Catatan

Komet dan Kacamata


Ah, andai saja dia tahu bahwa dia seperti komet… Satu kali saya teringat pada sebuah fragmen percakapan antara Edward Cullen dan Isabella Swan dalam salah satu seri novel Twilight-nya Stephanie Meyer. Saya bukan si vampir Cullen, jadi harap maklum saja kalau kata-kata saya tidak sama persis, tapi intinya beginilah…

“Sebelum kau, Bella, hidupku memang gelap gulita. Tapi aku terbiasa melihat titik-titik cahaya kecil yang hadir dalam hidupku sebagai pelita. Lantas tiba-tiba kau melintas dalam hidupku seperti komet yang panjang dengan sergapan cahayanya yang menyilaukan. Hingga aku terbiasa dengan cahayamu yang gilang gemilang. Dan kini aku tak dapat lagi melihat titik-titik cahaya yang kecil itu.”

Tentu saja itu originally 90 % redaksi saya, hanya substansinya saja yang sama. Dan komet, bagi saya juga sama seperti kacamata. Dulu, sebelum memakai kacamata, lima tahun menjalani hidup sebagai manusia dengan mata minus buat saya everything is ok saja. Saya tetap bisa membaca, tetap bisa naik bus tanpa salah jalur, tetap bisa mengenali orang dari kejauhan, bahkan tetap bisa melihat bintang gemintng di langit tatkala malam. Kalaupun saya tidak bisa membaca tulisan ya paling tidak saya bisa minta orang sebelah saya untuk membacakan

Tapi, tidak demikian sejak saya mulai memakai kacamata. Kalau kacamata ini saya lepas, mendadak saya akan merasa sebagai orang yng tidak bisa melihat apa-apa. Saya bingung ketika mau membaca, tidak kenal orang kalau belum beradu muka, tidak tahu jalur bus yang benar, dan yang tak kalah menyedihkan, titik-titik cahaya kecil di langit ketika malam itu pun ikut kabur. Bukan lantaran minus saya bertambah setelah memakai kacamata saya kira, tapi karena setelah memakai kacamata, mata menjadi kurang peka.

Dalam ketiadaan, diri kita akan menyesuaikan, titik-titik kecil harapan pun kelihatan. Tapi ketika kita terbiasa sesaat saja dengan ke-ada-an, ketika yang ‘ada’ itu pergi, maka selepas itu yang ada hanya ketiadaan, titik-titik kecil tidak dapat lagi terlihat sebagai titik-titik kecil harapan. Persis seperti Edward Cullen yang kehilangan titik-titik cahaya kecil dalam hidupnya selepas komet. Mata yang sudah terbiasa dengan cahaya gemerlap, sulit ketika tiba-tiba kehilangan cahaya gemerlap itu. Mata yang sudah terbiasa dengan lampu 20 watt, tidak akan merasa terang ketika harus hidup dengan lampu minyak yang hidup mati dipermainkan angin. Sulit menyesuaikan diri berpindah dari yang ada menjadi yang tiada. Jauh lebih mudah bila sebaliknya. Tapi, ya begitulah adanya.

Maka, kalau ada orang bilang, “Dulu kamu juga bisa hidup tanpanya, dulu 19 tahun kamu hidup juga gak ada dia kan, sudahlah jangan seperti itu.” Saya pikir ia mesti mengenal filsafat komet dan kacamata dan lampu 20 watt dan lampu minyak tadi.

Pun saya, ketika merasa beberapa minggu terakhir hidup dalam ketiadaan komunikasi –kecuali komunikasi struktural-profesional-, rasanya seperti kehilangan kacamata. Apalagi saya bukan orang yang mengizinkan segala macam komet melintas di angkasa saya untuk membikin gemerlap. Saya hanya kenal satu komet. Saya juga hanya memakai satu kacamata. Meski dia bukan komet apalagi kacamata. Ah, dan malam ini, dalam rindu dendam saya mulai teringat nyanyian sang ibu pengamen di bus Jogja-Purwokerto yang melantun sendu penuh kerinduan nan panjang, yen ing tawang ono lintang, cah ayu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s