyang-ubyung kesana kemari mengurusi aneka macam program pemerintah tingkat desa, sudah sangat familiar dengan model-model bantuan semacam itu. Dalam seminggu, intensitas rapat ibu saya rata-rata 2-3 kali. Rapat di balai desa untuk program ini dan itu, rapat kelompok wanita “Ceria”, rapat kelompok wanita tani (biarpun senyatanya keluarga saya bukan tani), rapat kelompok perajin didikan IOM, dan sebagainya, dan sebagainya. Tampaknya rakyat kita memang gemar berorganisasi.

Dan saya, sebagai orang yang menjadi saksi mata proses ubyang-ubyung mereka, kadang pun berpikir bahwa program pemerintah memang seringkali kurang perhitungan. Misalnya, bantuan uang! Itu paling sering membuat kisruhnya rakyat. Satu sama lain saling iri hati. Mendadak orang kaya pun merasa miskin dan patut disantuni. Bantuan yang berupa modal usaha pun harus dipertimbangkan baik-baik. Kalau usaha bersama gaya begini, lebih baik saya kira ditentukan dari sana usaha apa yang harus dilakukan. Lihat masyarakatnya, kecenderungan ekonominya, mata pencahariannya, lalu rumuskan untuk mereka, jangan biarkan mereka sendiri yang berdebat tak kunjung habis akan usaha apa yang harus mereka kerjakan. Saya kira maksud para petinggi membuat usaha bersama adalah untuk mewujudkan kemandirian sosial dan finansial masyarakat secara bersama-sama, bukan saja kemapanan individu, jadi semacam community development mungkin begitu ? Sangat baik saya kira, tapi operasionalnya juga lebih sulit. Mungkin lebih baik dan sederhana ya usaha sendiri-sendiri saja, dengan pengontrolan yang ketat tentunya.

Atau, terkadang terasa bahwa bantuan pemerintah sering kurang mempertimbangkan aspek sosiokultural masyarakat kita. Wis to, kalau ada bantuan kok berupa pelatihan manajerial, pelatihan administrasi, pelatihan keuangan, dan semacamnya itu, justru tidak banyak membekas. Barangkali rakyat kita memang belum sampai kesana taraf intelektualitasnya. Dan kalaupun pelatihan tersebut digaji, ya gajinya itulah yang utama mereka cari. Ilmu ? 80% saya kira, tidak masuk. Saya justru merasa kasihan dengan para penyelenggara dan pemberi dana. Serba susah memang. Tapi saya sangat percaya bahwa para intelektual-pemikir-penganalisis di atas sana pastilah orang-orang hebat yang tidak sembarangan. Mungkin titel mereka berentetan bermeter-meter panjangnya, paringan luar negeri pula.

Jadi, apa bentuk bantuan pemerintah yang cocok untuk rakyat kita ? Wah, itu saya juga kurang tahu. Pemberian bantuan jangan sampai merusak tatanan sosial dan mentalitas masyarakat, kata seorang dosen Isipol UGM dalam pembinaan KKN kemarin. Makanya, program harus berbasis pada kebutuhan masyarakat. Tapi yang lebih penting saya kira, bukan pemerintah itu memberi bantuan-bantuan semacam itu, bangsa kita bukan bangsa pengemis bukan ? Cukup berikan saja keamanan, ketertiban, stabilitas harga-harga bahan pangan, gratisnya biaya kesehatan dan pendidikan, birokrasi yang efektif, serta…perbaikan moral para pemimpin bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s